Surga Yang Tak Dirindukan (2)

Meski gagal ikut gala premier karena pekerjaan yang tak bisa ditinggal, dan gagal pula nonton di hari pertama  karena alasan yang sama, akhirnya kemaren bisa juga nonton film Surga Yang Tak Dirindukan (2) di XXI Cipinang Indah.

Film layar lebar yang diangkat dari novel penulis fenomenal Asma Nadia ini memang cukup menyita perhatian karena jumlah penonton di hari-hari pertama cukup membludak. Berbeda dengan Surga Yang Tak Dirindukan (1) yang mengundang kontroversi, maka sequel kedua ini melenggang mulus ke tengah masyarakat tanpa perdebatan panjang lebar seperti sebelumnya.

Film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini memilih setting luar negeri yaitu kota Budapest, Hongaria. Para pemain yang sudah tak asing lagi ikut mendukung film ini, seperti Laudya Cynthia Bella, Fedi Nuril dan Raline Syah. Kehadiran Reza Rahadian di film sequel kedua ini sepertinya menjadi nilai tambah yang membuat masyarakat ingin menonton.

Seperti yang sudah diketahui, di film Surga Yang Tak Dirindukan (1) Meirose adalah sosok yang hadir dalam kehidupan rumah tangga Arini dan Pras. Sosok yang pada akhirnya memilih pergi karena dia berpikir mustahil ia akan bahagia di atas penderitaan perempuan lagi karena sejatinya tak ada perempuan yang benar-benar ikhlas dimadu. Meirose pun pergi bersama buah hatinya.

Nah di film sequel 2 ini, Arini kembali dipertemukan dengan Meirose di Budapest, saat Arini menghadiri undangan peluncuran bukunya di sana bersama putrinya. Pertemuan kedua ini membuat Arini makin kenal siapa Meirose. Perempuan yang sebenarnya belum diceraikan oleh Pras itu sudah banyak berubah, ia kini sudah terlihat tegar, stabil dan mandiri.

Di film Surga Yang Tak Dirindukan (2) inilah Arini kembali sukses memainkan emosi penonton. Penyakit kanker stadium empat yang dideritanya adalah awal kemelut baru yang harus dihadapinya. Umurnya diperkirakan tidak panjang lagi, sementara anaknya masih kecil dan membutuhkan sosok seorang ibu. Hal ini membuat Arini berpikir bahwa Meirose harus kembali pada Pras. Anak-anak mereka pun sudah sangat akrab dan Meirose juga belum resmi bercerai dari Pras, meskipun pada saat itu baik Pras maupun Meirose sudah sama-sama menyiapkan surat gugatan cerai.

Yang lebih mengaduk emosi adalah akting pemeran cilik Sandrina Michelle yang berperan sebagai Nadia, putrinya Arini. Gadis 9 tahun ini menjadi salah satu pemeran kunci di film ini. Penonton termehek-mehek melihat bagaimana ia berusaha melawan kesedihannya saat menguping pembicaraan dokter bahwa bundanya mengidap penyakit parah. Arini berusaha menyembunyikan penyakitnya karena tak ingin membuat sedih suami dan putrinya.

Nadia yang sudah tahu penyakit ibunya, berusaha mewujudkan apapun keinginan bundanya, termasuk mendekati dan membujuk Meirose agar mau kembali ke Indonesia bersama putranya, Akbar. Tentunya dengan caranya yang juga kanak-kanak. Namun ini berhasil membuat penonton meneteskan air mata berkali-kali.

Dr. Syarief yang diperankan oleh Reza Rahadian merupakan sosok yang akan menjadi pendamping Meirose. Saya sebagai penonton sudah ‘merestui’ banget kalau Meirose dan dr. Syarief menikah. Dr. Syarief juga merupakan dokter ahli kanker yang merawat Arini selama di Budapest. Sebelumnya mereka sudah bertemu juga di peluncuran buku Arini dan dr. Syarief sempat mengajak Arini untuk membacakan bukunya di depan pasien-pasien cilik penderita kanker.

Film ini juga dimeriahkan oleh pemain-pemain pendukung yang tak kalah menyegarkan film ini dengan akting mereka yang kocak. Saya rasa keseruan film ini tidak bisa diceritakan lewat ulasan seperti ini, kamu harus nonton sendiri agar bisa merasakannya. Juga agar tahu endingnya tentu saja hehe…

Trus apa dong kekurangan film ini? Masa semuanya bagus? Ya, pasti ada saja kekurangan dari sebuah film. Bisa jadi ini subjektifitas saya aja, tapi penggunaan istilah ‘onta’ oleh pemeran pendukung di film ini saat memanggil temannya yang keturunan Arab, terasa agak mengganggu saya. Istilah itu mengingatkan saya pada pelecehan etnis Arab oleh orang-orang yang anti Arab di negeri ini. Memang sih, konteksnya bercanda tapi buat saya itu agak mengganjal, makanya saya bilang mungkin ini subjektifitas saya sebagai penonton.

Selebihnya, silakan tonton sendiri film yang bagus ini, karena kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mendukung produksi film-film bagus 🙂

Selamat baper, eh selamat menonton!

________________________

Kontributor: Novia Syahidah Rais (www.tintaperak.com)

 

Post Author: bloggermuslimah

4 thoughts on “Surga Yang Tak Dirindukan (2)

    Abby Onety

    (Februari 20, 2017 - 4:09 am)

    Duh… harus nonton nih kayaknya 😊 penasaran euy

      bloggermuslimah

      (Februari 20, 2017 - 4:53 am)

      Ayo buruan nonton, mumpung masih hangat di pasaran hehe…

    Arina Mabruroh

    (Februari 20, 2017 - 8:07 am)

    Sempat baca sedikit review teman yang bilang ada sebagian settingnya yang ‘merusak’ hehe.
    Tapi saya nggak nonton sih karena nggak daoat izin 😢

      bloggermuslimah

      (Februari 21, 2017 - 3:18 am)

      Maksudnya merusak seperti apa Arina?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *