Home Keluarga Jodoh di Ujung Kepasrahan

Jodoh di Ujung Kepasrahan

9 Menit Durasi Baca
0
0
18

Jodoh itu rahasia ilahi. Seberapapun kerasnya kita menginginkan seseorang, jika bukan jodoh kita maka tidak akan bersatu. Jodoh itu datang tanpa kita mengira sebelumnya, kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita, hanya Allah SWT yang mengetahui dan sudah menuliskannya dalam kitab lauhul mahfudz, bersabarlah. Allah akan mempertemukan kita dengan jodoh di dunia ataupun di akhirat.

Usiaku sudah 32 tahun, tapi belum ada yang serius datang melamar. Adikku yang berbeda usia 3 tahun sudah memiliki calon dan berencana menikah. Galau, bingung, sedih, senang jadi satu. Aku sebenarnya enggak pernah benar-benar pacaran atau berkomitmen, hanya sekadar dekat saja, cuma akunya yang kadang suka baper (bawa perasaan). Cukup banyak jatuh bangunku sebelum bertemu jodoh yang sebenarnya. Ingin tahu berapa kali aku jatuh bangun?

Mudah Jatuh Cinta

Aku termasuk orang yang mudah jatuh cinta. Mulai menyukai lawan jenis sejak SD kelas satu. Sebuat saja namanya A. Rasa sukaku berlanjut sampai kelas 6 SD. Padahal kami cuma sekelas di kelas 1 dan 6 SD saja. Sering kutuliskan namanya di belakang buku tulisku, teman sebangkuku sering memergoki dan mencandaiku. Pernah ia membongkar rahasiaku, A jadi tahu kalau aku menyukainya, aku jadi malu. Di rumah aku sering mencoba menelpon A, setelah diangkat aku mematikan telepon, konyol.

Masuk ke SMP, kedua orangtuaku mengirimku ke Pesantren. Di sana ada tetanggaku bernama D, pinternya kebangetan. Setiap semester selalu juara kelas. Awalnya sih aku enggak punya perasaan apapun, hanya kenal sebagai tetangga, tapi gayanya yang agak sombong seakan menantangku untuk menaklukkan. Sikap congkaknya menggerakkan hatiku untuk menyatakan bahwa aku bisa menyamai kepintarannya. Di luar itu sebenarnya kita kalau bicara nyambung dan aku selalu terkesima dengan setiap penjelasannya, sikap dan cerita mengenai keluarganya. Aku mulai berharap  menjadi bagian dari keluarganya. Ibunya sahabat ibuku, hampir setiap minggu bertemu, bahkan jika ibu tidak bisa menengok aku di Pesantren, Ibunya yang mengunjungiku, begitupun sebaliknya.

Kami suka bertukar tugas jika sedang liburan. Perasaan sukaku makin subur, hingga suatu hari selepas belajar bersama, aku berusaha mengubur perasaanku. Tepatnya setelah temanku I bercerita kalau D menyatakan cinta padanya. Saat itu aku berusaha keras mematikan perasaanku. Mudah? Tidak. Perasaan sukaku terus berlanjut sampai aku kuliah dan masih berharap sampai lulus kuliah. Aku berhenti berharap saat mengetahui D akan menikah dengan seorang balerina. Maka kisahku bersama D kuanggap usai…

Cinta di Bangku Kuliah

Saat kuliah bagaimana? Tentu masih ada cerita jatuh bangun yang kusimpan. Ada beberapa orang yang sempat mampir di kehidupanku. Sebut saja B, lelaki yang coba mendekati aku hanya karena membutuhkan tambahan materi untuk laporan praktikum.

Ada lagi J yang keakrabannya denganku telah mebuat aku kege-eran padahal dia sebenarnya menaruh hati pada temanku U, dan sikap baiknya padaku tak lebih karena dia  memang mudah dekat dengan perempuan. Kisah dengan J pun kandas…

Perasaanku kemudian teralihkan dengan hadirnya L, kami satu Universitas tapi beda Fakultas. Kami bertemu saat KKN. Kami menjadi dekat, sempat terfikir kalau L akan menjadi bagian dari keluargaku. Tidak ada komitmen antara kita berdua, tapi kami sangat dekat. Selepas KKN hubungan kami masih terus berlanjut. L sering mampir ke kosan, begitu pula aku lumayan sering main ke rumahnya.

Kami suka berolahraga pagi di GOR, kami merasa nyaman satu sama lain, tapi tidak ada komitmen sama sekali. Setelah lulus kuliah, kami mencari pekerjaan bersama. Setiap aku ulang tahun selalu ada hadiah yang dia berikan. Aku mendapat pekerjaan di sekolah swasta, L menjadi marketing obat di sebuah perusahaan.

Komunikasi kami berjalan lancar, hingga pada saat dia berulang tahun, aku berusaha menyatakan perasaanku padanya lewat sebuah notes. Namun sejak saat itu L berhenti menghubungiku. Dia seperti menghilang tanpa kabar. Sudahlah, sepertinya episode dengan L memang harus berakhir sampai di sini…

Selepas kuliah dan mendapat pekerjaan di sekolah swasta, ibuku ingin anaknya cepat menikah. Ibu mulai mengenalkanku pada anak kawannya, bahkan keluarga jauh. Dari semua yang dikenalkan tidak ada yang sesuai denganku. Beberapa kali aku bertengkar dengan ibuku karena menolak bertemu dengan pilihannya, aku mengharapkan keajaiban. Entah kenapa aku masih berharap L yang datang dan melamarku, seperti yang pernah kita perbincangkan.

Saat Usia Menginjak 30 Tahun

Usiaku sudah menginjak 30 tahun. Keluargaku makin gencar, bukan saja ibu dan bapak tapi sepupu-sepupuku mulai intens mengenalanku dengan beberapa orang. Ibu juga mengajakku untuk mendaftar di biro jodoh ustadz Restu di Tangerang. Tapi juga tidak berhasil. Jodoh memang rahasia ilahi.

Saat usiaku menginjak 31 tahun ada seseorang bernama H yang mengajakku berkenalan. Entahlah aku mau saja diajak berkenalan dengannya. Latar belakang ilmu agamanya yang membuatku tertarik, lagi pula tidak ada salahnya bertemu. Usiaku sudah sangat cukup untuk menikah. Ternyata H adalah teman dari anaknya teman ayahku. Ayahku aktif di LBQ (Lembaga Baca Qur’an) untuk mengisi waktu luangnya setelah pensiun. Beliau berusaha mengenalkan anak temannya denganku, tapi ternyata sudah memiliki calon dan akhirnya mengenalkanku pada H.

Dua kali bertemu, di pertemuan kedua H bilang akan melakukan shalat istikharah. Jika kita berjodoh maka Allah akan memudahkan perjalanan cinta kita. Dalam penantianku H jarang berkomunikasi denganku. H belum pernah ke rumahku. Dalam penantian itu ada seorang pegawai negeri yang dikenalkan padaku lewat teman sepupuku. Berani datang ke rumah sih, tapi enggak berniat mengenal keluargaku, padahal saat itu sedang berlangsung arisan keluarga dua bulanan.

Lama tak ada kabar dari H. Sepupuku mengenalkanku pada teman kuliahnya R. Gayung bersambut, R yang rumahnya di Bekasi, rela main ke rumahku yang ada di Depok. Kurang lebih 3 bulan kami menjalin hubungan serius yang mengarah ke jenjang pernikahan. Setiap Sabtu R datang ke rumah, meminta izin pada kedua orangtuaku untuk mengajakku jalan-jalan. Aku menaruh harapan besar padanya. Jenggot tipis dan Al-qur’an kecil di sakunya menguatkanku untuk menetapkan hatiku padanya.

Selang 3 bulan, R menghilang tiada kabar. Aku ditemani sahabatku mengunjungi rumahnya di Bekasi. Dia cuma bilang mau istikharah, jika jodoh maka kami akan dipertemukan kembali. Lemas rasanya mendengar jawaban yang tidak diinginkan. R mengantar kami ke stasiun dan itu terakhir kalinya kami bertemu.

Terpuruk, aku merasa sangat kehilangan tapi juga masih ada harapan karena H dan R masih menggantungku. Sementara adikku mulai menjalani hubungan serius dengan security kantornya. Aku pikir kedua orangtuaku tidak akan menyetujui dan hubungan mereka tidak akan lama, tapi Allah berkehendak lain. Mereka merencanakan untuk menikah di bulan Mei 2016. Perasaanku saat itu sangat kesal. Karena menurutku mereka tidak menghargai aku yang sedang merasa terpuruk.

Ayah mencoba mengenalkanku pada seseorang bernama D. Selama perkenalan orang itu lebih banyak diam. Perawakannya tinggi besar. Tapi aku tida ada rasa sama sekali dengan D. Paling malas kalau harus berkomunikasi dengan orang yang pendiam.

Ramadhan tiba, aku bermunajat pada Allah SWT sepenuh hati. Satu bulan aku menginap di masjid. Alhamdulillah sekolah tempatku mengajar, libur satu bulan. Kedua orangtuaku menyanggupi, aku sekalian berjualan di bazarnya. Allah menunjukkan siapa sebenarnya R. Aku ternyata hanya pelampiasan. R sedang bertengkar dengan kekasihnya. Aku diteror oleh kekasihnya karena dia menyangka aku masih berhubungan dengan R. Marah, sedih, tidak menyangka kalau kelakuannya seperti itu. Ditambah aku percaya karena dia temannya sepupuku.

Di saat yang bersamaan D mulai mendekatiku. Pura-pura salah sms atau miss call. Dia yang menguatkanku. Dia bilang, Allah maha baik. Minta saja, maka Allah akan memberi, apalagi ini bulan Ramadhan. Supportnya membuatku bangkit perlahan. Selesai Ramadhan aku pindah ke mess yang disediakan sekolah, sepertinya aku perlu mengasingkan diri dari keluargaku. Aku masih belum sanggup melihat adikku didatangi kekasihnya setiap malam minggu.

Ada lagi teknisi komputer S namanya, kami juga sempat dekat, dia perhatian padaku tapi ternyata hanya untuk mendekati temanku, D. Sedikit kecewa, tapi aku berusaha bijaksana dengan mengantarkan mereka untuk menyiapkan keperluan dalam pernikahan, termasuk saat mau membuat undangan. Aku teringat pesan Ustadz Yusuf Mansur. Do’a yang banyak, bayangkan meja ijab qabul dan bershalawatlah. Pasang kartu undangan ganti namanya.

Aku mencoba mengikuti saran beliau tersebut. Aku minta salah satu undangan pada percetakan saat menemani D mempersiapkan pernikahannya dengan S. Aku ganti nama mempelainya menjadi Anisah dan titik-titik. Aku tulis tanggal pernikahanku 9 April 2016. Lalu aku tempel di dinding kamar. Tujuannya biar setiap orang yang masuk ke kamarku bisa mendo’akan.

Aku juga jadi dekat sama sepupuku yang satu lagi. Dia bilang kita harus mengikhlaskan yang terjadi. Allah punya gantinya yang lebih baik. Setiap ada masalah ingatlah bahwa kita punya Allah yang akan menyelesaikan semua masalah kita. Dia mengajakku untuk banyak bersedekah dan membantu orang lain. Kalau ada acara keluarga datang lebih awal, bantu masak atau mencuci piring, pokoknya bantu orang, deh.

Begitulah, jatuh bangunku dalam menemukan jodoh sudah cukup panjang dan terasa melelahkan. Namun aku tidak putus asa, meskipun sudah pasrah saja apa yang terbaik menurut Allah.

Saat Allah Mengabulkan Doa

Memasuki Idul Adha, aku terbiasa berjualan hewan ternak secara online. Entah bagaimana awalnya, Erick temanku waktu SMA, berniat untuk membantuku menjualkan hewan-hewan ternak ini. Dari percakapan itu, berlanjut ke percakapan yang lebih pribadi. Mulai ada yang hilang jika Erick tidak mengabariku. Tapi dia suka kucing, sementara aku tidak suka kucing. Alergi sama bulunya. Akhirnya aku mencoba berbesar hati dengan mengenalkan Erick pada mba Dian, teman mengajarku di bimbel karena sama-sama suka kucing aku pikir akan cocok.

Ternyata hubungan mereka tidak berlangsung lama, justru hubungan kami yang semakin erat. Erick merasa nyaman denganku, begitu pula aku. Aku menceritakan semua masalah di rumahku.  Masalahku dengan adikku. Setiap malam Erick menghubungiku dan akhirnya kami berencana untuk menikah. Dari awal kami sudah pada titik pasrah. Dia baru saja ditinggal istrinya. Perceraian mereka sudah ketok palu. Pernikahan yang baru berumur setahun. Aku pun pasrah, karena lelah berharap seperti yang sebelum-sebelumnya. Rasanya lelah harus jatuh bangun berkali-kali. Jatuh cinta dan patah hati lagi.

Mungkin itulah jodoh. Di saat aku sudah pasrah dan menyerahkan keputusannya pada takdir, Erick menunjukkan keseriusannya. Kami memutuskan untuk mengadakan pernikahan di bulan April, sesuai dengan undangan pancingan yang kubuat dan ditempel di kamar messku. Hanya tanggalnya saja yang mundur 7 hari, disesuaikan dengan hari ulang tahun ibuku.

Aku tidak pernah menyangka jika suamiku adalah teman SMA-ku dan dipertemukan saat kami dalam keadaan terpuruk. Allah memang mendengar seluruh do’aku. Pasrah, pada titik inilah Allah akan memberikan yang terbaik yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Seperti saat ini, kami sudah setahun menikah, dan masih menanti momongan. Sepertinya Allah sedang kangen dengan do’a dan kepasrahan kami.

Tulislah apa yang kamu inginkan, sambil di doakan dan Allah akan mengabulkannya. Jika belum dikabulkan teruslah berpikiran positif, mungkin jodohmu ada di ahirat. Sejatinya pemberian jodoh di dunia adalah kebahagiaan dan ujian. Ujian bagaimana kita bisa menjaga rumah tangga kita secara utuh dan memberikan yang terbaik untuk pasangan kita.

Allah sudah menuliskan nama pasangan kita di lauhul mahfudz, tugas kita hanya berusaha mendapatkan yang sesuai, sekufu dan seiman. Semoga Allah menjadikan keluargaku sakinah mawaddah wa rahmah, diberi keturunan yang cerdas, sehat serta soleh dan solehah. Amiin ya Robbal’alamiin.

(Anisah Widyastuti)

 

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Dari CV Turun ke Hati

    Siang ini, saat aku tengah asyik mengeksplor Instagram, mataku tertumbuk pada postingan se…
  • Melukis Pernikahan Berwarna Surga

    Pernikahan bahagia. Dua kata yang diimpikan setiap insan. Pernikahan ini menjadi tumpuan h…
  • Jodoh yang Tak Diduga

    Tidak pernah terpikir kalau saya akan menikah di usia 22 tahun. Memang sih, saya pernah pu…
Muat Lainnya Keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…