Home Curhat Bangkit Dari Jurang Keterpurukan Yang Dalam

Bangkit Dari Jurang Keterpurukan Yang Dalam

15 Menit Durasi Baca
0
0
9

Sebut saja nama saya Syanaz.

Saya lahir dari keluarga yang berada. Sejak kecil selalu mendapatkan apa yang saya inginkan. Orang tua juga mendukung apa yang saya kerjakan. Kasih sayang dan fasilitas saya dapatkan. Kemudahan dan kemudahan membuat saya tidak tahu tentang kesusahan.

SMP, SMA, hingga kuliah saya menikmati masa- masa yang indah sebagai pelajar juga mahasiswa. Waktu berlalu, hingga lulus kuliah. Saya mendapatkan pekerjaan yang bagus karena adik dari kakak ipar saya, bekerja di sana sebagai Manager.  Kemudahan mendapat pekerjaan membuat saya kurang bersyukur atas apa yang saya dapatkan. Karena saya masih ingin mencari pekerjaan di tempat lain, sesuai dengan apa yang saya harapkan.

Di perusahaan saya bekerja, saya termasuk pribadi yang mudah bergaul. Hampir semua pegawai dan atasan yang beda divisi, mengenal saya. Saya bekerja tanpa tekanan dan sangat menikmati sebagai seorang pekerja di perusahaan tersebut.  Waktu demi waktu, saya bekerja dengan baik, walau tetap kalau waktu libur, saya menghabiskan hari libur saya bersama teman-teman saya.

Pindah Kantor

Hingga saat saya mendapatkan tawaran untuk bekerja di perusahaan lain. Saya jadi bingung dan galau. Pilihannya adalah tetap bekerja di perusahaan sekarang atau menerima tawaran pekerjaan di tempat baru. Godaan untuk merasakan dunia kerja di tempat lain dan pengalaman baru, membuat saya akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan baru.

Akhirnya setelah banyak berpikir, saya menerima tawaran pekerjaan tersebut. Banyak yang menyayangkan keputusan saya karena ada kemungkinan saya bisa menjadi pegawai tetap. Tapi karena saya menerima tawaran kerja di tempat lain, saya melepaskan kesempatan itu.

Setelah saya mengurus pengunduran diri saya dan berpamitan dengan para pegawai di sana. Ada perasaan berat ketika harus berpamitan. Karena sudah dekat dengan para pegawai di sana. Terasa berat saja ketika harus mengundurkan diri. Kami saling menangis karena tidak akan ketemu di perusahaan itu.  Tapi kami berjanji untuk tetap saling kontak.

Lokasi perkantoran yang baru membuat saya senang karena sesuai dengan harapan saya. Hari pertama saya memperkenalkan diri dan diberitahu di mana ruangan saya.  Hari itu saya mempelajari apa saja tugas saya. Perusahaan baru yang berada di pusat kota Jakarta, memang berbeda dengan perusahaan saya sebelumnya yang berada di pinggiran Jakarta. Lingkungan dan gaya memang berbeda. Saya benar-benar jatuh cinta dengan perusahaan tempat saya bekerja.

Selanjutnya saya menikmati sebagai pegawai baru di kantor baru. Suasana dan lingkungan yang berbeda membuat saya semangat bekerja di sana. Hari demi hari waktu demi waktu. Perlahan saya sudah mulai melupakan kehilangan dengan teman kantor yang baru. Kesibukan bekerja dan bergaul dengan lingkungan baru membuat saya hampir tidak punya waktu untuk hal lain. Saya sangat menikmati dunia baru saya. Semangat hidup saya tinggi.

Perubahan Pergaulan

Pergaulan dan lingkungan mempengaruhi hidup saya. Pandangan hidup saya, pemikiran saya juga kesukaan saya. Sepulang kerja kami biasa cari tempat hiburan. Club dan tempat billiard jadi tempat kami untuk hangout sepulang kerja. Begitu juga hari libur, kami menghabiskan waktu untuk kongkow. Work hard play hard. Kami sangat menikmati hidup. Apalagi saya memang suka dengan kehidupan glamour. Seperti mendapatkan teman sehati.

Perlahan kehidupan saya berubah. Saya yang terlahir dan dididik dengan agama yang kuat. Berubah menjadi seorang yang glamour. Jauh dari kehidupan islami. Ayah yang dikenal sebagai tokoh  agama, menegur dari halus sampai keras. Saya yang hidupnya sudah mapan menunjukkan sikap bahwa inilah hidup yang saya inginkan.

Tapi saya sudah punya kehidupan sendiri yang berbeda dengan orang tua saya. Lalu saya memutuskan untuk pergi dari rumah dan kos di luar. Di sana saya makin bebas. Sesuai dengan keinginan saya. Orang tua awalnya tidak setuju, tapi keinginan saya lebih kuat. Orang tua hanya memberi pesan agar hati- hati  dalam menjaga diri. Saya hanya mengiyakan.

Waktu berlalu, saya mulai jauh menikmati dunia saya. Dunia malam dan dunia hiburan jadi dunia yang biasa buat saya. Bekerja dan senang-senang. Hanya itu yang ada di hidup saya. Saya mulai terbiasa meninggalkan shalat.  Bahkan mengaji yang biasa saya lakukan dari kecil, sudah benar-benar saya tinggalkan. Saya menikmati hidup saya dengan cara saya. Minuman keras dan pergaulan yang tidak berbatas antara lelaki dan perempuan, sudah biasa bagi saya. Tapi walau tidak bermasalah dengan pergaulan bebas teman-teman saya, saya punya prinsip bahwa perempuan yang keren adalah yang bisa menjaga kehormatannya.

Teman-teman saya tahu itu semua, makanya mereka mengerti. Apalagi saya juga punya pacar sedari kuliah. Jadi tidak ada yang berani menggoda, walau saya senang berpakaian seksi dan menggoda.  Semua hanya sekadar teman senang-senang. Ya, saya sangat bangga dengan tubuh saya. Banyak yang memuji bentuk tubuh saya yang bagus, menggoda. Itu kenapa saya makin senang dengan baju seksi karena saya sangat menikmati pujian dari mereka. Paling pacar saya yang makin ketat menjaga saya. Walau dia berbeda agama dengan saya, tapi dia tidak suka dengan pergaulan hidup saya. Tapi saya bukan orang yang bisa dilarang.

Setelah lama bekerja di sini, saya mendapat tawaran kerja dari teman saya sesama suka ngumpul. Dia pemilik perusahaanya. Saya ditempatkan di bagian keuangannya. Tanpa pikir panjang saya menerima. Karena merasa sudah akrab dengan pemiliknya, saya merasa biasa saja walau di tempat baru. Sedangkan para pegawainya menghormati saya.

Rencana Pernikahan

Waktu terus berlalu. Hubungan saya dengan pacar saya yang saya jalin dari masa kuliah, sudah taraf ingin diikat dalam pernikahan. Saya mulai sibuk dengan persiapan saya menjadi istrinya. Kami yang berbeda agama, selama ini tidak dapat restu, tapi saya tetap keras hati dengan pilihan hati saya. Karena bagi saya yang menjalani pernikahan adalah saya. Jadi ini adalah hidup saya.

Bagi saya semua agama adalah sama hanya cara ibadahnya saja beda, tapi tetap bertujuan sama yaitu Tuhan.  Jadi  tidak masalah beda agama bagi saya. Apalagi pacar saya tidak masalah ikut agama yang saya yakini, yaitu Islam. Kalaupun saya yang harus ikut agamanya juga tidak masalah.  Tapi ayah menentang bahkan bilang kalau tetap menikah juga, ayah tidak akan mengakui anak. Saya menjawab dengan lantang tidak masalah. Saya orang yang keras hati, ketika sudah membuat keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya bahkan orang tua sekalipun. Tidak ada takut dalam kamus hidup saya, juga kepada orang tua.  Hanya Tuhan  yang bisa mengubahnya. Saya masih percaya Tuhan itu ada tapi tidak beribadah sesuai agama saya.

Karena merasa sudah tidak tahu bagaimana menghalangi niat saya yang ingin menikah dengan lelaki pilihan saya, ayah lalu menjodohkan saya dengan lelaki pilihannya. Dia anak murid temannya yang seorang Ustadz. Saya dikenalkan, tapi saya tidak bisa menerimanya. Bagaimana mungkin, saya sudah punya pilihan sendiri. Lagi juga dia dari kalangan pengajian,  sedangkan saya anti  dengan orang yang terlalu fanatik  dengan agamanya. Ribet. Banyak peraturan.

