Home Literasi & Blogging Sharing Yang Penting, Bukan Yang Penting Sharing

Sharing Yang Penting, Bukan Yang Penting Sharing

4 Menit Durasi Baca
0
0
29

Alangkah baik apabila setiap tindakan kita mampu menjadi amalan shalih yang sejatinya bisa menjadi jalan yang Allah SWT ridhai. Berbicara soal menulis, sungguh menggunung para cendekiawan muslim yang mampu menjadikan tulisan sebagai jalan dakwah untuk memyampaikan khasanah islam yang begitu mulia dan indahnya, sebut saja Al-Hasan al-Bashri (21 – 110 H / 642 – 728 M).

Nama lengkapnya adalah al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar, al-Bashri, nama julukannya Abu Said. Lahir pada tahun 21 H / 642 M, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab Ra. Ayahnya seorang keturunan Persia bernama Yasar. Ia lahir dan dibesarkan dalam naungan kasih sayang Ummu Salamah, salah seorang istri Rasulullah Saw. Ia mulai berinteraksi dengan para sahabat di masa pemerintahan Utsman bin Affan Ra. Dan ketika Ali bin Abi Thalib menggantikan Utsman Ra sebagai khalifah, al-Hasan telah berumur 14 (empat belas) tahun, dan mulai belajar keilmuan Islam secara serius kepada lebih dari 300 (tiga ratus) orang sahabat.

Al-Hasan dikenal piawai dalam ilmu aqidah, mahir dalam retorika, serta masyhur dengan kezuhudan dan kehalusan budinya. Sekalipun pada masanya istilah sufi maupun tasawuf belum dikenal, akan tetapi ia dianggap oleh kalangan ulama tasawuf sebagai tokoh yang konsisten dalam kezuhudan, kekhusyukan dan ketawadhu’annya. Ia meninggalkan beberapa surat (rasa’il) yang sangat berharga, dengan menggunakan uslub yang mudah dicerna dan dipahami, menggunakan pendekatan hati dan rasa untuk menggugah dan membangkitkan gairah keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.(11) (Mausu’ah a’lam al-fikr al-Islami, Majlis al-a’la li as-syu’un al-Islamiyah, hal. 259-262).

Al Hasan Al Basri begitu piawai dalam menyampaikan setiap ilmu dengan kata yang begitu mudah dicerna hingga mampu membangkitkan Iman dan Taqwa kepada Allah SWT, bagaimana dengan kita? bagaimana dengan tulisan kita..? Mampukah menyentuh hati hingga membangkitkan gairah keimanan juga ketaqwaan pada Allah SWT?
BISA, sangat bisa!

Setiap penyampaian baik lisan maupun tulisan sejatinya tak hanya syarat makna, namun juga harus miliki manfaat. Sebab setiap tindakan yang dilakukan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Allah SWT berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.“ – QS Al Zalzalah : 7-8

Apapun yang tertulis sebagai bentuk penyampaian kita kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Oleh sebab itu masihkah kita tidak takut jika apa yang kita tuliskan menjadi amalan pemberat hisab sebab isi yang tak manfaat bahkan bisa jadi menyampaikan ilmu atau hal yang salah?

Dear ukhtifillah, begitu berat mempertanggungjawabkan sebuah tulisan bukan? sehingga harusnya berhati-hatilah dalam menyampaikan ilmu, bukan sekadar menulis atau yang penting sharing. Tapi sebarkanlah ilmu yang penting, tulisan yang penting dan informasi yang penting. Hingga karenanya apa yang kita tebarkan menjadi hal yang manfaat.

Ada 6 hal yang perlu ukhtifillah perhatikan:

1. Sampaikan kebenaran

Dari Ibnu Mas’ud Ra, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Hendaklah kalian selalu melakukan kebenaran karena kebenaran akan menuntun kepada kebaikan dan kebaikan itu menuntun ke surga. Jika seseorang selalu berbuat benar dan bersungguh dengan kebenaran, ia akan ditulis disisi Allah SWT sebagai orang yang sangat benar. Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun dirimu kepada kedurhakaan dan durhaka itu menuntuk ke neraka. Jika seseorang selalu bohong dan bersungguh-sungguh dengan kebohongan, ia akan ditulis disisi Allah SWT sebagai orang yang sangat pembohong” (Muttafaq Alaih)

2. Niatkan untuk kebaikan dan kemashlahatan

Setiap amalan tergantung dari niatnya, maka menjaga niat amatlah penting. Niat hanya karena mengharap ridho Allah SWT.

3. Sampaikan dengan lemah lembut

Setiap kata yang mampu menggugah hati hanyalah perkataan yang lemah lembut, sebab ia jauh dari hal yang mampu menyakiti. Jika apa yang kita sampaikan membuat yang lain tersakiti, atau malah seperti mengumbar aib, maka perlu ditelaah kembali apakah cara penyampaiannya yang salah ataukah memang tujuan penyampaiannya yang salah.

4. Sampaikanlah ilmu yang bermanfaat

Alangkah baiknya jika sesuatu yang kita sampaikan jauh dari kemudharatan.
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. QS Al A’raf:188

5. Menyampaikan sesuatu atas dasar kebenaran yang terpercaya

Dalam menyampaikan suatu hal melalui lisan ataupun tulisan sudah seharusnya jika apa yang disampaikan adalah hal yang mutlak kebenarannya dan dapat dipercaya sumber kebenarannya. Jika sumber dari penyampaian yang hendak disampaika. diragukan, maka lebih baik urung dilakukan. Sebab sejatinya perbuatan ragu itu datangnya dari setan. Jika hal ini terjadi maka cari tau kebenarannya kembali dari sumber yang mampu dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

6. Pahami setiap apa yang disampaikan

Apapun yang akan kita sampaikan atau yang telah kita sampaikan baik melalui lisan maupun tulisan sejatinya adalah hal yang harus kita pahami sendiri terlebih dahulu. Bagaimana jadinya jika apa yang kita sampaikan belum sepenuhnya kita pahami. Maka tujuan penyampaiannya pun tidak akan terwujud seperti yang kita harapkan. Segala sesuatunya akan lebih baik menjadi pengingat, utamanya bagi kita sendiri dan selanjutnya bagi orang lain.
Jika 6 poin diatas terpenuhi, inshaallah akan menjadi amalan shalih yang Allah SWT ridhai. Jadi ketika ingin menulis atau membagi sesuatu pikirkan keutamaan manfaatnya. SHARING YANG PENTING, BUKAN YANG PENTING SHARING.

Semoga setiap penyampaian baik lisan maupun tulisan ukhtifillah kedepannya mampu mengedepankan kebenaran dan kemashlahatan, hingga setiap penyampaian mampu menggugah gairah keimanan dan ketaqwaan para pendengar dan pembaca layaknya Al Hasan Al Basri.
Wassalamu’alaikum, Wr, Wb.

*Ini adalah materi Kajian Muslimah (KaMus) yang ditulis oleh Amy Zet Maukar (kontributor Blogger Muslimah) dan sudah diposting di grup Facebook Blogger Muslimah Indonesia.

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
Muat Lainnya Literasi & Blogging

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Milad 3rd Blogger Muslimah; Muslimah di Era Digital

Alhamdulillah, acara Milad 3rd Blogger Muslimah sudah selesai digelar dengan lancar pada t…