Home Ragam Drakor Lovers di Kalangan Blogger

Drakor Lovers di Kalangan Blogger

8 Menit Durasi Baca
14
0
8

Entah gimana awalnya, tiba-tiba grup Blogger Muslimah rame dengan obrolan tentang Drakor (Drama Korea). Obrolan seru-seru sedap itu berlangsung panjang, dan gak bisa diinterupsi. Konon, kata yang gak buka grup semalaman, obrolan itu sampe melewati angka 400 chat. Wow? Iya. Wow!

Drama Korea. Siapa yang gak kenal jenis drama satu ini? Sejak awal tayang di stasiun teve lokal, kira-kira belasan tahun lalu, drakor mulai punya penikmat sendiri. Mulai dari anak sekolah, mahmud (mamah muda), sampai oma-oma, semua ada “perwakilannya” di Drakor Lovers. Cara mereka menikmati pun beda-beda. Kalau generasi awal cukup puas dengan Drakor yang ditayangin di teve lokal, generasi kekinian berburu wifi buat ngunduh Drakor yang udah ada sub Indonesia.

Dan ternyata…. *eng ing eng dulu, dong!

Ternyata….

Teman-teman saya di grup Blogger Muslimah adalah penikmat Drakor sejak generasi awal! Wow lagi! Ya ampun…. Saya bener-bener gak nyangka ketemu penikmat drama Korea di grup itu. Berasa kayak ketemu orang Depok di Mekah! *Hahaha. Oke, ini lebay*

Kenapa sih, mereka bisa suka Drakor dan bertahan untuk waktu yang lama?

“Ceritanya bagus, musiknya oke, cowoknya ganteng-ganteng,” kata Mbak Fisra sambil berpikir. “Oh ya, settingnya bagus!”

Senada sama Mbak Fisra, Mbak Amy juga suka Drakor karena cowoknya yang ganteng-ganteng. “Dulu pas sebelum nikah (suka) karena cowoknya ganteng-ganteng, ngarep dapet pacar kayak begitu. Sekarang pas udah nikah, masih suka sama cowok-cowoknya, ngarep punya anak kayak cowok Korea. Ganteng.”

Tapi, Mbak Amy juga menambahkan, Drakor itu total kalau buat setting, jadi berasa real, meski alur ceritanya kadang drama banget. Episode tiap dramanya pun sudah ditentukan duluan, baru drama itu diproduksi. Alasan lainnya, karena pengambilan angle kamera di Drakor itu bagus. Jadi, yang sederhana juga kelihatan wah.

“Yang pasti karena jalan ceritanya menarik, pemerannya juga cakep-cakep, dan dramanya pasti tamat, hihihi,” komentar Mbak Ira.

Hahaha, I feel you, Mbak. Nonton drama tanpa kepastian tamat itu kayak di-PHP. Tukang Bubur aja baru tamat sekarang, setelah ribuan episode. Meski si Tukang Bubur entahlah di mana, tapi ceritanya tetap jalan. Terus aja dipanjangin, dan melenceng jauh dari judul. Mungkin kalau gak putus kontrak sama stasiun tevenya, masih panjang juga episodenya, dan ceritanya makin gak jelas. *jadi curcol, kan*

Kalau kata Mbak Liswanti, dari Drakor itu banyak banget manfaat yang bisa diambil, terutama cara mereka promosi pariwisata, membuat script yang bagus, proses shooting yang matang, editing yang bagus, hingga akting para aktor yang keren dan gak main-main.

Lalu, adakah di antara blogger yang suka Drakor karena gak sengaja?

“Mungkin karena dulu ‘dicekokin’ sama kakak perempuan nonton Stairway to Heaven,” kata Mbak Ade Delina, mengenang masa lalunya. “Jadi, itu pertama kalinya aku nonton. Terus pas Stairway to Heaven abis, langsung ada drama lagi. Lupa judulnya. Ya keterusan, deh. Semuanya nonton di Indosiar. Ada juga yg di SCTV. Tapi, drama terakhir yang kutonton BBF. Selanjutnya aku download atau minta temen.”

Meskipun sekarang sudah pensiun dari Drakor Lovers, Mbak Ade Delina sudah melintasi generasi Drakor Lovers. Dari yang awalnya nonton di teve, sampai akhirnya download. Keinginan nonton pasti masih ada. Tapi, Mbak Ade Delina pengen lebih memanfaatkan waktu buat anaknya. Mungkin kapan-kapan anaknya bisa dikenalin sama Drakor juga, Mbak. Hehehe…

Dan saya adalah newbie dibanding sejumlah blogger di atas. Saya baru mulai nonton Drakor tahun 2012. Drama pertama yang saya tonton judulnya Love Rain (Jan Geun Seuk & Yoona). Saya bukan tipe orang yang betah nonton karena cuma bisa fokus sebentar. Tapi, Drakor berhasil membalik kondisi itu. Saya tertarik, saya nonton, dan saya berhasil fokus.

Mau tahu apa yang bikin saya jadi kepincut Drakor dan berhasil fokus nontonnya? Cekidot!

  1. Ceritanya variatif banget

Kayaknya apapun bisa jadi bahan cerita mereka. Mereka punya cerita ala-ala Cinderella, juga cerita percintaan yang unyu-unyu dan romantis. Tapi, mereka juga punya drama tentang persaingan bisnis, penggusuran, terdakwa yang gak salah, pengemplang pajak, kepribadian ganda, sampai tentang Alien. Pun, mereka sering bikin drama tema kerajaan.

  1. Akting aktor dan aktrisnya keren dan natural

Aktor dan aktris yang asalnya dari boyband atau girlband pun aktingnya gak kalah keren sama yang memang aktor atau aktris. Gak heran, karena semasa training mereka juga sudah dipersiapkan jadi aktor atau aktris. Dan yang terpenting, selama nonton Drakor, saya belum pernah nemuin tokoh yang matanya mendelik-delik dan suaranya dibikin tinggi, cuma buat ngasih tahu kalau tokoh itu marah. Di Drakor, tanpa mendelik dan bersuara ‘toa’ pun ketahuan kalau tokohnya marah.

  1. Logis, semua ada alasannya

Pernah kan, lihat drama eh sinetron yang tokoh antagonisnya jahat kebangetan ke tokoh protagonis cuma gara-gara masalah sepele? Sepanjang episode, si antagonis terus saja dibikin jahat. Di Drakor, tokoh antagonis dibuat logis, dibuat jadi manusia normal. Ada part-part yang ngasih penjelasan, kenapa dia harus berbuat seperti itu. Semacam, kalau gak ada sebab itu, dia gak jahat. Biarpun sebel sama si antagonis, tapi penonton maklum dan bisa ngerti.

  1. Dinamika sepanjang dramanya keren

Misalnya saja, ada saat-saat tokoh antagonisnya dijahatin orang, dan penonton simpati sama dia. Jarang kan, ada yang kayak gini. Yang sudah-sudah, di sinetron, kalau antagonisnya ngalamin hal buruk, pasti disumpahin penonton. Ada konflik-konflik kecil yang muaranya di konflik utama, tapi bisa ngebentuk dinamika drama. Pengaturan emosinya itu tepat. Gak melulu yang ditampilin itu adu mulut, antagonis bersikap buruk ke protagonis, atau protagonis yang terus menerus disakiti.

  1. Penuh kejutan meskipun gak dadakan

Drakor sering banget bikin penonton nebak-nebak alur, dan ternyata hasilnya tak terduga. Tapi, sebenernya kejutan ini sudah disiapkan sejak awal. Penontonnya aja yang gak ngeh. Hehehe.

  1. Persiapan matang buat bikin drama

Inilah yang bikin Drakor jadi ciamik. Dari mulai cerita, tokoh, setting, pengambilan angle, dan pendukung-pendukung lainnya, semuanya sudah dikonsep matang sejak di awal. Cerita yang akan dibuat drama sudah ditentukan berapa episode, bukan dibikin episode awalnya doang, terus ke sananya tergantung respon publik. Konflik di Drakor sudah bisa dilihat dari awal dan berjalan rapi banget. Aktor dan aktrisnya juga punya cukup waktu buat mengeksplorasi dan banyak belajar tentang karakter yang akan mereka perankan. Meskipun menurut mereka karakter yang mereka perankan itu “gak gue banget”, tapi mereka berhasil bikin karakter mereka dan dramanya itu “nyatu” banget.

