Kisah Ammar Yang Inspiratif

Banyak broadcast beredar di gadget kita setiap harinya, dan salah satu broadcast yang sangat menyentuh masuk ke ponsel saya. Coba simak dengan baik-baik ya…

______________________________________________________

Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.

Aku mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .

Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal .
“Oh kamu tidak tahu?” jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India.
“Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.”
Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong, dan nekat pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan, maka Ammar bisa bebas mencari kerja di sini asal punya pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah-pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersama teman-temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat, bulan ketiga hingga tahun-tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah-pindah di kota ini.

Bekerja di bawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi Ammar tetap bertahan dalam kesabaran. Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, di hutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah-buahan, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia, hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Di hampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Di sini hanya terlihat kurma-kurma yang berbuah satu kali dalam setahun.

Ammar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di sana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya di sini. Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.

Tapi Ammar pun manusia. Di tahun kelima ini ia tidak kuat lagi menahan malu dengan teman-temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah-pindah kerja dan numpang di teman-temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya telah bulat untuk kembali berkumpul dengan keluarganya di Sudan.

Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas untuk tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman-teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk membeli tiket ke Sudan.

Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman-temannya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Saat itu tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah di tangan dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.

Adzan dzuhur bergema, semua toko-toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.

Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat dua rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah. Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan di tiap menit yang ia lalui.

Shalat telah selesai. Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi.
Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar-pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan ashar tiba menyapanya, selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal di sana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya, seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa-jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas, hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah di sana. Adzan yang juga ia kumandangkan di setiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.

Di tiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau dua jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju Bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Ammar sudah duduk di ruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sedikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras. Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.

Tiba-tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa-basi, mereka hanya berkata, “Prince memanggilmu.”

Ammar semakin bingung, ada apa Prince memanggilnya? Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan) mereka tersebar hingga ratusan di seluruh Jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.

Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi. Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang ke negerinya, dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar.

Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun ia bekerja di kota Riyadh tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.

Prince mengangguk-angguk dan bertanya, “Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan-bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi, “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini. “Alhamdulilah, SR 1.400,” jawab Ammar.

Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan lima tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp.184.800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.

Tubuh Ammar gemetar melihat keajaiban di hadapannya. Belum selesai bibir mengucapkan hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata, “Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di istana ini.“

Ammar tak dapat menahan air matanya, ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh-sungguh memperhatikan hamba-Nya. Kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah. Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar.

Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.

Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh. Saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik di dunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh. Subhanallah, seperti itulah buah dari kesabaran.

Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran, karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak di dekat pintu syurga dalam naungan keridhaan-Nya. (NAI)

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (Al Fushilat 35)

Allahu akbar!

Kontributor: Novia Syahidah (www.bloggermuslimah.id)

Post Author: bloggermuslimah

17 thoughts on “Kisah Ammar Yang Inspiratif

    Anggarani Ahliah Citra

    (Maret 27, 2017 - 4:41 am)

    Kisah ini merupakan salah satu contoh Allah membalas cinta seorang hamba-Nya.

    kania

    (Maret 27, 2017 - 6:08 am)

    jadi yang banyak dikatakan orang sekarang sabar ada batasnya itu tidak betul ya, karena Allah SWT sendiri sudah menjanjikan ‘hadiah’ bagi mereka yang bersabar 🙂

    Julia Amrih

    (Maret 27, 2017 - 7:07 am)

    Subhanallah, bersama kesabaran selalu ada kemenangan ya. Sayangnya kadang kalau sabar kita diuji, kita terutama saya sering lupa janji Allah pada mereka yg sabar, apalagi pas menghadapi anak,.. T_T
    Semoga setelah ini bisa lebih sabar lagi. 🙂

    Novia Syahidah

    (Maret 27, 2017 - 7:36 am)

    Ya, kisah ini membuat mata berkaca-kaca. Betapa kesabaran dan keikhlasan kita belum ada apa-apanya. Kita mudah putus asa ketika yang kita harapkan gak kunjung terwujud, bahkan kadang muncul su’uzon sama Allah. Astaghfirullah.

    Hidayah Qudus

    (Maret 28, 2017 - 2:37 am)

    Subhanallah…
    Rasanya malu sekali dengan sosok Ammar yg bisa ikhlas dan yakin akan takdirNya. Serasa disentil baca tulisan mbk Novia.. 😔

    Munasyaroh Fadhilah

    (Maret 28, 2017 - 5:08 am)

    Subhanallah….. Ceritanya begitu mengharukan. Awalnya saya kira ini adalah cerita AMMAR zaman Rasulullah yang merupakan Assabiqunal Awwalun, tidak tahunya cerita nyata zaman sekarang

    Nurin Ainistikmalia

    (Maret 28, 2017 - 10:38 am)

    Terharu sekali membaca ini. Saya baca pelan-pelan dan runut, inshaallah ada jalan ya untuk setiap kesulitan. ☺. Terimakasih untuk berbagi kisah ini.

    Helena

    (Maret 29, 2017 - 9:33 pm)

    Subhanallah, pertolongan Allah itu selalu ada di saat tak terduga. Makasih sharingnya, Mbak.

    damarojat

    (Maret 31, 2017 - 2:07 am)

    masya Alloh…

    walau sedikit bisa menebak akhir ceritanya; tapi tetap saja terharu…

    semoga kita termasuk orang-orang yang sabar. aaamiiin.

    nurhayati hayfa soetardjo

    (April 2, 2017 - 2:54 pm)

    Subhanallah. Allah selalu bersama orang-orang yang sabar

    Rahmah

    (April 3, 2017 - 1:09 pm)

    duh..jadi ‘tertampar’ dgn kisah ini.masih harus berlatih dgn kesabaran 🙁

    eva arlini

    (April 13, 2017 - 10:31 am)

    Batas kesabaran itu terletak di dekat pintu syurga dalam naungan keridhaan-Nya… manis

      bloggermuslimah

      (Agustus 29, 2017 - 8:55 am)

      Iya betul Eva, sabar selalu berbuah manis.

    annisa hijrat

    (Juni 8, 2017 - 7:19 pm)

    Subhanallah.. mengispirasi sekali tulisannya. Semoga saya bisa mengambil manfaatnya.. aamiin

      bloggermuslimah

      (Agustus 29, 2017 - 8:55 am)

      Aamiinn, alhamdulillah jika bermanfaat.

    Ida Rahmanto

    (Juni 10, 2017 - 1:32 pm)

    Benar-benar Mak Jleb, Subhanallah. Kadang sebenarnya kita diminta untuk sedikit bersabar, hanya saja definisi sedikit bagi kita dan bagi Allah beda.

      bloggermuslimah

      (Agustus 29, 2017 - 8:54 am)

      Betul, sabar memang gak ada ruginya dan memang gak berbatas….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *