Home Kepribadian Forgiveness Therapy, Berdamai Dengan Masa Lalu

Forgiveness Therapy, Berdamai Dengan Masa Lalu

3 Menit Durasi Baca
13
0
187

Hurt People Will Hurt People

Sahabat Muslimah, apakah ada di antara Sahabat yang pernah memiliki pengalaman sakit hati, disakiti atau di-bully entah itu di sekolah, kampus, atau bahkan kantor? Saya pribadi pernah merasakan pengalaman tersebut di atas dan Alhamdulillah sudah berhasil melaluinya.

Kita sering mendengar berita yang berhubungan dengan kasus senioritas, atau bahkan pelecehan maupun tindakan kekerasan lainnya, yang dimana sebagian besar pelakunya adalah “mantan korban” perlakuan tidak menyenangkan di masa lalunya, dan hal ini terus berulang sehingga membentuk lingkaran setan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena biasanya orang yang terluka atau pernah terluka berpotensi untuk melukai orang lain.

Banyak Faktor

Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa hal ini bisa terjadi, salah satunya adalah perasaan dendam, penyesalan, perasaan tidak berdaya dan bentuk kekecewaan terhadap dirinya sendiri yang akhirnya ia lampiaskan kepada orang lain.

Dulu saat saya masih aktif di Komunitas Psikologi, saya pernah bertemu seorang client pria yang mendatangi klinik kami, ia bercerita bahwa dulu saat masih belia ia pernah mendapatkan (maaf) pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita yang usianya jauh di atas pria tersebut dan ia baru menyadari hal tersebut setelah ia dewasa karena dulu ia belum begitu paham bahwa tindakan tersebut termasuk kategori pelecehan.

Seiring dengan berjalannya waktu ternyata ia memendam rasa marah dan kebencian terhadap dirinya sendiri karena saat itu ia membiarkan hal tersebut terjadi dan akibat hal tersebut membuat ia tertekan, depresi dan cenderung abusive. Emosinya meledak-ledak dan akhirnya sering melakukan tindakan kekerasan.

Forgiveness Therapy

Lalu bagaimana caranya agar orang-orang yang pernah terluka ini tidak akan melukai orang lain di masa yang akan datang? Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengehentikan atau minimal mengurangi lingkaran setan ini seperti dengan adanya dukungan dari lingkungan yang positif, pendampingan yang baik, pengobatan yang tepat, bisa juga dengan menjalani konseling atau melakukan Forgiveness Therapy.

Forgiveness Therapy memiliki kegunaan untuk menangani kasus-kasus depresi atau kasus-kasus yang diduga melibatkan emosional yang terpendam, terapi ini dapat kita gunakan untuk membantu orang lain dan juga untuk diri kita sendiri, sejatinya memaafkan itu tidak melulu tentang kita memaafkan orang lain tapi juga bagaimana kita bisa memaafkan dan berdamai dengan diri kita sendiri.

Sebelum melakukan proses Forgiveness Therapy, kita harus mengubah konsep kita tentang makna dari memaafkan itu sendiri, yaitu:

  1. Memaafkan bukan berarti melupakan.
  2. Memaafkan tidak harus memberitahukan.
  3. Memaafkan adalah untuk kenyamanan diri sendiri.
  4. Memaafkan bukan berarti menyukai orang yang telah bersalah.
  5. Memaafkan bukan berarti mengizinkan kembali kesalahan untuk terjadi.

Forgiveness Therapy merupakan salah satu teknik yang dilakukan dalam proses Hipnoterapi yang dilakukan oleh seorang Hipnoterapist kepada client-nya yang membutuhkan, namun sesungguhnya kita juga dapat melakukan terapi memaafkan ini selain dengan mengubah mindset kita seperti yang saya sebutkan di atas, kita juga dapat melakukannya dengan cara yang cukup sederhana yaitu dengan cara sebagai berikut:

  1. Meminta maaf kepada orang lain yang tersakiti oleh kita.
  2. Memberikan maaf kepada orang lain yang sudah menyakiti kita.
  3. Meminta maaf dan memberikan maaf kepada diri kita sendiri.

Saya paham sekali bahwa proses berdamai dengan orang lain yang pernah melukai kita atau proses berdamai dengan diri sendiri kita tidaklah mudah, perlu keinginan yang kuat, perlu kesiapan diri yang matang dan juga proses yang panjang, namun lika-liku perjuangan ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kita hanya berdiam diri, meratapi nasib, membuat diri kita terpuruk atau bahkan yang lebih parah melampiaskannya dalam bentuk dendam dan kebencian yang tak akan pernah berakhir.

It’s ok to cry… it’s ok to feel sad… it’s ok that sometimes things get tough… it’s ok to ask for help…. but it’s not ok to give up.” ~Unknown

Semoga bermanfaat.

