Home Literasi & Blogging Suara di Balik Senja

Suara di Balik Senja

10 Menit Durasi Baca
0
0
45

Pukul lima sore hari. Arintya mengalihkan pandangannya dari jam dinding. Ia mulai menaiki tangga, berjalan menuju balkon belakang rumahnya. Waktu-waktu seperti inilah yang selalu ia tunggu. Melepas pandangannya, menembus tembok pembatas perumahan mewah dan perumahan warga sederhana.

Sejak remaja ia tinggal di rumah mewah ini. Tapi ia tak pernah bisa mengerti, mengapa tembok setinggi ini harus berdiri? Memisahkan antara lingkungan rumahnya dengan rumah penduduk asli yang telah lebih dahulu tinggal di kawasan ini.

Perlahan sebuah lantunan puja dan puji terdengar. Arintya memejamkan mata, menikmati lantunan tersebut seiring embusan napas dan lembutnya angin sore yang menyapa wajahnya.

Lantunan itu membuatnya menelesuri kembali lorong waktu yang pernah ia lalui, menggiring tatapnya ke sebuah gedung yang berada di seberang jalan di hadapannya. Gedung sebuah kampus yang selalu ramai dengan aktifitas para penghuninya.

Bukan sekali dua kali Arintya dibuat penasaran oleh suara lantunan itu. Hingga satu hari ia nekat pergi melewati tembok pembatas menuju gedung, memasuki gerbang kampus kemudian terpaku di sebuah halaman gedung yang bercat hijau dengan atap kubah.

Arintya meneruskan langkahnya, memasuki pelataran, mendekatkan diri ke sebuah kaca jendela. Tatapannya menembus ke dalam, menatap seorang pemuda yang sedang menunduk menatap bacaan yang berada di sebuah meja kecil.

“Mba…, Mba ….”

Sebuah teguran membuat Arintya mengalihkan pandangannya ke asal suara.

“Tempat perempuan di sebelah sana.” Lanjut seorang lelaki tua berkopiah.

Arintya tersenyum mengangguk. Kemudian melangkah pergi. Hatinya penuh rasa bahagia karena ia telah berhasil menemukan pemilik suara di setiap senja menjelang.

Sejak hari itu segalanya berubah. Arintya kerap berusaha berada di rumah sebelum pukul lima. Suara puja dan puji itu selalu ia dengarkan dari balkon belakang rumah sambil menatap gedung hijau beratap kubah. Semakin lama, semakin ia dapat mengenali pemilik suara itu. Ia tahu kapan tepatnya pemuda itu masuk dan keluar gedung.

Sebagai seorang remaja yang beranjak dewasa, Arintya tak dapat menolak gejolak dalam dirinya. Ia terbiasa memiliki segala yang ia minta. Hingga satu kali di saat makan malam ia menyatakan keinginannya di depan kedua orang tuanya.

“Papi ngga keberatan kamu minta pindah kuliah. Kamu bisa bebas pilih universitas bahkan yang ada di luar negeri sekali pun. Tapi tidak di kampus seberang jalan itu, Arin!” Nada suara Papi Arintya meninggi saat mengetahui permintaan putri semata wayangnya saat itu.

“Jakarta macet, Pi. Arin mau kuliah yang dekat. Biar bisa fokus belajar.” Kilah Arin malam itu.

“Cari kampus lain yang dekat juga. Jangan di situ.”

“Arin maunya di situ!”

“Jangan macam-macam, Arin! Kamu ngga bisa berada di sana.” Tukas lelaki yang sudah mulai beruban itu.

“Dengar Papimu, Arin. Kampus itu berbeda. Kamu ngga bisa masuk ke situ.” Mami Arin pun ikut membujuk.

“Arin sudah menyiapkan semuanya, Mi, Pi. Mulai minggu depan Arin sudah pindah kuliah di sana.”

Arintya adalah seorang gadis manja yang keras kepala. Tak ada seorang pun yang dapat melarangnya. Jika pada awalnya kedua orang tua menganggap keinginan itu adalah sebuah lelucon, waktu telah menjawab bahwa Arintya serius.

Tak ada masalah yang Arintya hadapi selama kuliah. Pelajaran dan kehidupan sosialnya berjalan dengan baik. Dan yang pasti ia berhasil menatap pemuda pemilik suara setiap senja dari jarak dekat.

Fauzan. Pemuda yang selama ini menari dalam otak Arintya. Beberapa kali Arintya berhasil berada di dekat Fauzan, mencoba melontarkan senyum dan menyapa. Tapi sayangnya, Fauzan tak memberinya respon sedikit pun. Jangankan berbicara santai berdua. Sekedar membalas tatapan mata Arintya, Fauzan tak pernah mau.

Tapi Arintya tak putus asa. Ia tetap berjuang. Setiap sore ia duduk di teras samping gedung bercat hijau dan beratap kubah, mendengarkan dan menatap Fauzan dari balik jendela. Dan semua penghuni kampus mengetahui kebiasaan Arintya.

Hingga sampai di satu waktu, orang yang biasa ia nanti tak juga datang menempati posisi seperti biasanya. Lima belas menit sudah ia menanti, tapi Fauzan tak juga hadir. Arintya mulai menatap satu per satu orang yang lewat, mencari keberadaan pemuda itu. Tetapi tetap saja tak ia dapati.

Satu hari, dua hari hingga satu minggu Arintya tetap duduk di samping teras gedung bercat hijau dan beratap kubah itu tapi tak ada sosok dan alunan suara merdu Fauzan di senja hari. Tapi Arintya tetap berada di tempat biasanya pada waktu yang sama, dan ia hanya bisa menunduk pasrah dan menarik napas panjang. Saat tahu, ia akan melewati senja tanpa suara merdu itu lagi.

“Arintya.” Suara panggilan di salah satu senja itu membuatnya tercengang.

“Jauh lebih baik jika kau masuk ke ruangan itu. Banyak ilmu yang bisa kau dengar di sana dibanding kau duduk di sini hampir dua jam lamanya.”

Arintya berusaha mengatur degup jantungnya. Mengendalikan rasa gembira yang bercampur dengan rasa kikuk karena Fauzan telah berdiri di hadapannya dan memintanya masuk ke ruangan khusus perempuan.

“Ta-tapi…, aku….”

“Tak ada yang akan memaksamu untuk mengubah keyakinan di sana. Masuklah. Kau lebih aman di sana. Banyak fitnah yang terjadi saat seorang gadis berada di luar sini.”

Arintya menelan ludah. Keringat dingin keluar memenuhi keningnya. Ia merapikan tas kemudian bangkit dan berjalan menuju ruangan yang Fauzan maksud tadi.

Kini Arintya berada di depan pintu ruangan itu. Ada sedikit keraguan untuk melanjutkan langkah. Ia sempatkan menatap kembali ke tempat tadi, Fauzan masih berdiri di sana, memberikan senyum tipis dan anggukkan kecil sebagai bentuk dukungan.

Untuk pertama kalinya Arintya berada di ruangan ini. Mahasiswi-mahasiswi semuanya berkerudung lebar menyambutnya dengan senyuman. Arintya mengambil tempat di dekat pintu masuk. Lantunan puja dan puji dari merdunya suara Fauzan kembali ia dengar. Arintya tetap duduk, melihat semua kegiatan mahasiswi yang berada di sini.

Dan mulai saat itu di setiap senja, Arintya berada di dalam ruangan perempuan. Benar yang Fauzan katakan, kini ia tahu nama kegiatan apa saja yang mereka lakukan di gedung ini. Mulai dari Fauzan yang mengaji sebelum mengumandangkan azan, kemudian salat maghrib, belajar mengaji hingga selesai salat isya.

Fauzan juga benar, tak ada satu orang pun yang memaksanya pindah keyakinan yang bahkan sejak lama telah ia tinggalkan. Semua menyambutnya selayaknya sahabat sama seperti biasanya. Tapi tak ada juga yang dapat membendung ketertarikannya pada kegiatan di dalam masjid ini. Arintya pun mulai bergabung belajar membaca a ba ta dan mendengarkan kajian Al Qur’an yang dibawakan oleh Ustazah di sana.

Arintya semakin mudah bergaul. Ia bersahabat dengan semuanya termasuk Ustazah Farah. Tak lagi sungkan, ikut dalam senda gurau selepas mengaji dan ikut bergembira saat ada salah seorang yang mendapatkan sebuah proposal ta’aruf.

Kedekatan dan kenyamanan dengan semua teman-temannya itu membuat Arintya yakin untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Keputusannya itu bukanlah tanpa cobaan. Arintya kembali berhadapan dengan kemarahan kedua orang tuanya. Mereka kecewa, sakit hati dengan keputusan Arintya yang berakibat dirinya harus meninggalkan rumah.

Senja hari yang berat bagi Arintya saat itu. Satu hari selepas ia bersyahadat dan juga memutuskan berhijab, ia harus meninggalkan rumah. Tak banyak yang ia ucapkan saat berada di masjid kampus kali ini. Ia tersenyum untuk menutupi semua kesedihannya. Ia sama sekali tidak fokus dengan apa yang dibahas dalam kajian dari awal hingga selesai. Bahkan saat teman-temannya ramai membicarakan tentang sebuah proposal ta’aruf.

Sebuah proposal dari seorang ikhwan yang kerap menjadi perbincangan di antara akhwat kampus sedang ramai jadi pembicaraan. Sebuah proposal yang belum tahu akan diberikan untuk siapa. Sebuah proposal yang berasal dari Fauzan.

Arintya hanya bisa kembali tersenyum tipis saat mendengar nama itu. Ia hanya dapat menarik napas saat melihat wajah teman-temannya tersipu. Tentu Fauzan akan memilih salah satu dari mereka, yang jauh lebih pintar tentang islam dan juga telah mahir membaca Al Qur’an. Berbeda dengan dirinya yang baru membaca Iqro dua dan mulai terseok dalam memahami arti keimanan karena harus memikirkan tempat tinggal yang harus secepatnya ia dapatkan.

“Arin…, Arintyaaa….” Sebuah teguran lembut membuyarkan lamunannya. Ustazah Farah telah duduk di sampingnya.

“Ada masalah apa? Sampai kamu menagis seperti itu?” Tanya Ustazah Farah diiringi pandangan seluruh teman-temannya.
Arintya menggeleng dan menghapus air matanya. Kemudian ia tersenyum, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Saat itu, salat isya pun selesai. Arintya tetap duduk di dalam masjid karena ia belum tahu harus ke mana. Sekali lagi Ustazah Farah menghampirinya.

“Ada baiknya menceritakan suatu masalah pada seseorang, Arin.”
Arintya hanya membalas dengan senyuman.
“Apa karena proposal yang aku umumkan tadi?”
“Bukan. Ngga ada hubungannya dengan proposal, Ustazah.”
“Benarkah?”
Arintya mengangguk mantap. Ia mengerti bahwa seluruh kampus telah mengetahui kisahnya yang dari dulu menaruh hati pada Fauzan.

“Saya sudah ikhlas untuk masalah itu, Ustazah. Selepas saya berdoa setelah sholat isya tadi, hati ini terasa ringan sekali. Kepada siapapun proposal itu berlabuh semoga itulah yang terbaik untuknya.”

“Alhamdulillaah kalau begitu, Arintya. Kalau begitu, ayo kita pulang.”

Ustazah Farah bangkit dari duduknya sedang Arintya tetap di tempat.

“Saya ngga tau harus pulang ke mana, Ustazah.”
“Maksudmu, Arin?”

“Mami dan Papi mengusir saya siang tadi. Setelah saya menceritakan keputusan saya untuk memeluk islam. Semua akses keuangan saya pun ditutup.”

“Ariiin…, Ya Allah. Jadi ini masalahmu?” Ustazah Farah kembali duduk dan memeluk Arintya.

“Ikutlah bersamaku. Aku dan suami memiliki beberapa kamar untuk disewakan.”
Arintya menggeleng dan tersenyum hampir tertawa.

“Saya ngga punya uang untuk bayar sewanya, Ustazah.”
“Gratis untukmu, Arin. Kamu bebas tinggal di sana sampai kapan pun.”

Arintya menatap Ustazah Farah dengan ragu.
“Ayolah, Arintya. Masjid kampus akan segera ditutup. Walau ngga terlalu jauh, tapi ngga enak juga kalau sudah malam kita masih berada di jalan.”

Arintya tak dapat menolak lagi. Mereka pun segera pergi meninggalkan masjid. Berjalan keluar kampus menuju gang kecil rumah Ustazah Farah. Arintya berhenti sejenak, ia menatap sebuah tembok tinggi di samping kanan gang yang mereka lewati. Di balik tembok inilah rumah yang dulu ia tempati bersama kedua orang tuanya.

Mereka terus berjalan selama lima belas menit kemudian berhenti di depan sebuah pagar bercat putih.

“Ini rumah tempat saya dan suami. Adik saya juga tinggal di sini. Ayo masuk. Tunggu sebentar saya ambil kunci kamar kos untuk kamu.”

Setelah mengambil kunci, Ustazah Farah mengantar Arintya ke kamar kos yang berada di samping rumahnya. Arintya terdiam sebentar di depan pintu kamar. Kemudian ia memeluk Ustazah Farah, tanpa diperintah air matanya meluncur dan terus meluncur. Ustazah Farah membiarkan Arintya meluapkan segala kesedihannya.

Dalam pandangannya yang berair, dari balik pundak Ustazah Farah, Arintya menangkap sosok pemuda berdiri tak seberapa jauh dari mereka.

Arintya sadar, Fauzan yang berdiri di sana. Terlintas kembali di benak Arintya obrolan ramai sore tadi, tapi entah kepada siapa proposal tadi diberikan, karena ia terlalu fokus pada masalahnya sendiri. Arintya menarik napas panjang dan mengikhlaskan masalah itu.
Arintya memberikan sebuah senyum tipis kepada Fauzan, bagaimana pun Fauzan telah memberinya sinar keindahan di balik senja melalui alunan merdu tilawahnya.

~0~

“Arin…, Arin….”
Sebuah tangan yang mulai nampak keriput menyentuh lembut pundak Arintya.

“Mami.”
“Itu sudah azan maghrib kan? Kamu kenapa masih melamun saja?” Tangan tua itu menggandeng Arintya mengajaknya masuk ke dalam.

“Arin cuma kangen sama balkon ini, Mi.” Jawab Arintya sambil menikmati angin yang memainkan ujung jilbabnya.

“Ya sudah. Kamu sholat dulu. Mami mau masak. Kamu, Fauzan dan Khalif makan malam di sini kan? Tenang, Mami masak menu halal untuk kalian. Jam tujuh nanti Papimu juga sudah sampai, jadi pas sama Fauzan dan Khalif yang pulang dari masjid. Tadi di telefon Papi bilang, kangen banget sama Khalif.”

Arintya tersenyum bahagia. Lima tahun sudah berlalu dari kemarahan mereka yang mengusirnya dulu.

Jauh dari perkiraannya, Ustazah Farah memberikan sebuah proposal ta’aruf saat pertama kali ia menempati kamar kosnya, proposal itu berasal dari adik kandung Ustazah Farah sendiri yaitu Fauzan.

Fauzan pun segera mengajukan lamaran untuk Arintya kepada kepada orang tuanya. Namun hasilnya sama pintu rumah itu tak pernah terbuka untuknya.

Doa terus mereka panjatkan agar dapat kembali merajut silahturahmi dengan kedua orang tuanya. Dan kehadiran Khalif menjadi jawaban untuk meluluhkan hati kedua orang tuanya.

~TamaT~

 

Muat Artikel Dari Anggarani
  • Alur dan Pengaluran (Fiksi)

    Banyak yang mempersamakan bahwa alur (plot) merupakan jalan cerita. Tetapi banyak juga yan…
  • Materi Kepenulisan Non Fiksi (2)

    Temen-temen, maaf ya, postingnya kemaleman. Yuk, kita lanjutin bahas non-fiksi. Anggap aja…
  • Materi Kepenulisan Non Fiksi (1)

    Temen-temen, kemarin kita udah bahas langkah-langkah persiapan nulis non-fiksi. Adakah yan…
Muat Lainnya Literasi & Blogging

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *