Home Keluarga Jodoh yang Tak Diduga

Jodoh yang Tak Diduga

5 Menit Durasi Baca
0
0
18

Tidak pernah terpikir kalau saya akan menikah di usia 22 tahun. Memang sih, saya pernah punya target menikah usia 23 tahun. Tapi sampai nyaris pertengahan tahun tidak ada jua tanda-tanda bahwa saya akan menikah. Akhirnya saya lebih memilih pasrah. Wislah apa kata Allah saja. Toh saya yakin Allah pasti tahu yang terbaik bagi umat-Nya.

Semua berbeda ketika 4 Juli 2015. Saya dihubungi oleh seorang pria lewat BBM yang menanyakan apakah saya sudah punya calon atau belum. Melihat namanya saya sangat terkejut. Ditambah pria yang menghubungi itu pria yang selama 3 tahun terakhir sering membuat saya galau. Bukan, kami bukan pacaran, hanya yaaa…

Begini ceritanya…

Tahun 2012, H+3 usai Idul Fitri, saya bertemu dengan dia di kampung keluarga besar kami, Kuningan, Jawa Barat. Yap, kampung kami sama. Sebelumnya saya pernah bercerita pada ibu bahwa beberapa kali saya ada kontak dengan dia. Tapi ibu malah menyangka itu karena kami punya hubungan khusus. Padahal tidak sama sekali. Toh kami hanya SMSan biasa saja dan intensitasnya sangat jarang. Meskipun saya akui ada rasa kagum dengan dia, tetap saja saya sadar diri bahwa saya bukanlah siapa-siapa.

Kembali ke 2012, tidak disangka di belakang saya ibu cerita ke ibunya dia bahwa kami sering kontak-kontakan. Dan dengan polosnya ibu saya bilang bahwa saya suka dengan anaknya! Oh my God. Maka gemparlah seluruh keluarga besar kami. Ketika saya bertandang ke rumah neneknya, saya langsung diledek habis-habisan dan seperti dijodoh-jodohkan dengan dia oleh keluarga besar kami yang sedang berkumpul. Karena kejadian memalukan itu, saya pun mencecar ibu dan ayah. Saya pikir mereka pasti sudah bicara yang tidak-tidak pada keluarganya. Akhirnya ibu pun mengaku bahwa beliau sudah bercerita pada ibunya kalau saya suka dengan anaknya. Hiks, Ibu, Ibu…

Hanya malu yang teramat sangat yang saya rasakan. Tapi ketika dia dan keluarganya mau pulang lagi ke Lamongan (dia dan keluarganya memang tinggal di Lamongan), dia SMS saya dan bilang, “Kita fokus aja dulu, sembari Kakak cari modal buat hari H.”

Towengggg. Hati saya makin tidak karuan. Kenapa jadinya seperti ini? Kenapa dia menganggap serius guyonan itu? Kenapa dia tiba-tiba ingin menikahi saya? Kalaupun saya memang suka dengan dia, apa dia yakin bisa suka dengan wanita biasa-biasa saja seperti saya? Hah, entahlah. Yang jelas ada rasa senang sedikit kalau dia menganggap serius. Tapi sejujurnya lebih banyak terasa bebannya. Karena itu artinya saya harus mulai berbenah diri. Atau dengan kata lain harus bisa menyeimbangi laki-laki luar biasa seperti dia.

Dari kejadian itulah, komunikasi saya dengan dia justru semakin intens. Hampir setiap hari saya dan dia SMS-an. Karena jarak kami memang berjauhan. Saya di Bekasi, dia kerja di Surabaya. Sebenarnya ada rasa takut juga. Takut kalau-kalau hubungan kami ini menjurus ke arah pacaran. Apalagi saya baru saja memutuskan untuk berhijrah dan tidak pacaran lagi. Tapi kejadian di kampung itu benar-benar tidak bisa saya lupakan. Saya merasa harus menjaga dia baik-baik.

Ujian Kesabaran

Tapi mungkin Allah masih menyuruh saya bersabar. Awal 2013 hubungan kami menjadi renggang. Banyak hal yang terungkap selama kami melakukan kontak. Ya, selama kontak itu kami memang saling mengorek kehidupan masing-masing. Dan ternyata banyak ketidakcocokkan di antara kami sampai akhirnya dia memilih menjauh dari saya.

