Home Curhat Hidayah Harus Dijemput

Hidayah Harus Dijemput

3 Menit Durasi Baca
0
0
11

Allah Maha Punya Rencana, manusia memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sama halnya saya. Tidak pernah terbayang pengalaman pernah berpacaran, membawa saya pada titik perubahan terbesar. Meski saya sempat menyesal sedemikian dalam bahkan terpuruk beberapa lama, namun setelah saya berani berkata “AKU INGIN KITA PUTUS!” rasanya subhanallah. Seakan Allah mendekati saya, menuntun saya dan berkata, “Yuk ikut Aku, akan Aku tunjukkan cahaya-Ku padamu.” Lebay? Mungkin. Tapi itulah yang benar-benar saya rasakan. Maka setiap saya mengingat banyak perubahan saat ini, saya selalu yakin, bahwa ini karena saya LEPAS dari pacaran.

Tidak dipungkiri, hal ini juga dari keaktifan saya di dunia maya. Bersyukur saya pernah melihat satu fanpage islami di Facebook yang isinya membahas semua tentang pacaran yang diharamkan karena aktivitas-aktivitas di dalamnya. Nyatanya pacaran memang tidak diperbolehkan dalam Islam. Sebab dari hubungan inilah bermuara zina. Pacaran memang tidak selalu berakhir zina, tapi setiap zina seringkali diawali dari pacaran. Hampir setiap hari saya selalu terbayang postingan-postingan fanpage tersebut. Hingga akhirnya, saya beranikan diri memutuskan hubungan dengan pacar saya.

Berat memang. Namun saya berpikir, jika saat itu tetap mempertahankannya, maka saya tidak tahu apakah saya masih punya masa depan atau tidak. Apakah saya masih bisa menjamin umur saya panjang atau tidak, sementara maksiat tidak saya hentikan. Masya Allah. Maka dengan segenap hati saya beranikan untuk berkata, “Aku ingin kita putus. Aku takut aku hanya membuat imanmu turun. Dan aku takut pada Allah. Aku takut ibadah kita tidak diterima karena kita terus bermaksiat.”

Putus Itu Ternyata Menyakitkan

Sebulan lebih setelah keputusan itu hanya saya isi dengan tangisan yang tak kunjung henti akibat dosa-dosa. Saya tidak tahu apakah taubat saya benar-benar diterima. Allah, saya benar-benar menyesal. Sungguh menyesal. Ingat ketika dulu waktu sekolah saya berani memutuskan untuk tidak pacaran, namun setelah pacaran saya malah menyesal teramat dalam. Saya benar-benar bertaubat. Entah berapa lama menangis saat sujud di hadapan-Nya. Yang hanya saya inginkan saat itu adalah bisa mendapat ampunan-Nya.

Akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk tidak lagi berpacaran. Saya bertekad ingin menjalani hubungan yang benar-benar diridhoi oleh-Nya. Syukur alhamdulillah keyakinan kali itu begitu kuat. Meskipun ingatan dosa tak pernah luput, saya sadar biar bagaimana ini akibat perbuatan saya sendiri. Rahmat dan hidayah Allah datang. Allah membimbing saya. Saya seolah diajak untuk semakin mendekat pada-Nya. Saya jadi merasa hidayah itu selalu ada jika kita ingin menjemputnya. Ya, hidayah itu harus dijemput.

Ibadah yang selama ini hanya kewajiban, saya jadikan kebutuhan. Saya benar-benar ingin Allah memaafkan saya, mengampuni segala kesalahan saya. Kadang sempat pula berpikir, kenapa harus dalam keadaan seperti ini saya baru mengingat-Nya. Baru benar-benar melakukan ibadah dari hati? Tapi ya itulah rencana Allah. Andai tidak ada kejadian ini, mungkin saya masih saya yang dulu.

Single is Choice

Perlahan Allah pun mendekatkan saya pada orang-orang yang positif. Orang-orang yang bisa menjadi teman yang saling mengingatkan. Yang selalu menjaga dirinya hingga membuat saya malu kalau saya kembali ke masa lalu. Single is choice, itu benar. Memutuskan hubungan yang sudah dijalani, apalagi ditambah sudah ada ‘rasa’ di dalamnya memang bukan hal yang mudah. Tapi bukan pula hal yang sulit. Itu pilihan. Tergantung kita mau memilih yang benar atau yang salah.

Menjadi single karena Allah itu menguntungkan. Terjaga hati, terjaga pandangan, terjaga fisik. Masih gress, masih fresh. Belum pernah terjamah dan dijamah. Lebih enak pula kalau sudah menikah nanti ditanya suami, “Siapa saja lelaki yang pernah hadir di hidupmu?”

Kau akan menjawab, “Baru engkau saja. Dan kau-lah yang pertama.” Uhuk!
So, meski sudah pernah merasakan pacaran, tapi paling tidak keputusan saya untuk kembali menjadi single, bisa meringankan langkah hidup dan jodoh saya ke depannya. Bukankah lelaki yang baik untuk wanita yang baik? Dan itulah yang sudah saya rasakan saat ini.

Hidayah itu benar-benar nyata. Bukan saja sekarang saya jadi lebih mendekat pada Allah dan lebih memperdalam agama. Tapi Allah juga mengirimkan seorang pria baik yang kini jadi suami saya. Suami yang bisa memimpin, mengimami dan membimbing saya menjadi makmumnya. Ia juga bisa menjadi ayah yang baik bagi anak kami.

Hidayah Allah sebenarnya selalu ada. Terlebih bagi umat muslim, ada Al-Qur’an pedoman kita. Namun cahaya-Nya lah yang tidak semua orang dapatkan. Itu sesuai kehendak-Nya. Saya yakin, kalau ingin mendapatkan cahaya itu, maka kitalah yang harus berinisiatif mendekat pada-Nya. Sungguh, tak ada yang mampu menyesatkan kalau Ia sudah berkehendak memberi petunjuk dan jika kita benar-benar bertaubat. (Ade Delina Putri)

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Menemukan Tuhan di Negeri Tak Berketuhanan

    Jujur saja, lidah ini masih merasa asing ketika menyebut nama Monica. Aku masih terlalu fa…
  • Bangkit Dari Jurang Keterpurukan Yang Dalam

    Sebut saja nama saya Syanaz. Saya lahir dari keluarga yang berada. Sejak kecil selalu mend…
Muat Lainnya Curhat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…