Home Literasi & Blogging Materi Kepenulisan Non Fiksi (2)

Materi Kepenulisan Non Fiksi (2)

4 Menit Durasi Baca
0
0
15
Temen-temen, maaf ya, postingnya kemaleman. Yuk, kita lanjutin bahas non-fiksi. Anggap aja dongeng sebelum tidur hehe. Step yang akan kita bahas ini adalah final step-nya naskah apapun, termasuk non-fiksi. Mari kita sebut step ini dengan Editing.
Simpelnya, editing adalah proses merapikan naskah. Karya non-fiksi yang udah kita tulis, mungkin ada kepelesetnya. Nah, ini perlunya editing supaya naskah kita ciamik, asyik, dan yang penting cocok buat pembaca yang udah kita targetin di awal.
Apa aja sih, yang perlu kita perhatiin dalam editing?

1. Typo

Sebagian orang menyebut “Typo is an Art of Writing”, typo itu kembang-kembangnya tulisan. Tulisan kerasa gak indah tanpa typo. Tapi, bayangin deh, kalau typo di karya kita itu kata-kata yang bikin tulisan berasa aneh. Apa kabar editor atau readers kita?
Salah satu adab terhadap orang tua dan mertua adalah mencium tangan apabila mereka dating.
Heh? Ortu sama mertua dating? Cobaan apa ini? Terus, kita harus cium tangan ke mereka kalau mereka dating? Sebagai apa? Ucapan selamat kalau udah dating?
Ada gak yang laptopnya suka punya inisiatif sendiri ngubah kata “datang” jadi “dating”, ngubah “teh” jadi “the”? Atau, jari kita kepeleset, nulis “ketika” jadi “ketiak”?
Itu salah satu fungsi editing: koreksi, supaya gak ada yang salah paham. Kalau kita bikinnya buku, emang di penerbit pasti ada editor, tapi seenggaknya, jangan bikin mereka salah paham.
Sekalian juga, kita benahin kata-kata yang disingkat. Misalnya kayak: yg, ntah, y, dan temen-temennya. Kadang, kita kan kalau keasyikan nulis, berasa kayak nulis status aja. Jadi, singkatan-singkatan itu bisa masuk. Tugas kita buat mengembalikan huruf-huruf yang hilang itu ke tempat seharusnya.

2. Tanda Baca

Konon, editor adalah orang yang paling aware sama urusan tanda baca. Salah naroh titik, apalagi di bagian-bagian tulisan, alamat naskah non-fiksi kita bernasib buruk. Yang terbayang, naskah sepanjang 150 halaman itu harus dia benerin titiknya satu persatu. Daripada nyusahin, mending cari yang gampang aja, kan?
Salah taroh tanda baca bisa bikin salah arti. Tanda baca itu semacem perwakilan intonasi kalimat kita. Kalau kita ngomong ke orang atau di depan publik, pasti ada intonasi yang menegaskan tujuan kalimat kita. Tapi, kalau di tulisan, gimana? Orang juga gak bisa lihat ekspresi kita pas ngucapin. Karena itu, tanda baca jadi penting banget di tulisan.
Mom, bayi Anda suka memasukkan benda ke mulut? Mom, bayi Anda suka memasukkan benda ke mulut! Mom, bayi Anda suka memasukkan benda ke mulut. Mom bayi Anda suka memasukkan benda ke mulut?
Berasa kan, bedanya?
Kalimat pertama itu pertanyaan. Kalimat ke dua, pemberitahuan tapi nyolot. Kalimat ke tiga pernyataan. Kalimat ke empat, yang suka masukin benda itu “mom”-nya, bukan bayinya.
Cara paling simpel buat pelajarin cara naroh tanda baca yang bener adalah baca buku. Kita bisa lihat di mana mereka taroh tanda baca. Ikutin itu aja. Awalnya pasti gak enak kalau gak sesuai sama kebiasaan kita. Tapi, itulah aturan yang dikenal editor dan readers kita.

3. Kata dan Kalimat

Yuk cek lagi, apa kata-kata yang kita pilih udah sesuai sama target pembaca. Bahasa untuk ABG pasti beda sama buat dewasa, bahasa untuk awam pasti beda sama buat akademisi atau profesional. Ketemu buku yang judulnya ilmiah tapi gaya penyampaian kayak gini berasa zonk, kan? Oh ya, jangan lupa gunakan kata-kata sesuai PUEBI.
Untuk kalimat, sebaiknya pilih kalimat efektif yang susunannya jelas. Jangan banyak-banyak kalimat majemuk. Sebaiknya, 1 paragraf gak lebih dari 7 baris, dan kalimatnya pendek-pendek. Kenapa sih, sebaiknya kalimat pendek?
Dalam pemerintahan, seorang menteri ditugaskan untuk memimpin suatu kementerian yang mana keberadaannya telah ditetapkan dalam undang-undang negara dan telah mendapatkan pengesahan dari Presiden yang karena hal itu kementerian berhak membuat peraturan menteri yang kedudukannya di bawah peraturan presiden untuk menyukseskan program-program yang telah mereka canangkan untuk lima tahun sebagai target jangka pendek dari pembangunan yang mengacu pada rencana pembangunan jangka pendek yang ditetapkan Presiden beberapa waktu setelah pelantikannya dan disetujui oleh DPR yang sebagaimana kita tahu dipilih oleh rakyat melalui proses Pemilihan Legislatif.
Gimana? Jangan lupa bernapas hehehe.
Kalimat yang panjang bikin orang bingung. Kalau readersnya bingung, otomatis informasi yang kita bagikan juga gak akan sampai. Dia bisa aja baca keseluruhan, tapi gak “nyangkut” ke pikiran karena terengah-engah baca kalimatnya. Atau, dia lewatin kalimat panjang itu dan langsung ke paragraf selanjutnya.
Cara ngetes paragraf kita kepanjangan apa nggak adalah kita coba baca sendiri. Kalau kita terengah-engah, pembaca pastinya juga akan merasakan hal yang sama. So, bagi aja jadi dua paragraf. Kalau kalimat kita kepanjangan, cari kata sambung, hapus, taroh titik di akhir kata sebelumnya, dan sesuaikan kalimat setelahnya.
Eh, udah malem banget, ya? Udah panjang juga, nih. Segini dulu deh, bahasnya. Mending buka-buka draft non-fiksi kita, terus cek ulang. Oke?
Nara Sumber: Fara Alfaza Daniel (www.faraalfaza.blogspot.com)
Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Suara di Balik Senja

    Pukul lima sore hari. Arintya mengalihkan pandangannya dari jam dinding. Ia mulai menaiki …
  • Alur dan Pengaluran (Fiksi)

    Banyak yang mempersamakan bahwa alur (plot) merupakan jalan cerita. Tetapi banyak juga yan…
  • Materi Kepenulisan Non Fiksi (1)

    Temen-temen, kemarin kita udah bahas langkah-langkah persiapan nulis non-fiksi. Adakah yan…
Muat Lainnya Literasi & Blogging

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…