Home Kepribadian Grafoterapi, Terapi Melalui Tulisan

Grafoterapi, Terapi Melalui Tulisan

5 Menit Durasi Baca
0
0
17

Assalamu’alaikum, Sahabat Muslimah.

Untuk materi Kepribadian Muslimah pada pekan ini saya terinspirasi dari tulisan Bunda Novia Syahidah Rais dalam sesi [Berbagi Inspirasi] beberapa hari yang lalu di group kita tercinta Blogger Muslimah Indonesia yaitu tentang manfaat menulis yang dirasakan oleh Sahabat Muslimah semua. Mengutip pendapat Dr. Pennebaker dalam buku “Quantum Writing” bahwasannya menulis memiliki 5 manfaat, yaitu:

  1. Menulis menjernihkan pikiran.
  2. Menulis mengatasi trauma.
  3. Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru.
  4. Menulis membantu memecahkan masalah.
  5. Menulis bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.

Setelah membaca pendapat Dr. Pennebaker dan diskusi dari Sahabat Muslimah semua, maka dapat disimpulkan bahwa menulis tidak hanya semata-mata hanya hobi atau bagian dari sastra belaka namun lebih dari itu menulis juga dapat menjadi media terapi sebagai obat yang menyembuhkan luka.

Kemarin Bunda Novia Syahidah Rais meminta pendapat saya tentang “menulis” jika dilihat dari sisi Psikologi dan saya langsung ingat dengan salah satu terapi yang di mana metodenya yaitu dengan melakukan kegiatan menulis. Terapi itu bernama Graphotherapy atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah Grafoterapi yang merupakan aplikasi dari Grafologi atau analisa tulisan tangan. Sebetulnya materinya sangat banyak sekali namun saya coba tulis intisarinya saja dan saya mencoba “mengemasnya” sesederhana mungkin agar mudah untuk dipahami.

Grafologi

Dalam ilmu Psikologi Grafologi dikembangkan oleh Ludwig Klages yang mengemukakan bahwa tulisan tangan adalah bentuk pernyataan diri dan mencerminkan kepribadian seseorang. Dalam Grafologi proyeksi ketidaksadaran disalurkan melalui tulisan tangan dan juga karya grafis yang membuat individu tidak lagi terancam.

Karya grafis adalah semua bentuk coretan tangan, gambar maupun lukisan yang dihasilkan oleh seseorang berdasarkan pengaruh sadar dan ketidaksadarannya. Perilaku/respon merupakan hasil interaksi antara kepribadian dan stimulus yang ada.

Cara kerja Grafoterapi adalah bagaimana kita mengubah kepribadian, pola pikir serta cara pandang seseorang dengan memintanya untuk menulis, tahap awal adalah seorang Grafologis akan menganalisa tulisan tangan kliennya lalu setelah diketahui masalahnya maka klien akan diminta untuk menulis dan “memperbaiki” tulisannya untuk jangka waktu tertentu, biasanya selama 30 hari. Nanti hasil akhirnya yang berubah bukan hanya tulisan tangan klien saja namun kepribadiannya pun akan berubah dan klien akan merasakan perubahannya bahkan biasanya sebelum 30 hari pun perubahannya sudah dapat dirasakan.

Setiap bentuk huruf yang ditulis oleh klien memiliki kecenderungan postif dan negatif. Nah…. dalam Grafoterapi seorang Grafologis akan mengarahkan klien untuk memperbaiki kecenderungan negatif tersebut menjadi kecenderungan positif.

Secara garis besar hal-hal yang dianalisa dari tulisan klien meliputi :

  1. Daerah/wilayah tulisan tangan (apakah di atas, di tengan, atau di bawah garis).
  2. Besar/kecilnya tulisan tangan.
  3. Kemiringan tulisan (apakah miring ke kanan atau miring ke kiri).
  4. Arah tulisan (apakah mendatar, naik atau turun).
  5. Lebar tulisan.
  6. Spasi/jarak tulisan.
  7. Margin/tepian tulisan.
  8. Kecepatan dalam menulis.
  9. Huruf besar dalam tulisan.
  10. Lengkungan tulisan dan huruf unik.

Biasanya Grafoterapi digunakan untuk mengatasi kendala Life Trap dari seseorang. Life Trap adalah jebakan hidup yang tanpa sadar dimiliki oleh setiap orang dan biasanya dipengaruhi oleh pola asuh masa kecil.

Jenis-jenis Life Trap

  1. Abandoment

Kurang rasa aman dalam keluarga karena kehilangan orang yang dicintai dan membuat merasa terbuang.

Perilaku yang muncul: Mencari teman, selalu menunjukkan sikap baik walaupun orang lain buruk, merasa tidak berarti, mengasihani diri sendiri.

  1. Mistrust and Abuse

Sering dibohongi dan dilecehkan.