Nara Sumber: Ratih Sophie Azizah (www.dreamchaserid.blogspot.co.id)
Note: Artikel ini diambil dari materi Kepribadian Muslimah di grup FB Blogger Muslimah Indonesia.

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
Muat Lainnya Kepribadian

13 Komentar

  1. shela anjar rani

    27 Maret 2018 at 9:44 am

    wah dulu waktu SD saya pernah mengalaminya mba. Mungkin karena anak baru sampai-sampai saya nggak ingin sekolah. Sungguh itu pengalaman menyakitkan buat saya,hingga kini saya masih teringat apa yang pernah dialami dulu.

    Terkadang saya suka menyalahkan diri sendiri apa kesalahan saya hingga mendapat pengalaman terburuk seperti itu.

    Balas

  2. Yurmawita

    27 Maret 2018 at 9:54 am

    Agak berat ya memaafkan tapi memang benar kalau bisa sangat lapang rasanya hati kita.

    Balas

  3. Aulia Rahmah A.

    27 Maret 2018 at 9:56 am

    baru tau ada forgiveness therapy, tapi rasanya pasti susah banget buat maafin orang yang udah melukai. sebenernya, kalau lagi kayak gitu, selain forgiveness therapy, butuh juga dukungan dari orang-orang terdekat terutama keluarga

    Balas

  4. Bunda Erysha (yenisovia.com)

    27 Maret 2018 at 10:25 am

    Agak-agak mirip inner child yang bermasalah kalau korbannya dari kanak-kanak ya. Memang memafkan itu nggak mudah ya. Tapi kalau kita berhasil memaafkan itu pasti rasanya melegakan

    Balas

  5. ika

    27 Maret 2018 at 10:29 am

    beneer…memaafkan itu sesuatu yang kadang sult dilakukan. belajar memaafkan harus segera dimulai dari sekarang kalau ga mau berimbas pada hati dan pikiran yang ga bener. terima kasih tulisannya. nampol banget

    Balas

  6. Siska Dwyta

    27 Maret 2018 at 10:44 am

    Yap, memaafkan memang nggak mudah tapi meminta maaf juga kadang-kadang sulit. Intinya minta maaf dan memaafkan sama2 hal yg nggak mudah, apalagi kalau sampai disimpan jadi dendam dan benci. Jadinya malah bikin hidup nggak tenang ya

    Balas

  7. Unni riska

    27 Maret 2018 at 10:51 am

    Semakin dilupakan semakin nyangkut di pikiran kenangan yang menyakitkan itu. Memberi maaf untuk ini sulit, bukan berarti dendam dan ingin membalasnya. Tapi rasa sakit itu yang sulit sembuh. Kalau saya lebih kepada menghindari si penyebab rasa sakit. Ketemu dijalan langsung putar arah.

    Berdamai dengan masa lalu itu sulit

    Balas

  8. Farida

    27 Maret 2018 at 11:43 am

    Berat banget ya ini, memaafkan masa lalu. Tapi kalau berhasil memang rasanya bakal lega luar biasa?

    Balas

  9. Denik

    27 Maret 2018 at 12:02 pm

    Jujur saya orang yang sulit memaafkan orang yg telah menyakiti perasaan. Tapi pelan-pelan belajar deh dari tips yang sudah disampaikan.

    Balas

  10. Dian Restu Agustina

    27 Maret 2018 at 1:31 pm

    Berdamai dengan masa lalu..Memang sulit, apalagi kalau sempat bikin sakit. Saya punya saudara dekat yang sakit hati sekali dengan Ibunya sendiri..Lantaran dulunya ketika bayi “diberikan” pengasuhan ke orang lain (saudara) sementara Ibunya bekerja. Dan -menurutnya-, Ibunya seperti keenakan hingga baru “diambil” untuk diasuh lagi saat lulus SD. Sampai kini saudara saya itu tetap merasa “jauh” dengan Ibunya dan enggak bisa memaafkan. Ibunya sendiri saat pernah diungkit merasa dulu itu biasa saja, bukan ada masalah apa-apa…Ah, ternyata memang memaafkan itu bisa jadi susah

    Terima kasih untuk ulasan ini

    Balas

  11. Ida Nurhidayati

    27 Maret 2018 at 2:07 pm

    Memaafkan itu ternyata berat, Jendral! Tapi mari kita lakukan saja

    Balas

  12. Baiq Rosmala

    27 Maret 2018 at 4:36 pm

    Alhamdulillah dapat ilmu baru dan juga pencerahan,

    Balas

  13. El-lisa

    27 Maret 2018 at 7:02 pm

    Terima kasih mbak. Dapat ilmu lagi. Semoga ada lanjutannya ya mbak. Semacam terapi memaafkan itu seperti apa. Apakah hanya bilang memaafkan saja atau ada langkah-langkah terapinya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Guangzhou, Kota Metropolitan yang Ngangenin

Sejujurnya China bukanlah destinasi impian saya, walaupun sering memandangi  indahnya Grea…