Home Literasi & Blogging Materi Kepenulisan Non Fiksi (1)

Materi Kepenulisan Non Fiksi (1)

2 Menit Durasi Baca
0
0
18

Temen-temen, kemarin kita udah bahas langkah-langkah persiapan nulis non-fiksi. Adakah yang udah mencoba? Nah, sekarang, kita bahas tentang langkah-langkah menjadikan ide kita itu nyata. Yep! Proses nulisnya.

Proses nulis non-fiksi ternyata bukan sebatas ketik-ketik di laptop, lho. Penasaran? Cekidot!

1. Breakdown

Breakdown adalah proses “turunin” tema yang udah kita pilih jadi tema-tema kecil. Semacem dibuat outline-nya. Kalau kita buat buku non-fiksi, ini adalah proses bagi-bagi bab dan sub-bab. Tujuannya supaya nulisnya bisa fokus, dan memudahkan buat pengumpulan datanya. Seenggaknya, kita perlu tiga poin pembagian: pembukaan, pembahasan, penutup.
Di bagian pembukaan, biasanya yang dibahas adalah latar belakang masalah, hal-hal yang memancing kita buat bikin tulisan dengan tema itu, atau “apa yang dimaksud dengan” kalau kita bikinnya buku. Fungsinya buat menarik orang masuk ke pembahasan yang akan kita sampaikan.
Sedangkan, pembahasan -karena namanya udah ‘pembahasan’- adalah bagian untuk kita ulik-ulik habis tema yang kita ambil itu. Fungsinya, selain biar orang tahu lebih dalam tentang masalah itu, secara gak langsung juga menegaskan posisi kita dalam masalah itu.
Nah, di penutup, kita bikin kesimpulan tentang apa yang udah kita bahas panjang-panjang tadi. Ada juga yang melengkapi bagian penutup ini dengan saran atau tips.

2. Mengumpulkan Data

Nah, kan kita udah tahu apa-apa aja yang mau kita tulis, udah ada pembagian rincinya, so, kita cari poin-poin mana yang perlu data. Bentuknya data gak harus hasil survey kayak skripsi, tapi bisa berbentuk referensi-referensi materi yang sesuai dengan apa yang mau kita bahas. Kita bisa cari dari internet atau buku-buku.
Kalau buat di blog, kita bisa pakai data dari internet aja, karena pembahasannya juga gak terlalu dalam. Tapi, kalau buat buku, usahakan pakai buku-buku juga sebagai data utama, dan internet sebagai data tambahan.
Idealnya, kita kumpulin data ini di awal, sebelum nulis. Kalau kita nulis dulu baru cari data, bisa-bisa tulisan berhenti dan kita mendadak mutung karena kekurangan data. Proses ini juga membuka wawasan dan pikiran tentang apa yang mau kita bahas.

3. Menulis

Ini bagian paling penting. Sekeren apapun ide, sebanyak apapun data, sedetil apapun outline, kalau gak ditulis, mereka tetap tercerai berai. Ibarat kata, punya terigu, telor, keju, mentega, kalau gak diolah gak bakalan jadi kue yang enak. Nah, nulis adalah meramu bahan-bahan tersebut supaya enak dibaca, bisa diterima, dan bisa dimengerti pembaca.

Kan kemarin kita udah tentuin deadline, sekarang waktunya kita menepati deadline itu supaya tulisan selesai tepat waktu. Mari kita nikmati proses dan keseruannya. Hasil gak akan mengkhianati usaha, hehehe. Kalau mendadak mutung di tengah jalan, ingat-ingat lagi tujuan kita bikin tulisan itu. Apapun bisa terjadi dalam proses menulis. Entah gangguan internal atau eksternal. Yang penting, kita selalu menjaga semangat supaya gak mutung.

Udah ah bahas teorinya. Nanti jadi gak nulis-nulis. Yuk, kita nulis. Eh, yuk kita diskusi dulu, hehehe.

Nara Sumber: Fara Alfaza Daniel (www.faraalfaza.blogspot.com)

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
Muat Lainnya Literasi & Blogging

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Milad 3rd Blogger Muslimah; Muslimah di Era Digital

Alhamdulillah, acara Milad 3rd Blogger Muslimah sudah selesai digelar dengan lancar pada t…