Home Kepribadian Forgiveness Therapy, Berdamai Dengan Masa Lalu

Forgiveness Therapy, Berdamai Dengan Masa Lalu

3 Menit Durasi Baca
0
0
25

Hurt People Will Hurt People

Sahabat Muslimah, apakah ada di antara Sahabat yang pernah memiliki pengalaman sakit hati, disakiti atau di-bully entah itu di sekolah, kampus, atau bahkan kantor? Saya pribadi pernah merasakan pengalaman tersebut di atas dan Alhamdulillah sudah berhasil melaluinya.

Kita sering mendengar berita yang berhubungan dengan kasus senioritas, atau bahkan pelecehan maupun tindakan kekerasan lainnya, yang dimana sebagian besar pelakunya adalah “mantan korban” perlakuan tidak menyenangkan di masa lalunya, dan hal ini terus berulang sehingga membentuk lingkaran setan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena biasanya orang yang terluka atau pernah terluka berpotensi untuk melukai orang lain.

Banyak Faktor

Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa hal ini bisa terjadi, salah satunya adalah perasaan dendam, penyesalan, perasaan tidak berdaya dan bentuk kekecewaan terhadap dirinya sendiri yang akhirnya ia lampiaskan kepada orang lain.

Dulu saat saya masih aktif di Komunitas Psikologi, saya pernah bertemu seorang client pria yang mendatangi klinik kami, ia bercerita bahwa dulu saat masih belia ia pernah mendapatkan (maaf) pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang wanita yang usianya jauh di atas pria tersebut dan ia baru menyadari hal tersebut setelah ia dewasa karena dulu ia belum begitu paham bahwa tindakan tersebut termasuk kategori pelecehan.

Seiring dengan berjalannya waktu ternyata ia memendam rasa marah dan kebencian terhadap dirinya sendiri karena saat itu ia membiarkan hal tersebut terjadi dan akibat hal tersebut membuat ia tertekan, depresi dan cenderung abusive. Emosinya meledak-ledak dan akhirnya sering melakukan tindakan kekerasan.

Forgiveness Therapy

Lalu bagaimana caranya agar orang-orang yang pernah terluka ini tidak akan melukai orang lain di masa yang akan datang? Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengehentikan atau minimal mengurangi lingkaran setan ini seperti dengan adanya dukungan dari lingkungan yang positif, pendampingan yang baik, pengobatan yang tepat, bisa juga dengan menjalani konseling atau melakukan Forgiveness Therapy.

Forgiveness Therapy memiliki kegunaan untuk menangani kasus-kasus depresi atau kasus-kasus yang diduga melibatkan emosional yang terpendam, terapi ini dapat kita gunakan untuk membantu orang lain dan juga untuk diri kita sendiri, sejatinya memaafkan itu tidak melulu tentang kita memaafkan orang lain tapi juga bagaimana kita bisa memaafkan dan berdamai dengan diri kita sendiri.

Sebelum melakukan proses Forgiveness Therapy, kita harus mengubah konsep kita tentang makna dari memaafkan itu sendiri, yaitu:

  1. Memaafkan bukan berarti melupakan.
  2. Memaafkan tidak harus memberitahukan.
  3. Memaafkan adalah untuk kenyamanan diri sendiri.
  4. Memaafkan bukan berarti menyukai orang yang telah bersalah.
  5. Memaafkan bukan berarti mengizinkan kembali kesalahan untuk terjadi.

Forgiveness Therapy merupakan salah satu teknik yang dilakukan dalam proses Hipnoterapi yang dilakukan oleh seorang Hipnoterapist kepada client-nya yang membutuhkan, namun sesungguhnya kita juga dapat melakukan terapi memaafkan ini selain dengan mengubah mindset kita seperti yang saya sebutkan di atas, kita juga dapat melakukannya dengan cara yang cukup sederhana yaitu dengan cara sebagai berikut:

  1. Meminta maaf kepada orang lain yang tersakiti oleh kita.
  2. Memberikan maaf kepada orang lain yang sudah menyakiti kita.
  3. Meminta maaf dan memberikan maaf kepada diri kita sendiri.

Saya paham sekali bahwa proses berdamai dengan orang lain yang pernah melukai kita atau proses berdamai dengan diri sendiri kita tidaklah mudah, perlu keinginan yang kuat, perlu kesiapan diri yang matang dan juga proses yang panjang, namun lika-liku perjuangan ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kita hanya berdiam diri, meratapi nasib, membuat diri kita terpuruk atau bahkan yang lebih parah melampiaskannya dalam bentuk dendam dan kebencian yang tak akan pernah berakhir.

It’s ok to cry… it’s ok to feel sad… it’s ok that sometimes things get tough… it’s ok to ask for help…. but it’s not ok to give up.” ~Unknown

Semoga bermanfaat.

Nara Sumber: Ratih Sophie Azizah (www.dreamchaserid.blogspot.co.id)
Note: Artikel ini diambil dari materi Kepribadian Muslimah di grup FB Blogger Muslimah Indonesia.

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
Muat Lainnya Kepribadian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…