  1. Meskipun rating-nya bagus, tapi konsisten dengan jumlah episode

Kalau mereka sudah tentukan 16 episode, Drakor itu akan berakhir di episode 16. Belum pernah lihat juga ada Drakor yang dipanjang-panjangin karena rating. Kalau memang dramanya panjang, dari awal sudah di-set untuk jadi panjang. Jumlah episode ini sudah diumumkan dari awal. Jadi, penonton gak bertanya-tanya kapan dramanya akan selesai. Juga, penonton gak keburu bosen meskipun dramanya panjang, karena udah nyiapin diri buat sejumlah episode yang diumumkan produser dramanya.

  1. Pemerannya good looking semua

Ini mengaminkan pendapat teman-teman di atas, hehehe. Mereka bener banget, urusan yang satu ini memang gak mengecewakan. Gak aktor, gak aktris, semuanya enak dilihat. Bukankah ini perpaduan yang top markotop? Pemerannya keren, aktingnya oke, jalan cerita ciamik. Indah bangeeet.

Tapi, meskipun punya sejumlah keunggulan, drama-drama Korea juga mengundang pro dan kontra. Di negaranya, drama-drama itu gak akan jadi masalah. Tapi, orang-orang Indonesia sering menganggap itu masalah besar karena pemerannya pakai baju pendek-pendek, minum minuman keras, kissing, dugem, tinggal serumah dengan lawan jenis yang bukan mahrom dan semacam itu.

Satu hal yang lupa kita sadari, mereka bukan kita! Kita dan mereka punya budaya yang beda. Apa yang mereka tampilkan di drama, ya itulah mereka adanya. Budaya mereka memang kayak begitu, dan gak mungkin kita ubah sesuai standar ideal kita sebagai warga negara Indonesia dan penganut agama Islam. Toh, drama yang mereka bikin itu dimaksudkan memang buat penonton teve di sana.

So? Kalau kita bilang Drakor bahaya karena hal-hal yang sudah jadi budayanya mereka, tentu ini tidak beda dengan sinetron lokal yang pakaiannya gak kalah minim, ngajarin pacaran atau ngelawan ortu secara frontal, dan itu masuk ke setiap rumah yang ada tevenya? Terus, gimana sama film-film barat yang banyak juga adegan serupa, malah kadang lebih parah? Semua kembali ke sudut pandang masing-masing. Selalu ada sisi positif dan negatif yang perlu kita beri garis tegas, mana yang dijadikan pelajaran dan mana yang harus dibuang.

Penyebaran Drakor di Indonesia pun relatif terbatas. Mereka gak masuk ke ruang-ruang publik tiap rumah lewat teve yang bisa dilihat oleh siapapun. Mereka kebanyakan ada di ruang privat; di memori laptop atau HP, hasil unduhan. Kalaupun tayang di teve lokal, pasti sudah lewat mejanya lembaga sensor, yang artinya sudah tontonable. Sudah jauh relatif aman buat konsumsi publik Indonesia.

Terlepas dari semua kontroversi berlatar budaya itu, jumlah Drakor Lovers semakin menjamur. Terbukti, iklan di web unduhan benar-benar segambreng dan ngeselin. Cuma buat mengunduh satu episode saja butuh beberapa kali klik karena lebih sering masuk ke web yang dipromosikan. Tapi, meski ngeselin, selalu ada alasan buat balik lagi ke web itu. Mungkin ini namanya benci tapi rindu. *halah*

Setiap orang punya alasan buat suka Drakor, begitu juga blogger. Yang membedakan blogger dari Drakor Lovers yang lain adalah kecintaan mereka yang bermetamorfosa jadi inspirasi tulisan. Muslimah-muslimah di atas tadi cuma sebagian kecil blogger yang nulis tentang Drakor di blognya. Di luar sana masih banyak lagi. Bahkan mungkin mereka termasuk Drakor Lovers garis keras. Yang penting sebenarnya, menjadi penikmat atau pecinta Drakor gak harus membuat kita meniru gaya hidup mereka, karena gimanapun juga budaya kita beda dengan mereka.

