Home Literasi & Blogging Purple Eyes [Resensi]

Purple Eyes [Resensi]

3 Menit Durasi Baca
2
0
3

Judul                           : Purple Eyes

Penulis                         : Prisca Primasari

Penerbit                       : Inari, Mei 2016

Tebal                           : 142 halaman

Love at a first  sight tidak hanya terjadi pada muda mudi yang sedang jatuh cnta, tapi juga terjadi antara saya dengan buku ini. Yup! Kamu gak salah baca kok. Saya jatuh cinta pada buku ini sejak pandangan pertama. Apa yang membuat saya jatuh cinta? Tentu saja pada cover-nya yang berwarna ungu, hehe. Pertama kali lihat buku ini mata saya berbinar, dan saya bergumam “saya harus punya buku itu”.

Purple Eyes karya Prisca Primasari, berkisah tentang seorang pemuda bermata biru mendekati ungu, Ivarr, yang kehilangan rasa atau ekspresi sejak kematian adiknya yang tragis. Nikolai, sang  adik, mati terbunuh oleh seoang pembunuh berantai yang mengincar korban yang sedang berjalan sendirian di malam hari. Yang membuat pembunuhan itu semakin tragis adalah si pembunuh mengoleksi lever korban-korbannya.

Novel ini bukan novel horror atau misteri pembunuhan, tapi saya menyebutnya novel misteri romantis. Kisah romantis terjalin antara Solveig- seorang gadis yang telah meninggal pada tahun 1895- dengan Ivarr yang masih hidup di zaman ini. Solveig turun ke bumi sebagai asisten dari Halstein, dewa kematian, untuk menghidupkan kembali rasa atau ekspresi pada Ivarr yang hilang sejak kematian adiknya.

Tentu saja Ivarr tidak mengetahui identitas Solveig dan Halstein yang sebenarnya. Ivarr hanya merasa bahwa Solveig adalah gadis aneh dan misterius. Solveig dan Halstein mengaku datang dari Inggris mengunjungi Ivarr di Norwegia dengan alasan ingin memesan boneka troll buatan Ivarr, yang akan dijadikan souvenir pada sebuah acara di Inggris. Ivarr tidak menaruh curiga dengan kedatangan mereka berdua. Selama proses pembuatan boneka troll, Solveig dan Ivarr sering melakukan pertemuan atas perintah Halstein.

Awalnya Solveig tidak suka sering-sering bertemu Ivarr, karena ia merasa Ivarr pemuda yang dingin yang tidak memiliki rasa. Hanya diam, datar tanpa ekspresi di wajahnya. Namun dengan intensitas pertemuan mereka yang semakin sering, tumbuh kenyamanan yang dirasakan Ivarr juga Solveig. Meskipun banyak hal aneh pada diri Solveig, Ivarr tidak ambil pusing. Salah satu keanehan yang cukup kentara, yaitu ketika Ivarr membicarakan tentang cerita sihir yang sangat terkenal di Inggris. Tentang seorang anak penyihir yang memiliki anda petir di dahinya. Namun, tentu saja Solveig tidak tahu menahu soal cerita sihir itu. Karena ia hidup berabad-abad yang lalu.

Solveig sangat menyukai mata Ivarr yang berwarna biru mendekati ungu, hingga ia menulis puisi dengan judul Purple Eyes. Karakter Solveig dalam novel ini digambarkan sebagai seorang gadis yang suka membaca dan menulis. Ia menuliskan apa yang ia rasa dan alami dalam buku catatannya. Suatu hari, tak sengaja Ivarr menemukan buku catatan Solveig dan membaca isinya. Ivarr tahu bahwa puisi “Purple Eyes” ditulis untuknya. Ia terus membaca buku itu sampai menemukan sebuah rahasia yang tertulis di salah satu lembarannya.

Selain ide cerita yang kreatif, setting lokasi dalam novel ini juga sangat menarik. Berlatar lokasi di sebuah kota di Norwegia, penulis begitu lihai menggambarkan detil kota sehingga sangat pas dengan ide ceritanya. Gambaran kota Trondheim yang dingin bersalju, sepi dan misterius sangat cocok dengann karakter tokoh-tokohnya. Tokoh yang ditampilkan tidak banyak, sehingga konsentrasi pembaca tidak pecah oleh banyaknya karakter.

Membaca novel ini tidak butuh waktu lama. Dengan jumlah halaman tidak sampai 150 halaman, pembaca dapat menuntaskannya dalam waktu singkat. Apalagi bagi penikmat novel yang hanya sekali duduk saja dapat menyelesaikan novel yang bahkan lebih tebal.

Satu pesan yang saya tangkap dari novel ini yaitu ketika Solveig dan Halstein berhasil mengembalikan rasa pada Ivarr. Namun rasa yang muncul itu adalah kebencian yang ditujukan kepada pembunuh Nikolai. Saat itu kebencian mulai menguasai Ivarr dan ia memiliki kesempatan untuk membalas dendam atas kematian adiknya. Tapi apa yang terjadi? Ivarr bukannya membalaskan dendam adiknya, ia malah pergi meninggalkan si pembunuh itu bersama rasa bencinya. Ivarr berhasil meruntuhkan kebencian yang hinggap di dirinya.

Sekuat apa pun rasa tidak suka kita pada seseorang, memaafkan adalah lebih baik. Karena kebencian yang dipelihara hanya akan membuat diri sengsara.

“Membenci itu  sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih” (hlm. 117)

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
Muat Lainnya Literasi & Blogging

2 Komentar

  1. Rina Darma

    2 Agustus 2017 at 9:51 am

    Wah bukunya Mbak Prisma ya…pasti keren. Penasaran….

    Balas

    • bloggermuslimah

      29 Agustus 2017 at 8:52 am

      Iya, Rina, memang keren 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Milad 3rd Blogger Muslimah; Muslimah di Era Digital

Alhamdulillah, acara Milad 3rd Blogger Muslimah sudah selesai digelar dengan lancar pada t…