Home Kepribadian Persona, Topeng Karakter Yang Dimainkan Sesuai Kebutuhan

Persona, Topeng Karakter Yang Dimainkan Sesuai Kebutuhan

5 Menit Durasi Baca
0
0
15

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarokatuh,

Sahabat Muslimah, sebelum memulai untuk sharing tentang Materi Kepribadian saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya. Beberapa waktu yang lalu ada salah satu rekan kerja saya yang datang ke rumah untuk bersilaturahim, ini merupakan kali pertama beliau berkunjung kerumah saya dan ini merupakan pertemuan kami yang pertama sejak saya mengundurkan diri.

Rekan kerja saya ini seorang wanita, dimana dulu beliau adalah Admin yang merangkap sebagai Assisstant saya saat saya bekerja di salah satu perusahaan asing dan beliau adalah orang terdekat saya di kantor untuk urusan pekerjaan. Tapi lambat laun kami menjadi bersahabat dan menjadi dekat meskipun di luar urusan pekerjaan.

Singkat cerita, setelah rekan saya tersebut sampai di rumah, saya mempersilakannya untuk masuk, duduk dan ramah tamah. Setelah beberapa saat, tiba-tiba beliau berkata, “Iiihhh, baru pertama kali lihat Bu Ratih pake daster, Ibu beda banget! Keliatan kayak emak-emak banget. Jillbabnya juga beda.” Ia menutup kata-katanya dengan sebuah tawa dan dengan wajah tidak berdosa.

Mendengar kata-kata rekan kerja tersebut awalnya saya agak gimana gitu, tapi dia memang benar dan tidak ada yang salah dengan kata-katanya. Saat bertemu dengan beliau saya memakai daster batik panjang yang menyerupai gamis dan juga jilbab instan bahan kaos yang panjangnya sampai menutup separuh badan saya. Sedangkan sebelum-sebelumnya kami bertemu di kantor, pakaian dan jilbab yang saya kenakan sangat berbeda sekali.

Jika bekerja saya selalu memakai gamis yang kadang saya lapisi dengan blazer atau outer dan dilengkapi dengan jilbab non instan (jilbab segi empat). Nah, masalahnya sekarang saya menjadi ibu rumah tangga yang di rumah 24 jam, kan rasanya aneh kalau saya nyuci baju atau nyapu halaman rumah sambil pakai blazer, makanya saya menyesuaikan pakaian saya dengan situasi dan kondisi saya saat ini.

Persona

Dari cerita saya di atas saya jadi teringat salah satu materi Psikologi yang sempat saya pelajari dan semoga dapat bermanfaat bagi Sahabat Muslimah semua. Dalam dunia Psikologi ada salah satu konsep kepribadian yang dicetuskan oleh salah satu tokoh Psikologi dunia yang bernama Carl Gustav Jung, konsep ini dinamakan Persona.

Menurut Wikipedia Persona atau Personae berasal dari bahasa Latin, di mana kata tersebut awalnya ditujukan kepada sebuah topeng teatrikal, dan dalam bahasa Yunani, Persona berasal dari kata Prosopon.

Dalam Psikologi pengertian Persona adalah topeng yang dipakai manusia sebagai respon tuntutan, kebiasaan dan tradisi (Masking), atau lebih sederhananya bisa juga diartikan sebagai “topeng karakter”. Disadari atau tidak, kita semua mengaplikasikan Persona dalam kehidupan kita sehari-hari. Iya, kita semua memakai “topeng” sesuai dengan karakter yang sedang kita perankan.

Sebagai contoh, kita sebagai seorang wanita memiliki beberapa peran misalnya:

– Peran sebagai seorang anak terhadap orang tua kita.

– Peran sebagai kakak terhadap adik kita.

– Peran sebagai adik terhadap kakak kita.

– Peran sebagai istri terhadap suami kita.

– Peran sebagai Ibu terhadap anak kita.

– Peran sebagai menantu terhadap mertua kita.

– Peran sebagai bawahan bagi atasan kita di kantor bagi yang bekerja, dst.

Untuk masing-masing peran di atas kita memakai “topeng” yang berbeda-beda, disesuaikan dengan peran yang sedang kita mainkan, topeng di sini bisa dari tampilan fisik, sikap, perilaku dan juga tindakan. Contoh sederhana adalah cara kita berbicara dengan anak kita tentu akan berbeda dengan cara kita berbicara dengan orang tua kita, atau contoh lain cara berpakaian kita saat akan pergi menghadiri undangan pernikahan tentu akan berbeda dengan saat kita akan membeli beras ke warung sembako di sebelah rumah, dst.

Persona adalah…

Semoga penjelasan dan contoh yang saya berikan terkait dengan Persona cukup jelas dan mudah dipahami oleh Sahabat Muslimah semua. Sekarang saya akan berbagi beberapa catatan tentang Persona yang harus digaris bawahi, yaitu:

  • Persona berbeda dengan munafik, karena dalam persona meskipun kita berganti-ganti peran namun kita tetap menjadi diri kita sendiri dan menampilkan yang sesungguhnya. Sedangkan munafik adalah perilaku yang tidak adanya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
  • Persona berbeda dengan Pencitraan atau Fake People, penjelasannya kurang lebih sama seperti penjelasan yang ditulis pada nomor 1.Yang perlu ditambahkan di sini, Fake People biasanya akan melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangkan akan satu hal dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan kadang dilakukan oleh seorang Bootlicker.
  • Persona adalah tetap menjadi diri sendiri, karena meskipun peran yang kita mainkan berbeda-beda namun apa yang ditampilkan tetap dari dalam jiwa yang sama hanya disesuaikan dengan keadaan saja dan tidak direkayasa.
  • Persona sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita menjadi manusia yang sadar akan peran serta tuntutan dalam hidup bermasyarakat.
  • Pada intinya agar kita dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan bukannya menuntut agar lingkungan menyesuaikan dengan kita.
  • Jangan terjebak atau merasa nyaman hanya dalam satu Persona saja karena hal ini akan menyulitkan kita dalam bersosialisasi.

Contoh Nyata

Contoh yang pernah saya alami adalah, saya pernah bertemu dengan karyawan wanita yang anak tunggal. Orang tuanya cukup berada dan sangat memanjakan dia sehingga membuat karyawan tersebut sangat ketergantungan kepada orang tuanya dan dia sudah terlalu nyaman dengan kehidupan yang serba mudah. Hal ini menyulitkan karena saat itu terjun ke dunia kerja ia tidak melepaskan Personanya sebagai anak tunggal sehingga jika ada permasalahan sedikit langsung marah, ngambek, nangis, bahkan ngadu kepada orang tuanya, dan dia juga pernah meminta saya untuk memecat salah satu karyawan yang tidak ia sukai.

Lalu apakah saya menuruti permintaan dia? Tentu tidak! Justru sebaliknya, saya sampaikan kepada karyawan tersebut bahwa dalam dunia kerja tidak boleh dicampur aduk dengan urusan keluarga. Dalam dunia kerja kita tidak dapat memilih lingkungan kerja seperti apa yang akan kita temui, atasan seperti apa yang akan kita miliki dan rekan kerja seperti apa yang akan bekerjasama dengan kita. Maka dari itu kuncinya adalah bagaimana kita dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, jangan menuntut agar lingkungan menyesuaikan diri dengan kita. Pilihannya hanya ada dua : take it or leave it.

Jika karyawan tersebut tetap memakai “topeng” sebagai anak manja maka ia tidak akan dapat bertahan meneruskan pekerjaannya karena yang namanya permasalahan atau konflik di dunia kerja pasti akan selalu ditemui. Tidak lama kemudian dia mengundurkan diri dan dia juga membenci saya karena katanya saya tidak objektif karena tidak membela dia.

Nah, semoga apa yang saya bagikan di materi Kepribadian Muslimah kali ini dapat bermanfat untuk Sahabat Muslimah semua, dan seperti biasanya bagi yang ingin menambahkan atau ingin berdiskusi dipersilakan dengan senang hati.

Semoga bermanfaat.

(Ratih Sophie Azizah)

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
Muat Lainnya Kepribadian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…