Home Curhat Menemukan Tuhan di Negeri Tak Berketuhanan

Menemukan Tuhan di Negeri Tak Berketuhanan

5 Menit Durasi Baca
0
0
11

Jujur saja, lidah ini masih merasa asing ketika menyebut nama Monica. Aku masih terlalu familiar dengan nama Winarti yang kukenal sejak kami masih kelas I SD. Apalagi nama Monica ditambahkan ketika dia menginjak SMA, sebagai nama baptisnya. Dan, ketika itu, aku masih terkaget-kaget karena sekarang kami tidak lagi seagama. Rasanya kikuk, bingung harus bersikap apa. Untung saja lidah ini sampai sekarang bisa ditahan untuk tidak berkata semena-mena.

Monica Winarti mungkin hanyalah salah satu dari sedikit orang yang rela mempertaruhkan apa saja demi memperoleh pendidikan yang layak. Sebenarnya definisi pendidikan yang layak di kampung kami di Blitar tidaklah tinggi-tinggi amat, cukup sampai SMA saja. Tapi, bagi petani kecil seperti bapakku, penjual tahu seperti bapak Winarti, juga para orang tua yang sehari-hari jadi buruh tani, tukang bangunan yang tidak selalu dapat kerjaan, mengantarkan anak-anaknya hingga lulus SMA adalah mimpi-mimpi yang tak akan pernah tercapai. Pungguk merindukan bulan adalah peribahasa nyata di desa kami.

Masalahnya, beberapa di antara kami dikaruniai otak yang sedikit lebih cerdas, meski penuh keterbatasan. Tidak secemerlang Lintang dalam Novel Laskar Pelangi memang, tapi sudah cukup untuk membuat kami bertekad sangat kuat untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya. Winarti salah satunya. Bayangkan perasaan Anda ketika lulus SMP dengan nilai yang memungkinkan anda masuk di SMA Negeri manapun di kota Anda, tapi orang tua tak punya uang untuk membiayainya?

Apalagi  Anda sadar bahwa ijazah SMP tidak akan bisa berbuat banyak untuk mengubah kehidupan Anda. Mestikah menyerah pada nasib, menjadi petani yang bahkan sawah dan ladangpun tak punya? Hanya mengandalkan belas kasihan para tuan tanah yang bersedia memberi pekerjaan dengan gaji yang lagi-lagi tak cukup buat membayar SPP anak-anaknya?

Pilihan Yang Sulit

Pada saat itulah, tawaran dari Sekolah Menengah Pekerja Sosial (SMPS) Bhakti Luhur menjadi pertimbangannya. Di sana dia bisa bersekolah secara gratis. Karena sekolah itu milik institusi Katolik, maka budaya yang ada di sana pun merupakan budaya Katolik. Meski waktu itu tidak ada paksaan untuk pindah agama, tapi lingkunganlah yang berbicara. Beberapa bulan setelah masuk sekolah itu, teman masa kecilku ini berpindah agama dan menyandang nama Monica di depannya.

Monica Winarti lalu menjadi penganut Katolik yang sangat taat. Tak pernah absen ke gereja dan tidak pernah lupa membaca Bible setiap harinya. Dia menikmati menjadi wanita Katolik yang religius karena agama ini sangat perhatian pada orang-orang miskin, para lansia yang ditinggalkan anak-anaknya, serta orang-orang terpinggirkan yang tidak dianggap oleh masyarakat sekitarnya. Tapi Allah terlalu mencintainya untuk tersesat terlalu lama.

Bermula dari pernikahannya dengan seorang pria lulusan Sekolah Pastur, hidupnya yang semula mulus berbalik haluan menjadi penuh badai. Karena, di mata suaminya, dia hanyalah perempuan bodoh yang secara intelektual tidak setara dengannya. Latar belakangnya sebagai keluarga miskin dianggapnya tidak sesuai dengan penampilannya yang cantik dan anggun  bak artis sinetron.

Kekerasan Demi Kekekrasan

Saat itulah kekerasan demi kekerasan menimpanya. Bukan kekerasan fisik memang, tapi kata-kata yang merendahkan, hinaan terhadap diri dan keluarga yang didengarnya setiap hari membuat dia tak tahan lagi. Belum lagi nafkah yang tidak tentu datangnya, yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan putri kecilnya. Bahkan untuk ukuran orang-orang yang tinggal  di desa.

Bayangkan, Anda punya keterampilan dan potensi, banyak institusi menerima Anda dengan tangan terbuka. Tapi, Anda adalah istri yang taat dan setia, yang harus menuruti apapun kata suami. Sayang sekali, suami Anda yang abusif tidak rela Anda bekerja, sehingga Anda harus tergantung pada belas kasihannya yang nyaris tidak ada. Untungnya Winarti adalah penganut Katolik yang taat. Tak pernah putus dia berdoa, semoga Tuhan melembutkan hati suaminya. Dia ingin sekali bahagia bersama suami dan putri cantiknya.

Sayang, Tuhan tak kunjung mengabulkan doanya, meski setiap malam menangis sambil mendekap Injil di dadanya. Menangis karena diperlakukan buruk oleh suaminya, menangis karena keluarga besarnya mengetahui semua, menangis karena orang-orang seluruh kampung mengetahui segala penderitaannya dan menghakimi segala kesalahannya. Saat seperti itulah keluarga akan penuh dengan intervensi. Tak terkecuali keluarga Winarti.

Sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga ini, dia adalah kesayangan orang tua. Dan melihat anaknya mendapat perlakuan hina dari suaminya tentulah sangat menyakitkan. Orang tuanya berusaha membantunya mencarikan solusi supaya terlepas dari jeratan suami jarak jauhnya yang hanya bisa menengok sesekali, solusi supaya anaknya yang masih kecil terjamin pasokan susu dan pakaian serta pendidikannya di masa depan. Dan semua itu butuh uang.

Di desa kami, jalan paling singkat untuk mendapatkan uang banyak adalah pergi ke luar negeri, alias menjadi TKW. Pekerjaan yang tak pernah terpikir untuk dijalaninya karena dia harus mengasuh anaknya yang masih balita, dan sangat tergantung padanya. Tak akan pernah terbayang di benaknya bahwa suatu saat dia akan meninggalkan anak bayinya, menyerahkan pengasuhan pada orang tua demi berburu dolar di negeri orang, seperti yang dilakukan para tetangganya selama ini.

Berulangkali dibujuknya suami untuk mengijinkannya tinggal di Surabaya bersamanya, sehingga terlepas dari komentar negatif para kerabatnya. Sang suami yang egois tidak mau memenuhi permintaannya, dan tetap memaksanya tinggal bersama orang tua. Ketika itulah, segalanya terasa buntu. Tak ada jalan lain kecuali memenuhi tuntutan keluarga, mencari nafkah sendiri demi anaknya. Meski itu artinya harus menghamba di negeri orang. Di Hong Kong, tepatnya.

Allah Terlalu Mencintainya

Ketika jarak memisahkan, dia bisa berpikir secara jernih dan tenang. Kini, sadarlah dia bahwa pernikahan yang semula diyakininya untuk selamanya -meski penuh kekerasan- kini diambang kehancuran. Dan dialah yang harus mengakhirinya, demi dia dan juga anaknya.

Tapi, perceraian versi Katolik tidaklah semudah percerian dalam Islam. Apalagi  suaminya tidak menyetujui percerian itu meski sudah sepakat untuk “hidup sendiri-sendiri” dan berlepas tangan dalam mengasuh anaknya. Tapi, perceraianlah yang mengangkat bebannya. Kini dia bisa bernafas lebih bebas, bisa mengirimkan uang secara rutin untuk anak dan ibunya, dan membangun kembali  kepercayaan dirinya yang telah lama hilang.

Di Hong Kong pulalah Allah mempertemukannya dengan orang-orang Turki yang taat Islamnya. Mereka menjalin persahabatan di sana. Apalagi, ketika tahu keislamannya di masa kecil dan alasannya berpindah agama. Mereka lantas mengajaknya kembali ke masjid, menghadiri kajian Islam, dan membantu memantapkan hatinya untuk kembali ke pangkuan Rabb-nya.

Sekarang, Monica Winarti sedang dalam proses kembali membangun hidupnya, kembali lagi menjalankan ritual Islam sebagaimana yang dilakukannya di masa kecil: menjalankan salat, puasa, dan mulai belajar mengaji di tengah kesibukannya bekerja merawat lansia di sana.

Semoga istiqamah kawan. Dan semoga kebahagiaan itu semakin didekatkan. (Ida Nurhidayati)

  • Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

    Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…
  • Istri Para Syuhada

    Kisah Cinta Atikah binti Zaid dan Abdullah bin Abu Bakar Adalah anugrah terindah bila kita…
  • Hidayah Harus Dijemput

    Allah Maha Punya Rencana, manusia memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. S…
Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
  • Hidayah Harus Dijemput

    Allah Maha Punya Rencana, manusia memang tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. S…
  • Bangkit Dari Jurang Keterpurukan Yang Dalam

    Sebut saja nama saya Syanaz. Saya lahir dari keluarga yang berada. Sejak kecil selalu mend…
Muat Lainnya Curhat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ethica Fashion, Spiritual Islam Yang Mencerahkan

Bisnis fashion memang nyaris tak ada matinya karena ia bisa sangat fleksibel mengikuti per…