Ayah kecewa dan jatuh sakit. Akhirnya saya melunak sedikit. Lalu saya minta kepada pacar saya untuk tenang dulu sampai ayah sembuh. Pacar saya memahami. Yah, dengan dia saya merasa nyaman. Selalu memahami saya. Dengan dia,  saya tidak merasakan kesedihan apapun. Saya bisa merasakan cintanya yang besar. Saya tidak pernah terpikir untuk bisa terpisah dengannya. Dengan dia harapan saya melanjutkan hidup. Menghabiskan usia dengan hidup bersama. Menjalin ikatan pernikahan. Harapan menjadi orang tua anak saya dan dia. Tidak pernah terpikir lelaki lain yang akan bersama saya, apalagi di hati saya. Hanya dengan dia banyak harapan saya untuk hidup bersama dan berbahagia.

Selama masa tenang saya memang menghabiskan waktu bersama ayah. Ayah juga tidak memaksakan lagi perjodohan itu. Sedangkan dengan pacar saya mulai jarang ketemu tapi tetap jaga komunikasi. Waktu terus berlalu  dan ayah pun sembuh. Setelah ayah sembuh, kami mulai menjalankan rencana kami. Tapi saya merasakan kali ini sikapnya beda. Tapi saya tidak berpikir yang buruk, mungkin karena waktu yang lumayan lama kami tidak bertemu, ada perasaan lain. Saya sangat percaya dengan pacar saya bahwa dia sangat mencintai saya dan tidak mungkin bisa menyakiti saya. Tidak bisa jauh dari  saya karena ingat bagaimana dia menangis ketika saya dijodohkan, takut kehilangan saya.

Pacar Saya Berpaling

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Hingga pada suatu hari dia memberi pengakuan kalau dia sudah punya hubungan  baru selama sembilan bulan ini. Saat itu saya hanya diam.  Lemas, kaget, tidak percaya. Dia juga bingung dengan reaksi saya yang tidak biasanya. Saya orang yang keras dan frontal. Tapi saat itu  saya  jadi orang yang diam dan tidak punya tenaga untuk bicara. Saya minta izin pulang, saat itu saya memang di rumahnya. Sedang membicarakan rencana pernikahan kami. Beberapa persiapan memang  sudah dipersiapkan. Tapi karena susahnya persetujuan dari ayah yang membuat rencana ini  tertunda. Sore itu setelah pengakuannya yang katanya dia tidak tega menyimpan terus-terusan dari saya, saya izin pulang. Dia berusaha mengantar saya. Saya hanya bilang gak usah. Ada perih yang tidak bisa dikatakan. Saya sudah tidak mampu melangkah.

Malamnya dia berusaha menghubungi saya berusaha menjelaskan bahwa saat itu dia lagi goyang karena saya yang mau dijodohkan dengan pilihan ayah saya. Saya yang seperti menjauh. Perempuan itu yang sudah punya perasaan dengan dia, hadir, padahal perempuan itu tahu kalau dia pacar saya. Perempuan itu teman kantornya. Saya pernah diperkenalkan oleh pacar saya karena dia tidak nyaman dengan perempuan itu yang terus mendekati dia. Awalnya saya ngeledekin dia kegeeran. Tapi demi melihat muka dia yang serius, akhirnya saya bersedia diajak ke kantornya, walau sekadar makan siang bareng. Di sanalah saya diperkenalkan dengan perempuan itu, mereka satu agama.

Saat itu saya tidak terlalu terpengaruh dengan kehadirannya. Yang pertama saya yakin pacar saya sangat cinta saya. Kedua walau perempuan itu cantik, tapi dia tidak seperti saya yang lincah dan luas pergaulannya. Juga dari penampilan dia jauh di bawah saya. Penampilannya sangat biasa. Baju dan tas yang dia pakai barang biasa, bukan barang branded dan mahal seperti saya. Kata pacar saya dia memang perantauan dari desa. Logat daerahnya terasa jelas. Saya bisa merasakan dia kaget melihat kehadiran saya. Pacar saya membawa dia ketempat kami makan dan memperkenalkan perempuan itu ke saya.

Tapi kini perempuan itu sudah jadi pacarnya. Ada banyak perasaan sakit. Pertama dia bukan level saya. Yang kedua saya tidak percaya dia bisa menerima perempuan lain dalam hidupnya walau hanya sekadar pelarian karena kondisi kami yang sedang goyang. Saya benar-benar terpukul. Saya tidak menerima teleponnya. Begitu pun SMS tidak saya balas. Sakit hanya itu yang saya rasakan.

Lalu dia memutuskan hubungan dengan perempuan itu dan kembali kepada saya. Tapi perempuan itu tidak terima bahkan dia mengancam bunuh diri. Masalah bertambah. Saya makin kacau. Walau saya sombong, keras hati, tapi saya tetap tidak tega dengan perempuan itu. Yang salah adalah pacar saya kenapa mempermainkan perasaan perempuan itu. Saya orang yang objektif. Ketika itu salah walau dia orang yang saya cintai, tetap  salah di mata saya. Begitu pun dengan perempuan itu walau saya tidak menyukainya, tapi dia tidak salah. Kalau pacar saya tidak memulainya tidak akan terjadi hal seperti ini.

Kecewa dan Terpuruk

Bingung, hancur, kecewa. Membuat saya limbung. Semua persiapan pernikahan yang sudah delapan puluh persen, tidak saya teruskan lagi. Saya benar-benar kacau. Saya melarikan diri dengan minum-minum bersama teman-teman saya. Saya mencoba mengobati luka saya dengan senang-senang. Tapi ternyata bukan hanya tidak membantu, malah makin membuat saya kacau. Sebulan kemudian perusahaan tempat saya bekerja tutup karena pailit. Saya makin kacau. Seminggu kemudian sahabat saya tempat saya curhat meninggal karena kecelakaan mobil. Lengkap semua kehancuran hidup saya.

Sejak itu saya akrab dengan rumah sakit. Sakit jadi hal yang biasa bagi saya.  Orang tua saya menangis. Sedangkan abang dan kakak saya marah. Katanya ini akibat kesombongan saya. Saat itu saya tidak mau dengar hal yang menyakitkan. Hingga suatu hari saya mencoba bunuh diri. Saat itu saya sudah tidak ingat apa-apa. Darah yang dari  pergelangan tangan saya sudah banyak. Saya masih lihat itu semua. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi.

Setelah saya sadar, saya berada di rumah sakit. Ibu saya menangis. ayah terus mengaji. Abang dan kakak saya menangis. Setelah lebih baik saya bisa pulang. Saya mulai dipantau. Takut melakukan upaya bunuh diri. Barang-barang yang berbahaya dijauhkan dari saya. Keadaan mental saya sudah sakit. Setiap malam saya menangis. Orang rumah sempat menyangka kalau hubungan saya sudah terlalu jauh. Tapi saya jawab tidak. Saya makin benci mereka. Sempit sekali pemikiran mereka. Kondisi saya yang seperti ini mereka pikir karena saya sudah melakukan hubungan yang jauh? Saya makin benci sama semua orang.  Kondisi mental saya makin parah. Saya jadi sering teriak dan menangis. Semua berubah. Saya sudah tidak seperti dulu yang lincah dan ceria. Saya jadi orang yang berbeda.

Pasien Rumah Sakit Jiwa

Setelah berapa kali mencoba melakukan bunuh diri. Saya dimasukkan ke rumah sakit kejiwaan. Itu atas saran dokter. Kata dokter saya depresi. Kalau dibiarkan akan membahayakan jiwa saya. Dengan berat hati ayah memasukkan saya ke rumah sakit kejiwaan. Tapi ayah minta jangan dicampur dengan pasien lain. Dokter mengiyakan. Saya masuk ruang VVIP. Ruangan yang paling eksklusif. Saya punya ruangan sendiri. Awalnya saya sering diikat karena sering berontak dan teriak. Tapi lama kelamaan setelah tenang, saya dibiarkan. Di ruangan saya ada televisi dan radio. Saya mulai rileks. Keluarga sering datang. Mereka mengaji bersama. Saya melihat ayah dan ibu saya menangis. Saya masih belum bisa menangis. Saya masih diam.

Di dalam sana saya punya banyak kegiatan. Mulai dari keagamaan. Seminggu sekali Ustad datang memberi ceramah. Ada juga kegiatan bermain. Di sana saya kenal dengan pasien lain. Salah satunya pecandu narkoba. Saya akrab dengan dia. Perempuan ini asyik. Karena punya kesamaan suka nongkrong. Kita jadi nyambung. Apalagi beberapa tempat nongkrongnya ada yang sama. Dia anak pejabat tapi broken home. Terakhir pacarnya meninggalkan dia, dia merasa tak punya siapa-siapa. Karena kami punya kisah yang sama, kami makin akrab.

Ketika kondisi saya sudah sehat dan diperbolehkan pulang. Saya menemui dia, minta nomor kontaknya karena masih dalam perawatan di sana. Lama kami berpelukan. Aku merasa sedih harus pisah dengan dia. Orangnya bikin nyaman.

Kembali Bangkit

Di rumah tidak ada lagi yang berani bicara sembarangan. Saya sangat dijaga perasaanya. Perlahan saya mulai bangkit. Tapi saya jadi pribadi yang dingin dengan orang lain apalagi dengan laki-laki. Bahwa laki-laki itu jahat. Awalnya manis tapi pada akhirnya mereka akan menyakiti. Waktu terus berganti. Saya mulai bekerja lagi. Saya memulai hidup baru. Saya sudah lupa rasa sakit saya. Setahun kemudian saya memutuskan berjilbab. Semua kaget. Orang tua menangis haru. Sampai ada selamatan karena saya pakai jilbab. Saya hanya tersenyum. Tidak tahu sebegitu bahagianya mereka terhadap keputusan saya memakai jilbab.

Perlahan saya mulai belajar agama lagi. Dari buku-buku  agama, saya mulai rajin cari tempat ngaji. Teman saya yang sempat kehilangan kontak saya kaget dengan perubahan saya. Saya senyum saja. Mereka menyayangkan keputusan saya memakai jilbab. Tapi saya bilang saya nyaman pakai jilbab. Kalau pakai jilbab orang akan menegur saya kalau bikin salah. Kalau tidak pakai jilbab orang akan menganggap wajar kalau saya berbuat salah. Atas alasan itu awalnya saya memakai jilbab. Tapi saya masih manusia biasa yang belum banyak ilmunya.

Ujian Iman

Ketika malam pergantian tahun saya diundang teman saya di sebuah klub, saya diminta buka jilbab karena tak cocok kalau masuk klub pakai jilbab. Saya mengiyakan permintaan mereka. Tapi ketika di dalam saya tidak merasa nyaman. Tiba-tiba saya menangis dan minta pulang. Karena mereka masih asyik, saya izin pulang. Awalnya mereka menahan tapi mereka mengenal saya sebagai orang yang keras kalau dilarang. Akhirnya saya pulang. Dan malam itu di kamar saya menangis. Sedih banget. Saya minta ampun karena membuka jilbab hanya untuk senang-senang. Lalu saya mulai menjauh dari teman lama saya. Orang tua mendukung dengan senang hati. Perlahan saya makin mendalami agama.  Saya juga mencari pergaulan baru sesuai dengan apa yang saya yakini sekarang.

Dan sekarang, alhamdulillah, walau berapa kali harus merasakan sakit yang sama dan jatuh berulang kali. Saya terus kembali bangkit. Saat ini hanya Allah tujuan hidup saya. Banyak yang bilang saya berubah jauh. Bahkan di masa tua orang tua saya mulai uzur dan suka bertingkah seperti anak kecil, abang dan kakak saya justru tidak mampu bersabar merawatnya, karena sikap orang tua kami sering memicu emosi. Saya malah sangat sabar dan lembut dengan mereka. Orang tua saya pun lebih nyaman dalam perawatan saya.

Pemahaman agama saya makin dalam. Penampilan saya makin mengikuti ajaran agama saya. Jilbab saya makin panjang. Tapi saya tidak merasa lebih baik dari orang lain. Kalaupun saya makin mendekat pada-Nya karena dengan-Nya saya merasa tenang. Bisa menjalani takdir saya dengan tenang. Tujuan hidup saya hanya Allah.

Banyak hikmah yang saya dapatkan atas semua peristiwa yang saya jalani. Betapa besar cinta-Nya pada saya. Cinta-Nya melalui orang tua saya. Keluarga saya, dan orang-orang yang didekatkan kepada saya. Untuk mendekat pada-Nya. Satu yang selalu saya ingat bahwa kasih-Nya bukan hanya dengan kelembutan tapi dengan teguran keras ketika hamba-Nya salah jalan. Tapi itu semua karena cinta-Nya yang sangat besar kepada hamba-Nya.

Mendekat Pada-Nya adalah hal yang indah dalam hidup saya. Dalam doa saya, selalu berterima kasih pada-Nya. Yang menerima saya kembali. Menjalani perjalanan menuju cinta-Nya. (Syanaz)

Muat Artikel Dari Novia Syahidah Rais
  • Menemukan Tuhan di Negeri Tak Berketuhanan

    Jujur saja, lidah ini masih merasa asing ketika menyebut nama Monica. Aku masih terlalu fa…
  • Hidayah Harus Dijemput

    Allah Maha Punya Rencana, manusia memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. S…
Muat Lainnya Curhat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *