5 Tips Jadi Jomblo Sukses

Hai para jomblo, apa kabar Ramadhanmu? Mari kita sama-sama berevaluasi sedikit setelah melewati sepuluh hari pertama ini. Sudah berkualitaskah Ramadhan yang telah kita lewati?  Atau jangan-jangan pada nelangsa bin galau ngejalanin ibadah di bulan mulia ini karena “terpaksa” masih sendiri?  Hehe….

Yang masih di bawah umur sih pastinya nggak ada masalah ya?  Beda nih sama para jomblowan-jomblowati yang udah masuk usia menikah.  Uhuk!  Bawaannya sensi aja kalo mulai ada pemandangan yang bikin baper.  Ngeliat temen yang udah nikah, mulai deh ngebatin, wah, sahurnya mereka berdua!  Ya iyalah, kan udah nikah!  Belum lagi pas ngabuburit dan menyaksikan pemandangan dimana mereka jalan gandengan berdua!  Aihhh…keromantisan mereka bikin ngiri tingkat dewa kan?  Jadilah rasanya, Ramadhan dan ngejomblo itu…pedih, Jenderal!!

Nah, dari pada berlarut-larut sama kepedihan yang menguras energi dan airmata itu, mending kita berusaha untuk makin mendekatkan diri pada Allah SWT.  Bukankah Ramadhan itu bulan Allah yang membawa berkah, rahmat dan maghfirah? Bulan paling mulia di sisi Allah sehingga hari-hari dan malamnya adalah keutamaan?  Jadi, jangan biarkan Ramadhan ini berlalu begitu saja.  Berikut 5 Tips Jadi Jomblo Sukses di bulan Ramadhan.

  1. Mengembalikan ihsannya amal shaum/puasa Ramadhan kita

Sebagai manusia, adakalanya amal kita terkontaminasi.  Entah itu niatnya maupun caranya.  Oleh karena itu, Ramadhan ini saatnya kita mengingat kembali firman Allah SWT dalam Qur’an Surah Al Mulk ayat 2 yang artinya, “…untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”.

Syaikh Fudlail bin Iyyadh, salah seorang guru Imam Syafi’i, menjelaskan bahwa amal yang baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar.  Ketika ditanyakan, “Wahai Abu Ali, apa maksud paling ikhlas dan paling benar?”, maka beliau menjawab, “Sesungguhnya suatu amal sekalipun benar tetapi bila tidak dikerjakan dengan ikhlas, maka amal tersebut tidak akan diterima.  Sebaliknya, jika dikerjakan dengan ikhlas namun tidak dengan cara yang benar maka amal tersebut juga tidak akan diterima.  Ikhlas hanya akan terwujud manakala amal itu diniatkan secara murni kepada Allah SWT, sedangkan amal yang benar hanya akan terwujud dengan mengikuti sunnah Nabi SAW”.

Jadi, saatnya kita mengevaluasi apakah amal kita sudah sesuai dengan sunnah Rasul-Nya?  Juga memurnikan niat ibadah semuanya lillahi ta’ala.  Bukan lillahi kamera apalagi lillahi si dia!  Hehe….

  1. Memperbanyak interaksi dengan Al Qur’an

Kita pastinya nggak akan lupa kan, bahwa Ramadhan adalah bulan Al Qur’an?  Jadi saatnya nih buat kita memperbanyak interaksi dengan Al Qur’an.  Kita bisa mengevalusi apakah bacaan Al Qur’an kita sudah sesuai target yang kita tetapkan di awal Ramadhan kemarin?  Jika belum, sekaranglah saatnya mengejar ketertinggalan!

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda (furqân) (antara haq dan batil)” (QS al-Baqarah [2]: 185).

Dan alangkah lebih baik jika kita tak hanya sekadar membaca namun juga merenungi ayat-ayat Allah tersebut sehingga terbentuk kedekatan hubungan kita sebagai hamba dengan Allah SWT.  Hamba yang rajin membaca Al Qur’an, tentu akan semakin mantap aqidahnya.  Sikap hidupnya pun akan semakin tegas dan istiqomah terutama saat berhadapan dengan ayat-ayat yang menjelaskan tentang akhirat, hari kiamat, hari bangkitnya manusia dari kubur lalu digiring ke padang mahsyar, penghisaban amal disertai balasan berupa surga dan neraka.

Bukankah kita tak pernah tahu, mana yang lebih dulu kita temui:  jodoh atau maut?  Jadi daripada galau melulu, mending merapat pada Al Qur’an.  Apalagi di sana ada juga lho…tuntutan Allah SWT tentang cinta dan mencintai, yang pastinya bakal jadi obat anti galau!

  1. Mendatangi majelis ilmu aka pengajian

Meskipun saat ini sedang gonjang-ganjing ketakutan terhadap isu pengajian radikal atau ekstrimis, tapi kamu nggak perlu ikutan ya!  Istilah radikal atau ekstrimis itu sebenarnya cuma istilah yang diciptakan oleh barat untuk memecah belah kaum muslimin.  Ingat dong, politik adu dombanya Belanda dulu?  Nah, kita nih sekarang juga ngalamin hal yang sama.  Kaum muslimin diberi label tradisional, ekstrimis, fundamentalis dan radikal di satu sisi untuk dibenturkan dengan kalangan muslim, yang katanya sih moderat. Nah, hati-hati ini!  Jangan sampai malah kita termakan umpan mereka lalu menjauhi majelis ilmu.  Bahaya kan tuh?

Bulan ramadhan, saatnya nih kita meninggikan semangat menuntut ilmu.  Terutama ilmu fiqih yang berkaitan dengan ibadah kita di bulan Ramadhan.  Mari kita cari tahu bersama, bagaimana puasa bagi orang yang sedang dalam perjalanan, hamil dan menyusui? Bagaimana cara menqadla puasa?  Bagaimana membayar kafarat dengan puasa ataupun fidyah?  Bagaimana puasa orang yang masuk Subuh dalam keadaan junub dll?  Eits, meskipun jomblo, itu bukan alasan buat kita untuk tidak mencari tahu apa hukumnya!

Bukankah menuntut ilmu agama itu fardhu ‘ain?  Lagipula, dalam aktivitas menuntut ilmu inilah kita jadi memahami tuntutan amal yang sesuai sunnah Rasul SAW.  Jadi jika di sepuluh hari awal ini belum getol berangkat pengajian, jangan ditunda lagi!  Segera cari jadwal majelis-majelis ilmu di kotamu dan catat semua materinya dalam kepala.  Sehingga kalau udah nikah nanti, kita tinggal praktekkin aja!

  1. Menunaikan seluruh kewajiban

Kita kudu paham bahwa aturan yang diberikan Allah SWT kepada kita itu komplit lho!  Mulai dari urusan diri kita dengan Allah SWT yang menyangkut perkara ibadah mahdhah semisal shalat, puasa, zakat, dll.  Lalu urusan kita dengan diri kita sendiri seperti pakaian, makanan, minuman dan akhlak.  Kemudian aturan yang menyangkut urusan kita dengan manusia lainnya dalam bidang ekonomi, pendidikan, pengadilan hingga tata pemerintahan.  Tak ada salahnya kita menjadikan Ramadhan ini sebagai titik balik untuk kembali konsisten pada syariat Allah SWT secara keseluruhan.  Kita muslim dan kita wajib taat syariat-Nya!

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh) dan janganlah kamu ikuti jejak-jejak syaitan karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu” (QS al-Baqarah [2]: 208).

  1. Memperbanyak amal sunnah dan mengejar lailatul qadar

Kapan lagi kita bisa menabung pahala dobel kalau bukan di bulan Ramadhan?  Bukankah ibadah sunnah pahalanya meningkat seperti ibadah wajib khusus hanya di bulan mulia ini?  Wow!  Tunggu apalagi?  Mari kita mengambil tabungan pahala di pintu infaq, sedekah, shalat malam (tarawih), dll.

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan dilandasi keimanan dan dalam rangka mencari ridha Allah SWT, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasai dan Tirmidzi).

Keistimewaan Ramadhan yang tidak boleh kita lewatkan tentunya adalah lailatul qadar sebagaimana yang sering kita baca dalam QS. Al Qadar ayat 1-5.  Keutamaan lailatul qadar nampak sangat jelas dalam setiap ayatnya.  Malam turunnya Al Qur’an, yang kemuliaannya lebih baik dari seribu bulan dan terdapat keselamatan dari keburukan hingga di pagi harinya.

Dari Aisyah ra, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku menjumpai lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan?  Beliau SAW berkata, ‘Katakanlah : Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, yang senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku” (HR. Ahmad, an Nasai, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Manusia hanya berusaha sementara Allah SWT lah yang menentukan.  Siapa tahu, ibadah kita di bulan Ramadhan ini akan mengantarkan pada jawaban atas doa-doa kita agar segera diberi pendamping hidup?  Seorang teman yang akan menggandeng tangan kita dalam ketaatan kepada Allah.  Seorang teman yang mencintai kita karena Allah dan kita pun mencintainya hanya karena Allah saja.  Seorang teman ke surga.  Mari kita sama-sama memantaskan diri, Mblo! Eh, sahabat Muslimah yang jomblo maksudnya 😉

Selamat mencoba 5 Tips Jadi Jomblo Sukses di bulan Ramadhan ini ya….

(Salam Persaudaraan)

Kontributor: Dewi Sinta

Sumber bacaan :

  1. Taqarrub Ilallah, Fauzi Sanqarith dan M. Al Khaththath
  2. Tuntunan Puasa Berdasarkan Qur’an dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah

Post Author: bloggermuslimah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *