Home Keluarga Dari CV Turun ke Hati

Dari CV Turun ke Hati

9 Menit Durasi Baca
0
0
48

Siang ini, saat aku tengah asyik mengeksplor Instagram, mataku tertumbuk pada postingan sebuah akun dengan hashtag #DariCVTurunKeHati. Waaah… apa ya maksudnya?

Well, mungkin sebagian dari pembaca bisa menebak apa maksud dari hashtag tersebut, ada juga yang masih bertanya-tanya. Bukan begitu? Sebetulnya aku sendiri kurang setuju dengan istilah ‘Dari CV Turun ke Hati’, tentunya ada proses janji suci yang harus terucap terlebih dahulu sebelum akhirnya saling jatuh hati, hehe. Tapi aku yakin maksud dari si pencetus hashtag juga sama denganku.

Ya, maksudnya secara singkat adalah sepasang insan yang menikah melalui proses ta’aruf, tanpa ada perasaan sebelumnya. Ngomong-ngomong tentang ta’aruf, let me share to you what called as ta’aruf based on my experience, hehe.

Ta’aruf secara bahasa artinya perkenalan. Namun, dalam Islam, khsuusnya tentang jodoh, ta’aruf diistilahkan sebagai proses perkenalan seorang laki-laki dan wanita yang memiliki hajat untuk menikah. Wel,l perkenalan yang dimaksud di sini bukan ketemuan terus lirik-lirikan, ya. No banget! Ada adab-adab dalam ta’aruf itu sendiri. Yuk kita bahas!

Dari Lelaki ke Wanita

Ada istilah, “Laki-laki mencari, wanita menanti” ataupun “Lelaki berhak memilih, perempuan berhak menerima atau menolak”.

Fenomena yang kerap saya dengar, memang umumnya lelaki yang menawarkan diri atau meminta wanita yang ia suka untuk dinikahi.  Hal ini mungkin dikarenakan laki-laki identik dengan sifat berani memulai, dan wanita dengan rasa malunya. Ada yang ditawari CV wanita terlebih dahulu tanpa diketahui oleh si wanita. Ketika si lelaki klop, baru beranjak ke proses selanjutnya. Ada juga yang baru mengenal sebatas nama dan interaksi di forum umum, barulah bertukar CV (sebagaimana si doi padaku, hehe).

Nah, untuk para lelaki, memang sih, kalian berhak menentukan pilihan pasangan hidup, tapi tetap hargai peran orang tua, ya. Mintalah restu mereka sebelum kamu memulai proses ta’aruf. Dengarkan pendapat mereka tentang calonmu.

Eits, tapi bukan berarti kamu para wanita tak berhak memulai duluan. Belajar dari kisah ibunda Khadijah, yang menawarkan dirinya pada Nabi Muhammad tanpa sedikitpun meruntuhkan harga dirinya di depan Nabi dan orang lain. Misalkan sebagai seorang wanita, kamu sudah memiliki niat menikah dan merasa tertarik dengan seorang laki-laki (semoga bukan karena fisik ataupun harta ya, hehe), kamu berhak kok, menawarkan dirimu untuk dinikahi olehnya. Tentu tetap ada adabnya, nggak ujug-ujug bilang ke lelaki tersebut. Teteup, melalui perantara.

Yakinkan Dirimu, Kenali Dirinya

Ketika seorang laki-laki sudah merasa tertarik oleh seorang wanita dan sudah memiliki niat untuk menikah, sebaiknya ia melakukan salat istikharah untuk meyakinkan dirinya bahwa pilihannya adalah pilihan Allah juga. Ada beragam jeda waktu antara salat istikharah dengan kian kuatnya keyakinan. Artinya, ada yang sehari setelah istikharah langsung merasa yakin akan pilihannya, ada juga yang sampai berhari-hari, bahkan mungkin ada juga yang semenit setelah salat istikharah. Ia juga berhak mencari tahu tentang wanita yang disukainya. Tapi, bukan berarti cari tahu dengan stalking foto-fotonya. Hindari deh, Akh!

Car itahu yang saya maksud di sini lebih ke secara umum kebiasaannya. Kalo zaman sekarang sih, mungkin udah bisa searching pakai sosmed atau Google.

FYI, alkisah ada seorang lelaki yang saking ingin menjaga dirinya (atau mungkin karena tak terpikirkan cara lain selain langsung bertukar CV langsung dengan wanita yang disukainya), ia tak pernah sekalipun mengeksplor nama si wanita di dunia maya, apalagi membuka-buka akun sosial medianya. Ia bahkan baru mengetahui nama lengkap si wanita begitu keduanya bertukar biodata. Keduanya pun baru berteman di dunia maya setelah keduanya saling setuju untuk ke proses khitbah. Lho, kok bisa?  Yaps, itu karena dirinya tertarik bukan pada fisik, keturunan ataupun harta si wanita, melainkan keshalihah-annya.

Tapi, kalau menurut saya pribadi, memang kalau bisa nggak usah searching-searching di dunia maya, nggak usah cari tahu sembunyi-sembunyi. Langsung saja tancap gas, menyatakan niat untuk berta’aruf dengannya. Kalau cari-cari di dunia maya, siapa sih yang bisa menjamin kamu, para lelaki, nggak bakal ngeliat yang macam-macam (re: wajahnya atau pose fotonya yang diunggah olehnya atau pihak lain)?

Oh ya, ngomong-ngomong soal istkharah, nggak melulu untuk persoalan jodoh, melainkan ketika kita dalam posisi memiliki hajat atau harus memilih di antara beberapa pilihan.

Ketika Orang Ketiga Dibutuhkan

Nah, tadi saya udah menyentuh sedikit soal perantara atau pihak ketiga. Siapa sih dia?

Perantara adalah orang yang menjadi mediator antara wanita dan lelaki sepanjang proses ta’aruf, sehingga komunikasi secara langsung antara wanita dan lelaki dapat diminimalisir. Lho, kenapa harus diminalisir? Tak lain dan tak bukan guna menghindari benih-benih cinta sebelum waktunya.

Ketika CV sudah jadi, biasanya dikirim ke perantara. Dialah yang akan saling mempertukarkan. Pengalaman saya sewaktu bertukar CV, ingat sekali kala itu sekitar jam 04.00 WIB dengan penuh rasa deg-degan kukirimkan CV-ku ke email Mbak Perantara kami. Sebetulnya saya ingin minta si Mbak untuk membacanya terlebih dulu (maklum pengalaman pertama, takut salah-salah) dengan mengatakan,

“Mbak baca dulu, lalu tolong ubah ke PDF, ya.”

Tapi, entah kenapa beliau selalu menolak dengan hahasa yang halus seperti,

“Visya langsung bikinkan PDFnya saja ya, nanti Mbak langsung kirim ke masnya.”

And… saya baru tau belakangan kalo CV ta’aruf adalah sesuatu yang SANGAT RAHASIA. Catat, SANGAT RAHASIA sehingga sebaiknya hanya dibaca oleh calon pasangan dan keluarga inti.

Untuk kasus si lelaki merasa tertarik tanpa ditawari CV terlebih dahulu, biasanya yang mencari perantara adalah si lelaki. Jangan sembarang memilih perantara, ya. Pilihlah yang amanah dan cukup mengenal baik dirimu atau dirinya ataupun kalian berdua. Jika memungkinkan, pilihlah yang sudah menikah. Kalau tidak memungkinkan, ya tidak apa juga yang belum menikah asal bisa menjaga komunikasi dengannya.

Dalam beberapa proses ta’aruf, ada yang melalui jalur murabbi atau murabbiyah, adapula melalui pihak selainnya. Perlu diperhatikan, seorang perantara haruslah orang yang memahami dan pro terhadap proses ta’aruf. Ya iyalah, masak kita mau jadikan ia perantara ta’aruf sementara ia tidak paham soal ta’aruf atau bahkan kontra?

Ta’aruf Bukan Sekedar Soal Kamu

Teruntukmu Dear Ukhti, soal ta’aruf bukan soal kamu saja. Artinya, ini melibatkan kedua orangtuamu juga. Maka dari itu, ketika ada soerang lelaki menyatakan keinginannya untuk berta’aruf denganmu dan kamu sudah yakin akan menjawab ya, ada baiknya kamu meminta izin kepada kedua orangtuamu. Mengapa? Karena ta’aruf bukanlah hal main-main. Ia merupakan langkah awal menuju tahap terucapnya mitsaqaan ghaliza. Tanpa restu orang tua, kamu tak bisa menikah sebab ayahmulah yang wajib menikahimu dengan si doi.

“Ah, kan belum pasti jadi.”

“Ah, kalo pun jadi. kan belum pasti waktunya.”

Kalau kamu udah berpikir demikian, sebaiknya kamu STOP untuk lanjut ke proses ta’aruf deh, karena itu artinya kamu masih main-main dan belum serius. Hello Ukhti Shalihah, ta’aruf itu artinya kamu harus serius!

Oke, lanjut. Nyatakan keinginanmu untuk berta’aruf pada ortumu. Carilah waktu yang sesuai. Misal, ketika malam hari saat mereka sedang bersantai. Jangan lupa, kencangkan doanya. Bacakan doa rabithah sambil mengingat wajah keduanya sebelum berbicara, lalu berbicaralah dengan santun tanpa memaksa. Sekalipun misal respon mereka negatif, jangan langsung ngambek atau patah arah. Sabarkan hati dan tetap kuatkan doa. Bukankah selemah-lemah ukhuwah adalah doa?

Jadi teringat pengalaman saya, berhubung ini pengalaman pertama maka setelah merasa yakin untuk menjawab ya, saya sampaikan ke Mbak Perantara. Apa yang beliau katakan?

“Visya sudah komunikasikan ke ortu? Sebaiknya ortu juga sudah tahu dan mengizinkan. Sebab ini bukan proses main-main.”

Jleb! Memang sih, saya belum bilang ke orang tua. Nanti saja begitu tukaran CV bilangnya. Tapi, memang sebaiknya dikatakan sejak awal hendak memulai proses.

Begitu bilang ke orang tua, respon keduanya terutama ayah sangat bertentangan. Menyerah? Tidak. Saya mencoba bicara lagi, meski masih dengan respon negatif. Selebihnya, kencangkan doa, hingga akhirnya Allah menyentuh hati keduanya. Allahuakbar!

Proses komunikasi anak dan orang tua itu sangat penting, lho. Sebaiknya, setiap hajatmu, bicarakanlah dengan orang tua supaya mereka senantiasa mendoakan agar dilancarkan jalanmu mencapainya. Hal ini nggak cuma berlaku untuk proses pernikahan, tapi juga hal lainnya selama kamu masih menjadi tanggung jawab kedua orangtuamu.

One… Two… Three… Go!

CV telah dibuat, pernyataan untuk ta’aruf telah saling disetujui kedua belah pihak, perantara telah ditentukan, proses ta’aruf pun dimulai. Lelaki dan wanita saling membaca CV satu sama lain. Selanjutnya, tentu saja sholat istikharah.

Setelah merasa yakin, tahap selanjutnya adalah komunikasikan lagi dengan orang tua. Persilakan mereka membaca biodata si lelaki dan memberikan pendapatnya (jangan dulu ngomong macam-macam). Lagi-lagi, berdoalah yang kuat dan carilah waktu terbaik untuk berbicara dengan keduanya, ya.

Oh ya, sekiranya ada pertanyaan apapun yang ingin saling ditanyakan, tanyakan lewat perantara, dan pastinya bersabar. Urusan si Mbak kan bukan kalian doang, hihi.

Rahasiakan, Rahasiakan, dan Rahasiakan!

Ini penting. Sejak awal si lelaki menyatakan keinginannya untuk berta’aruf dan sejak kamu para lelaki menyatakan keinginanmu untuk berta’aruf dengannya, rahasiakanlah hal tersebut. Hal ini karena hal tersebut memang tidak layak diumbar-umbar.

“Rahasiakanlah pinangan, umumkanlah pernikahan.” begitu sabda Nabi.

Bukan cuma ketika sudah dipinang, bahkan sejak awal keinginan untuk ta’aruf diutarakan, rahasiakanlah. Boleh bercerita tapi pandai-pandailah memilih dalam bercerita, pada orang tua pastinya ataupun orang lainnya yang paling kamu percaya untuk menjaga amanah ini.

Jadi teringat pengalaman saya (lagi). Ketika Mbak perantara menyatakan ada seorang ikhwan yang hendak berta’aruf, tanpa babibu saya tanyakan namanya tapi ia tak mau memberitahu. Tentu saya heran, lho kok mau ngajak ta’aruf tapi saya nggak boleh tahu namanya? Well jelas saja saya nggak boleh tahu. Lha wong saya belum bilang ‘Ya’. Kalaupun saya bilang ‘Tidak’, tetap nggak akan diberitahu. Meski awalnya sempat bertanya-tanya, akhirnya saya memahami, hal ini dilakukan untuk menjaga (hati) satu sama lain.

Sungguh saya salut dengan Mbak Perantara yang sudah sangat berjasa bagi kami. Semoga Allah membalas kebaikan beliau. Aamiin.

Teruntuk kamu yang sudah memiliki niat untuk menikah, yuk persiapkan CV/proposal terbaikmu dan tentunya yang jujur ya. Teruntuk kamu yang sedang berta’aruf ataupun sudah berta’aruf dan sedang menunggu hari H, semoga dilancarkan dan dijaga selama prosesnya. Teruntuk kamu yang sudah pernah berta’aruf namun belum juga dipertemukan sang lifetime partner, semoga selalu disabarkan dalam berikhtiar ya. Teruntuk kamu yang belum memiliki niatan menikah, semoga segera termotivasi. Dan teruntuk kamu semua saudari-saudariku, tetaplah berkarya dan berprestasi, sekalipun masih single ataupun telah menikah. Because being married woman is not an obstacles to keep shining! Love you, Dear Ukhti!

(Visya Albiruni)

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Melukis Pernikahan Berwarna Surga

    Pernikahan bahagia. Dua kata yang diimpikan setiap insan. Pernikahan ini menjadi tumpuan h…
  • Jodoh di Ujung Kepasrahan

    Jodoh itu rahasia ilahi. Seberapapun kerasnya kita menginginkan seseorang, jika bukan jodo…
  • Jodoh yang Tak Diduga

    Tidak pernah terpikir kalau saya akan menikah di usia 22 tahun. Memang sih, saya pernah pu…
Muat Lainnya Keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…