Home Keluarga Melukis Pernikahan Berwarna Surga

Melukis Pernikahan Berwarna Surga

3 Menit Durasi Baca
0
0
25

Pernikahan bahagia. Dua kata yang diimpikan setiap insan. Pernikahan ini menjadi tumpuan harapan di tengah terpaan badai kehidupan. Ada dia tempat bersandar, menyemai asa hingga di sisa usia. Sayangnya tak setiap orang berhasil menempuhnya. Buktinya, angka perceraian semakin meningkat. Kehancuran rumah tangga terjadi dimana-mana. Pernikahan bahagia seakan jadi misteri. Karena banyak orang mencoba merangkainya, tapi nyatanya sebaliknya, pernikahan berujung kelabu.

“Orang baik, jodohnya pasti baik. Orang jelek ya dapat yang jelek.”

Kita telah mafhum atas perkataan ini. Namun, banyak orang salah presepsi. Mereka menunda pernikahan dengan dalih belum siap, belum jadi orang yang baik, kalau menikah sekarang, seperti apa nanti jodohnya? Atau, menolak meikah segera dan memilih kenalan dulu (baca: pacaran).

Sebenarnya, ketika mempersiapkan pernikahan, hanya ada satu hal yang perlu kita tanyakan pada diri:

“Bagaimana saya bisa mempersiapkan pernikahan bahagia?”

Islam mengatur betul bagaimana cara menyemai pernikahan bahagia. Bukankah kehidupan rumah tangga Rasul berujung pada kebahagiaan? Bahkan surga telah menjamin para ahlul bait.

Tepat Mempersiapkannya

Menikah adalah salah satu dari sunnah Nabi yang mulia. Banyak rumah tangga retak karena tidak adanya persiapan yang benar dalam pernikahan. Pernikahan seakan hanya menjadi ritual wajib dalam siklus kehidupan. Tak ayal, banyak rumah tangga hanya seumur jagung. Alasannya satu, tak ada kecocokan.

Sesungguhnya mereka hanya kurang mempersiapkan dengan baik. Karena mereka melewati satu fase terpenting pernikahan yakni menerima segala ketetapan dari Allah.

Mengawal dengan Ruhiyah

Kata Ustadz Mohammad Fauzil Adhim yang dikutip oleh Ustadz Salim A. Fillah,

“Jika ada 8 pertemuan kuliah pranikah, hendaknya enam pertemuan membahas tentang NIAT.”

Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niat. Niat karena Allah akan membuahkan banyak kebaikan, misalnya ketentraman jiwa dan kemudahan dalam setiap urusan. Segalanya terasa indah meski badai datang sekalipun. Lebih dari itu, tiap langkahnya akan jadi amal sholih karena ia meniatkannya karena Allah.

Meniatkan menikah untuk melaksanakan sunnah Nabi akan berbeda dengan niat hanya agar tak keduluan orang, agar kaya, atau agar tak ada lagi yang bertanya, “Kapan nikah?” (Hayo, siapa yang risih karena keseringan ditanya ini? Hehe).

Persiapan ruhiyah ini juga meliputi kesiapan untuk menerima segala ketentuan-Nya.
Jika hati masih belum siap untuk ikhlas, maka bahtera itu akan oleng dan akhirnya kandas. Misalnya ia ingin tinggal bersama orang tua, sedangkan pasangannya ingin hidup mandiri. Satu ingin bekerja namun pasangan inginkan ia tetap di rumah. Juga sederet permasalahan lain. Maka sabar dan syukur kunci untuk menghadapinya.

Merajut dengan Ilmu

Menikah itu soal managemen konflik. Perlu ilmu untuk mengaturnya. Bagaimana berkomunikasi dengan pasangan yang berbeda kepribadian, komunikasi dengan mertua, komunikasi dengan tetangga. Ilmu penataan ekonomi, hingga ilmu saat di ranjang. Membaca buku-buku pernikahan sangat penting. Agar kita tahu bagaimana gambaran rumah tangga sebenarnya. Jangan sampai kita terlalu banyak terlelap dengan drama Korea, di mana seorang yang kaya raya menikah dengan perempuan biasa, lalu mereka bahagia. Tidak, jangan biarkan diri kita lalai dan justru melupakan bagaimana gambaran keluarga bahagia Nabi yang elok, karena kisah akhirnya adalah surga.

Bersiap Menuju Peraduan

Apa tanda seorang dikatakan siap menikah? Hadits berikut menjawab pertanyaan ini.
“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian telah ba’ah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya. [HR. Bukhari No.4678].

Hanya ada satu tanda bahwa kita siap menikah. Bukan ia sudah memiliki mobil, rumah, sudah berhaji, bukan. Namun berdasar sabda Rasul, ia telah ba’ah.

Para ulama menyepakati satu hal, arti ba’ah adalah kemampuan biologis untuk berijma’ (berhubungan suami istri). Biasanya para lelaki telah lebih siap dari perempuan. Sehingga baik lelaki dan perempuan, perlu belajar tentang satu hal ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.” (HR. Muslim)

Tulak rusuk patah berarti perceraian. Sebelum hal yang mengerikan ini terjadi baiknya kita kembali pada Islam. Bagaimana Islam mengatur pernikahan yang bahagia.

Bagi yang telah menikah, baiknya pula kita berhenti sejenak. Barangkali sudah ada niat yang mengandung noda. Barangkali lamanya usia pernikahan justru menjauhkan kita dari kenikmatan bermunajat dan memohon pertolongan-Nya. Semoga Allah karuniakan kekuatan untuk melukis rumah tangga berwarna surga, yakni sakinah mawadah warahmah.

(Nabila Cahya Haqi)

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Dari CV Turun ke Hati

    Siang ini, saat aku tengah asyik mengeksplor Instagram, mataku tertumbuk pada postingan se…
  • Jodoh di Ujung Kepasrahan

    Jodoh itu rahasia ilahi. Seberapapun kerasnya kita menginginkan seseorang, jika bukan jodo…
  • Jodoh yang Tak Diduga

    Tidak pernah terpikir kalau saya akan menikah di usia 22 tahun. Memang sih, saya pernah pu…
Muat Lainnya Keluarga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…