Yuk,  nonton Drakor lagi! Dan ditunggu reviewnya di blog 😉

_____________________________

Kontributor: Ryecha (www.faraalfaza.blogspot.com)

 

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Surga Yang Tak Dirindukan (2)

    Meski gagal ikut gala premier karena pekerjaan yang tak bisa ditinggal, dan gagal pula non…
  • Wisata Halal Indonesia

    Gebrakan pemerintah, khususnya Kemenpar Indonesia, terkait wisata Indonesia cukup menggemb…
Muat Lainnya Ragam

14 Komentar

  1. Irawati Hamid

    16 Februari 2017 at 8:42 am

    setuju banget sama artikel ini (y)

    Balas

    • bloggermuslimah

      16 Februari 2017 at 8:44 am

      Terimakasih Irawati atas kunjungannya 🙂

      Balas

  2. Ade Delina Putri

    16 Februari 2017 at 9:18 am

    Ah bener banget. Budaya mereka ya emang beda dengan kita. Jadi ga bisa ‘diprotes’ juga. Apalagi nyuruh mereka buat nyamain sama budaya kita yang pake baju sopan misalnya 😀

    Balas

    • bloggermuslimah

      16 Februari 2017 at 9:29 am

      Hehe, penyaringnya tetap di diri kita masing-masing ya Ade.

      Balas

  3. Ummi Nadliroh

    16 Februari 2017 at 4:19 pm

    Aku suka ceritanya drakor, tapi lebih sering baca sinopsisnya daripada nonton. 😂 Suka karena ceritanya masuk akal dan tidak bertele-tele. Tentang budaya yang berbeda, memang kita sendiri yang harus saring ya…

    Balas

    • bloggermuslimah

      16 Februari 2017 at 4:41 pm

      Iya, alurnya jelas ya. Sinetron kita seharusnya belajar dari hal-hal positif drakor ini.

      Balas

  4. Nurin Ainistikmalia

    16 Februari 2017 at 9:39 pm

    Udah lama gak nonton tv dan film. Sesekali kalau kangen, nonton bioskop 😀😄

    Balas

    • bloggermuslimah

      16 Februari 2017 at 11:50 pm

      Hehehe…tapi film Korea agak jarang tayang di bioskop.

      Balas

  5. Munasyaroh Fadhilah

    17 Februari 2017 at 2:29 am

    Drakor sekarang memang jadi idola, sayangnya saya sendiri uda jarang nonton Tv jadinya gak tau perkembangan terbaru

    Balas

    • bloggermuslimah

      17 Februari 2017 at 2:33 am

      Drakor memang punya pasar sendiri yang terbilang fanatik.

      Balas

  6. Arina Mabruroh

    20 Februari 2017 at 8:00 am

    Adikku nih yang drakor lover abis.
    Kalau saya sering malas karena kalau nonton selalu penasaran, sampai ga bs tidur kalo blm nonton. Hehe.

    Setuju banget, drakor kisahnya variatif dan settingnya total

    Balas

    • bloggermuslimah

      21 Februari 2017 at 3:19 am

      Hehehe kalau sudah penasaran memang jadi kepikiran dan itu yang bikin hidup jadi gagal fokus 😀

      Balas

  7. Siti Syamsiah

    17 Maret 2017 at 7:11 am

    Aku juga salah satu *korban* dari Drakor yang susah moveon kalo udah nonton hihihihihi

    Salam kenal dari Siti Syamsiah, Gadis hujan dari Kota Hujan 😀

    Balas

    • bloggermuslimah

      17 Maret 2017 at 7:31 am

      Salam kenal Siti, semoga lekas move on yaaa hehe

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…