Home Sosok  Bilal bin Rabah, Sahabat Yang Mendahului Rasulullah di Surga

 Bilal bin Rabah, Sahabat Yang Mendahului Rasulullah di Surga

3 Menit Durasi Baca
0
0
45

Bilal bin Rabah adalah seorang budak yang kuat, amanah, tidak pernah mengeluh. Ia menjadi rebutan di kalangan majikan di Mekah. Ia juga dicintai oleh para tuan dan rekannya sesama budak. Pada masa itu merupakan sebuah hal yang wajar para majikan menyiksa budaknya. Para budak diperlakukan secara zalim dan tidak bisa berbuat apa-apa sekali pun ditumpahkan darahnya.

Bilal menyaksikan kezaliman tersebut dengan hati gundah. Ia melihat kondisi Mekah yang sangat tidak sesuai dengan hati kecilnya. Sudah sejak lama Bilal mempertanyakan apa gunanya menyembah berhala, seperti yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah Mekah pada masa itu. hingga suatu hari ia mendengar kabar tentang Nabi Muhammad SAW. Bilal pun datang ke Darul Arqam untuk mengikuti kajian yang diisi oleh Nabi SAW.

Pada waktu itu Bilal mendengar Nabi menjelaskan tidak bolehnya menyembah berhala, tidak boleh membunuh sembarang orang, tidak boleh berzina, tidak boleh menyiksa budak. Mendengar hal itu, Bilal merasa apa yang disampaikan Nabi sangat sesuai dengan apa yang ia rasakan selama ini. Ia pun memutuskan untuk masuk Islam.

Umayyah bin Khalaf, majikan Bilal, sangat marah mendengar budaknya telah memeluk Islam. Sang majikan pun mulai menyiksa Bilal. Ia bahkan mengajak tuan lainnya untuk turut menyiksa Bilal. Bilal tidak gentar dengan siksaan yang datang bertubi-tubi. Ia tetap teguh pada Islam dan sabar menjalani siksaan. Selama penyiksaan Bilal kerap mengucap kata yang begitu dibenci oleh kaum Quraisy, “Ahad”.

Mereka mengikat kaki dan tangan Bilal dengan rantai, kemudian menariknya dengan kuat di padang pasir yang panas. Bilal tetap saja berucap “Ahad, ahad, ahad!”

Umayyah membujuk Bilal dengan janji akan membebaskannya dari siksaan bila ia mau berhenti mengucap kata itu.  Tapi Bilal tidak peduli akan hal itu, ia tetap saja menggumamkan, “Ahad, ahad, ahad!”

Siksaan Terberat Bilal

Umayyah tidak menyerah dalam menyiksa Bilal. Ia menyuruh orang untuk memanaskan batu besar dan meletakkannya di atas dada Bilal. Itulah siksaan terberat bagi Bilal, tapi  tentu saja siksaan itu tidak ada apa-apanya dibanding kenikmatan iman yang ia rasakan. Melihat siksaan yang bertubi-tubi pada Bilal, Abu Bakar datang pada Umayyah untuk membebaskan Bilal.

Abu Bakar membeli Bilal dari majikannya dan membebaskan Bilal untuk beribadah dan mendalami Islam sebebas-bebasnya.  Pasa saat Abu Bakar membeli Bilal, ayahnya berkata, “ Hai, Abu Bakar, mengapa kau bebaskan budak yang luka-luka. Ia tidak berguna”. Abu Bakar menjawab, “Saya tidak membebaskan budak untuk dipakai tenaganya, tapi karna Allah”. Sebelum memeluk Islam, Umar memanggil Bilal budak. Akan tetapi begitu Bilal masuk Islam, ia memanggilnya tuan. Umar berkata, “Abu Bakar adalah tuan kami dan pemimpin kami yang telah membebaskan tuan kami, Bilal”.

Bilal merupakan salah seorang sahabat yang mendahului Raasulullah di Surga. Tapi tentu saja tidak ada seorang pun yang bisa menandingi keutamaan beliau SAW. Hanya saja sebutan “mendahului Nabi di Surga” memang disebut sebagai kabar gembira bagi Bilal yang amalan ibadahnya menyaingi Rasulullah hingga ke Surga. Lalu amalan Bilal yang mana yang disebut mendahului Rasulullah?

“Nabi memanggil Bilal di depan para sahabat, ’wahai Bilal, apa yang kau lakukan sampai engkau mendahuluiku di surga?’ Bilal menjawab, “Ya Rassulullah, amalan yang saya lakukan adalah, saya tidak pernah azan kecuali saya salat 2 rakaat setelahnya. Kalau pun saya batal, saya akan berwudhu, lalu salat 2 rakaat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Bilal melakukan hal itu padahal Nabi SAW tidak menganjurkannya. Namun, itu bukanlah sesuatu yang dilarang atau bid’ah, karena Nabi masih hidup dan beliau tidak melarangnya. Itulah amalan yang menyebabkan Bilal mendahului Nabi SAW di Surga. Berbeda dengan orang muslim pada umumnya yang sangat merindukan Surga, Bilal justru dirindukan oleh Surga.

Nabi bersabda, “Sungguh Surga merindukan 3 orang; Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir dan Bilal bin Rabah. Semuanya hanya karna keimanan kepada Allah SWT”.

Asal Mula Panggilan Azan

Sebelum kalimat-kalimat azan yang dikumandangkan seperti sekarang ini, ada beberapa usulan yang diajukan untuk memanggil umat Islam pada waktu salat tiba. Ada yang mengusulkan menggunakan lonceng seperti orang Nasrani, ada yang berpendapat menggunakan terompet seperti orang Yahudi. Tapi Rasulullah tidak menyukai hal itu.

Hingga suatu hari Abdullah bin Zaid bin Sa’labah bermimpi ingin membeli lonceng dari seseorang, tapi orang tersebut justru memberitahukan pengganti terbaik untuk memanggil umat Islam salat, yaitu dengan kalimat:

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Asyhadu allaailaaha illallah 2x

Asyhadu anna muhammadar rasuulullah 2x

Hayya alasholah 2x, hayya ‘alalfalah 2x

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Laa ilaaha illallah

Rupanya Umar bin Khaththab pun memimpikan hal yang sama. Akhirnya Rasulullah memilih seorang yang bersuara lantang dan bagus, yakni Bilal bin Rabah.

Kontributor : Nia Hanie 

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Istri Para Syuhada

    Kisah Cinta Atikah binti Zaid dan Abdullah bin Abu Bakar Adalah anugrah terindah bila kita…
  • Kisah Ammar Yang Inspiratif

    Banyak broadcast beredar di gadget kita setiap harinya, dan salah satu broadcast yang sang…
Muat Lainnya Sosok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Milad 3rd Blogger Muslimah; Muslimah di Era Digital

Alhamdulillah, acara Milad 3rd Blogger Muslimah sudah selesai digelar dengan lancar pada t…