Perilaku yang muncul: Membuat seseorang tumbuh dengan rasa curiga, was-was, ketakutan yang besar, cenderung tidak mudah percaya kepada orang lain, memiliki asumsi buruk, menganggap orang lain penipu yang ingin mengambil keuntungan.

  1. Dependence

Biasanya terjadi karena orang tua yang terlau over protective.

Perilaku yang muncul: Merasa harus tergantung kepada orang lain, selalu meminta pertimbangan orang lain, ragu-ragu, bingung dalam membuat keputusan.

  1. Vulnerability

Karena sering ditakut-takuti, terlalu dijaga ketika masih kecil.

Perilaku yang muncul : Rapuh yang berlebihan, khawatir terhadap penyakit, kondisi keuangan, ragu untuk keluar dari zona aman, menganggap dunia tidak aman dan menakutkan.

  1. Emotional Deprivation

Masa kecil kurang mendapatkan kehangatan emosi dan kasih sayang yang cukup.

Perilaku yang muncul: Merasa tidak dipedulikan dan orang lain tidak mengerti perasaanya, jadi tidak peduli, merasa tidak penting, tidak layak dicintai, sering berganti-ganti pasangan.

  1. Social Exclusion

Mengasingkan diri dari lingkungan sosial.

Perilaku yang muncul: Merasa tidak bisa diterima karena berbeda, biasanya disebabkan oleh penilaian buruk orang lain atau perlakuan menyakitkan oleh orang terdekat (keluarga, sahabat, saudara) sehingga membuat menjadi tertutup dan enggan berhubungan dengan orang lain.

  1. Defectiveness

Harga diri rendah yang disebabkan oleh serangan kritik dimasa kecil.

Perilaku yang muncul: Cenderung menjadi pribadi yang menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu, ada perasaan tidak berharga dan merasa tidak dicintai.

  1. Failure

Selalu merasa salah dan gagal karena sejak kecil dianggap tidak mampu melakukan apapun.

Perilaku yang muncul: Rasa percaya diri yang rendah, mengaggap hidup adalah sekumpulan kegagalan, biasanya sering melebih-lebihkan dan merasa menjadi korban kegagalan.

  1. Subjugation

Selalu ditekan orang tua, membiarkan orang lain mengontrol hidupnya.

Perilaku yang muncul: Selalu patuh dan ingin menyenangkan orang lain, suka dengan orang yang otoriter, menganggap orang lain lebih tahu dari dirinya.

  1. Unrelating Standard

Ketika kecil sering dipaksa untuk menjadi yang terbaik, menjadi nomor satu dengan mengorbankan kebahagiaan masa kanak-kanak.

Perilaku yang muncul: Memiliki standar yang tinggi yang ditetapkan sehingga menekan diri sendiri, jadi berlebihan dalam banyak hal, gagal adalah aib besar, selalu tidak puas dengan hasil yang dicapai, over achiever.

  1. Entitlement

Terlalu Dimanja

Perilaku yang muncul: Merasa selalu berhak atas apa yang diinginkan, merasa selalu ada di atas orang lain, ada perilaku kasar, merasa diri selalu lebih hebat dari orang lain, orang lain tidak harus dimengerti dan harus tunduk, dirinya sendirilah yang harus dimengerti.

Banyak diantara kita termasuk saya yang awalnya tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita memiliki Life Trap, saya pribadi baru menyadarinya setelah saya mempelajari Grafologi dan Grafoterapi. Tidak jarang kita terheran-heran dengan perilaku orang-orang di sekitar kita seperti keluarga, teman, dan rekan kerja tanpa kita tahu bahwa ada sebuah kisah dan pengalaman yang terjadi di masa lalunya yang mempengaruhi perilakunya di masa kini.

Kunci untuk memperbaikinya yaitu dengan mencari akar permasalahannya, mengubah sudut pandang dan melakukan terapi atau konseling. Grafoterapi bukan satu-satunya metode yang dapat dilakukan untuk “mengobati” Life Trap, kita dapat “mengobati” Life Trap sesuai dengan keadaan, situasi dan kondisi dari diri kita masing-masing.

Bagi Sahabat Muslimah yang mungkin saat ini masih bermasalah dengan Life Trap atau sedang menghadapi masalah lainnya dan kesulitan untuk menemukan Grafologis untuk melakukan Grafoterapi tidak usah khawatir, cara terapi sederhana adalah tetap menulis, tulis semua keluh kesah, masalah, unek-unek, harapan, mimpi, cita-cita, pokoknya jangan berhenti menulis. Insya Allah sangat membantu untuk meringankan beban dan juga pikiran.

Saya rasa cukup sekian sharing dari saya pada pekan ini, mohon maaf jika terlalu panjang padahal ini sudah saya ringkas seringkas-ringkasnya hehehe. Jika ada pertanyaan atau ingin berdiskusi silahkan tulis di kolom komentar.

Semoga bermanfaat.

(Ratih Sophie Azizah)

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
Muat Lainnya Kepribadian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…