Saya galau, sakit hati, kecewa, marah. Mengapa dulu harus ada cerita itu? Mengapa dulu dia tidak pernah berpikir panjang sebelum mengucapkan, “fokus pada hari H” yang membuat hari-hari saya justru diliputi banyak harapan? Pupus rasanya harapan saya untuk membahagiakan kedua orang tua saya karena saya tidak bisa menikah dengan dia. Ditambah cerita dia bahwa orang tuanya juga kecewa karena dia tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk menikahi saya. Hiks…

Entah berapa malam saya menangisi dia. Karena sejujurnya saya masih sangat berharap agar dia bisa kembali pada saya. Sholat-sholat malam pun saya lakukan. Di setiap do’a, saya selalu menyebut namanya. Berharap agar Allah meluluhkan hatinya.

Tapi untunglah, Allah menolong saya dengan cara lain. Saya memilih bangkit. Saya sibukkan diri dengan kerja, kuliah dan mengikuti berbagai kegiatan jika hari libur. Saya juga lebih banyak membaca buku dan berkumpul dengan keluarga. Sampai akhirnya, saya lupa pada harapan-harapan saya pada dia. Sampai akhirnya, saya bisa mengikhlaskan dia. Karena saya tahu, kalau saya masih berharap padanya, dan kenyataannya nanti berbeda atau katakanlah dia menikah dengan orang lain, itu akan lebih menyakitkan bagi saya.

Biarlah orang tua saya dan orang tuanya mungkin kecewa, tapi toh mereka lama-lama pasti akan mengerti bahwa pernikahan bukan sekadar jodoh-jodohan.

4 Juli 2015

BBM saya berbunyi. Terkejut melihat namanya. Dalam hati saya hanya meringis, “Please, Kak, Ade lagi nggak kepingin nangis.”

Awalnya dia hanya basa-basi menanyakan kabar. Lalu datanglah pertanyaan, “Apa kamu sudah punya calon?”

Dan dia berkata lagi, “Apa yang bisa membuat saya bahagia bila menikah dengan dia?”

Saya hanya berpikir, mungkinkah dia masih dipaksa orang tuanya? Tapi dia bilang tidak. Dia ingin menikah dengan saya dan semua atas kehendaknya sendiri.

Dengan perasaan kagum yang masih tersisa, tapi hati yang ragu-ragu, saya hanya bilang padanya, bahwa dia lebih baik bertanya pada orang tua saya. Kalau mereka menjawab “Ya”, maka saya juga “Ya”. Dan jawaban orang tua saya adalah, “Ya”.

Oke, tinggal saya yang kelimpungan. Perasaan menjadi tidak karuan. Ya Allah, apakah ini nyata? Apakah benar dia mau melamar dan menikahi saya? Dengan mengucap Bismillah, saya coba meyakinkan diri. Saya maju.

Setelah BBM itu, dia menelepon orang tua saya dan orang tuanya. 10 Juli 2015 ditetapkanlah sebagai hari lamaran kami. Dia melamar saya di kampung. Setelah lamaran, kami langsung mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk pernikahan nanti. Takjubnya, seharian itu langsung selesai urusan surat menyurat. Kami tinggal mempersiapkan hari H pernikahan kami yang sudah ditetapkan pada tanggal 22 Juli 2015.

Semua serba cepat. Orang tuanya yang memutuskan agar kami tidak berlama-lama lagi. Qadarullah, semua berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Memang beruntung karena kami sama-sama punya banyak saudara yang mau membantu. Meskipun mereka juga terkejut karena pernikahan ini terhitung sangat dadakan. Waktu kurang lebih dari 3 minggu, benar-benar tidak ada yang disia-siakan. Hingga pada akhirnya 22 Juli 2015, resmilah kami jadi suami istri. Masya Allah. Sungguh Allah dengan rencananya yang tidak pernah terduga.

Maka sampai di sini, untuk siapapun yang sedang menanti jodoh, yakinilah bahwa Allah sebaik-baik Dzat yang Maha Tahu. Ia lebih tahu kapan waktu yang tepat untuk mempertemukan kita dengan sang jodoh. Barangkali kita khawatir, barangkali kita resah, barangkali kita berharap. Tapi percayalah, jika kita tetap memperbaiki diri, murni meniatkannya hanya untuk Allah, di situlah Allah memainkan peran-Nya. Dan kita tidak perlu berharap pada manusia, karena yang perlu kita lakukan hanya berusaha dan memasrahkannya total pada Allah SWT.

(Ade Delina Putri)

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Dari CV Turun ke Hati

    Siang ini, saat aku tengah asyik mengeksplor Instagram, mataku tertumbuk pada postingan se…
  • Melukis Pernikahan Berwarna Surga

    Pernikahan bahagia. Dua kata yang diimpikan setiap insan. Pernikahan ini menjadi tumpuan h…
  • Jodoh di Ujung Kepasrahan

    Jodoh itu rahasia ilahi. Seberapapun kerasnya kita menginginkan seseorang, jika bukan jodo…
Muat Lainnya Keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…