Home Kajian Sahabat Muslimah, Sudahkah Kamu Memiliki Sepuluh Mutiara Muslimah Salehah?

Sahabat Muslimah, Sudahkah Kamu Memiliki Sepuluh Mutiara Muslimah Salehah?

7 Menit Durasi Baca
0
0
11

Sahabat Muslimah, ‘salehah’, sebagai kata yang dikaitkan dengan sosok wanita disebutkan Alquran dalam QS. An-Nisa ayat 34 yang artinya, “Maka wanita yang salehah ialah yang taat (qanitat) kepada Allah lagi memelihara diri (hafizhat) ketika suaminya tidak ada oleh karena Allah telah memelihara mereka.”
Dalam QS. At-Tahrim ayat 5 juga disebutkan sosok wanita yang layak menjadi pendamping Rasulullah Saw, “… yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, …”
Sahabat Muslimah, mari kita bahas lebih detail ciri-ciri muslimah salehah tersebut yang bisa dirangkum dalam sepuluh ciri, layaknya mutiara indah seorang muslimah salehah.

Selalu Taat (Qanitat)

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh (qanit) kepada Allah Swt. dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah Swt.” (QS. An-Nahl : 120).
Ibnu Katsir menyatakan bahwa qanit adalah khusyu’ dan taat kepada Allah Swt. Ibnu Taimiyah mengartikan qunut adalah terus-menerus atau tetap dalam ketaatan. Qanit adalah orang yang selalu menjaga ketaatannya kepada Allah Swt. Oleh karena itu, qanitat adalah wanita yang selalu menjaga ketaatan dirinya kepada Allah Swt. Muslimah salehah adalah muslimah yang selalu berkomitmen untuk menjaga ketaatannya kepada Allah Swt.
Lantas, bagaimana dengan ketaatan muslimah tersebut kepada orang tua, suami, dan yang lainnya?
Hmm, tentu harus taat asal bukan ketaatan dalam bingkai maksiat kepada Allah Swt ya Sahabat Muslimah.

“Tidak ada kemaksiatan kepada makhluk jika durhaka kepada Allah Swt. Ketaatan hanya berlaku pada hal yang baik.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i)

Ahli Ibadah (‘Abidat)

“Wahai anak Adam, bersungguh-sungguhlah beribadah kepada-Ku, maka akan Aku isi dadamu dengan kekayaan dan Aku tutup kefakiranmu. Jika tidak demikian, maka Aku akan penuhi kesibukan di hadapanmu dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu.” (HR. Tirmidzi).
‘Abidat, betapa mulianya mereka di sisi-Nya. Muslimah salehah akan senantiasa menjalin hubungan dengan Allah Swt., memelihara dan menyuburkan iman di dalam hatinya, menanamnya dengan dzikir, ibadah-ibadah sunnah, tafakkur terhadap ayat-ayat cinta-Nya. Hendaknya ia tahu, bahwa hidup bukanlah emas dan perak, bukan pula suami. Hmm, seorang muslimah bisa saja hidup tanpa suami, emas, dan perak. Akan tetapi, jika iman dan amal shalih menghujam dalam dirinya, ia adalah wanita yang selamat dan sukses dengan izin Allah Swt.

Senantiasa Bertaubat (Ta’ibat)

Rasulullah Saw. berkata, “Aku pernah ke neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” (HR. Bukhari). Astaghfirullah, ngeri ya Sahabat Muslimah?
Terhadap pernyataan Rasulullah Saw. tersebut, seorang shahabiyah bertanya. “Ya Rasulullah Saw. mengapa wanita?”
Rasulullah Saw. menjawab, “Mereka kufur.” Beliau ditanya lagi, “Kufur kepada Allah Swt.?”. Beliau menjawab, “Kufur kepada suaminya dan banyak mencela. Andaikata kamu berbuat baik kepadanya satu tahun, kemudian melihat satu keburukan pada dirimu, dia mengatakan, ‘Aku tidak melihat kebaikan sedikitpun pada dirimu.’”

Hmm, adakah ciri seorang muslimah salehah yang seperti itu? Insya Allah tidak ada! Ada lagi hadist seperti ini, “Hati-hatilah kepada dunia dan hati-hatilah kepada wanita, karena kebanyakan fitnah yang terjadi di kalangan Bani Israil terkait dengan wanita.” (HR. Bukhari). Ada juga yang bergini, “Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita” (HR. Muslim). Hal ini juga tidak terkait dengan muslimah salehah, karena muslimah salehah bukanlah menjadi fitnah, tetapi ia adalah perhiasan dunia terindah.

Seorang manusia memang tidak sempurna. Selalu saja dihampiri kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Manusia terbaik, kata Rasulullah Saw, bukanlah yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi yang jujur mengakui kesalahan dan bertaubat. “Setiap anak Adam itu berbuat salah. Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

Gemar Berpuasa (Sa’imat)

Fungsi puasa sebagaimana disebutkan Rasulullah Saw. adalah sebagai perisai jiwa, pengendali diri dari godaan hawa nafsu. Duhai Sahabat Muslimah, yang menjadikan banyak wanita masuk neraka adalah lidahnya, karena ia tidak pandai bersyukur, tidak mampu mengendalikan diri. Orang yang berpuasa itu yang halal saja ditinggalkan, apalagi yang haram. Tidak ada gunanya, sesorang yang berpuasa tapi masih saja mengerjakan yang haram. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dengan puasanya dari makan dan minum” (HR. Bukhari)
Kalau banyak berpuasa, akan lahirlah kekuatan diri dalam memaksimalkan hal-hal positif dan akan bisa meminimalkan perbuatan yang haram dan sia-sia. Semangat berpuasa, Sahabat Muslimah!

Jujur (Shadiqat)

Karakter seorang muslimah salehah terpancar dari iman. Salah satu kriteria terpenting iman adalah jujur. Kejujuran lisan dan tindakan adalah tanda-tanda keimanan dari dalam hati. “Hendaklah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran membimbing kepada kebajikan dan kebajikan membimbing kepada syurga. Dan sesungguhnya seseorang yang benar-benar berbuat jujur hingga di sisi Allah Swt, dia ditulis sebagai shiddiq (orang yang jujur). Dan sesungguhnya dusta membimbing kepada dosa dan dosa membimbing kepada neraka. Sesungguhnya seseorang yang benar-benar berdusta hingga ia di sisi Allah Swt., ditulislah ia sebagai pendusta.” (HR. Bukhari, Muslim)

Iman yang tergerogoti oleh dusta, akan mengganggu kesalehannya. Terus-menerus digerogoti, energi itu bisa habis, kemudian tidak salehah lagi. Naudzubillah..

Penyabar (Shabirat)

Coba buka QS. Al-Ahzab ayat 35, di situ ada kata shabirin dan shabirat. Menurut Ibnu Katsir, itu adalah karakter yang kokoh (sajjiyyatul istbat), yakni sabar menghadapi musibah dan mengetahui bahwa yang ditakdirkan Allah Swt pasti akan terjadi, mustahil ditolak. Setiap kenyataan harus diterima dengan sabar saat awal musibah terjadi, yakni pada kondisi yang paling sulit.

Kesabaran di sini adalah kemampuan untuk mengendalikan diri. Seringkali seseorang tidak mampu mengontrol dirinya saat pertama kali ditimpa musibah. Mungkin ia akan menangis, meraung, bahkan tidak sadarkan diri (pingsan). Ia memerlukan beberapa saat untuk bisa mengendalikan diri. Jika ia tenang dan mampu mengendalikan diri dengan baik saat awal musibah itu menimpa, itulah sabar. Memang berat, tapi harus banyak dilatih karena cobaan hidup bisa datang kapan saja.

Pun demikian juga dengan kesabaran di dalam kehidupan muslimah saat berumah tangga. Sebagai istri, kita dituntut untuk bisa bersabar dalam menghadapi kekurangan pasangan kita. Sebagai ibu, kita diharapkan bisa bersabar dalam menyikapi tingkah anak-anak kita.

Khusyu’ (Khasyi’at)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (QS. Al-Mukminun : 1-2). Hmm, khusyu’ dalam shalat, pernahkah kita merasakannya Sahabat Muslimah?

Memang sulit menggambarkan seperti apa shalat khusyu’ itu. Di dalam shalatnya, Rasulullah Saw. melihat syurga sehingga beliau maju ingin meraihnya. Beliau juga melihat neraka sehingga mundur menghindarinya. Di dalam shalatnya, pedang yang menikam Umar bin Khattab dicabut, sehingga beliau tidak merasakan sakit. Luar biasa, bukan?

Khusyu’ berarti tenang, tenteram, pelan-pelan, rendah hati. Tercakup juga di dalamnya rasa takut kepada Allah Swt dan merasa dipantau terus oleh Allah Swt. Ibnu Katsir mengaitkannya dengan hadist, “Beribadahlah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Maka jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).

Khusyu’ juga berarti mencapai ihsan dalam ibadah. Bisa nggak ya? Hmm, paling tidak kita berupaya dulu untuk khusyu’ yang utama yakni dalam shalat karena shalat merupakan ibadah yang paling utama, sarana dzikir kepada Allah Swt dan saat yang paling dekat antara manusia dengan Rabb-Nya di dalam sujudnya.

Suka Bersedekah (Mutashaddiqat)

Sedekah adalah berbagi kepada orang lain yang membutuhkan. Bisa diwujudkan dengan memberikan sebagian harta yang dimiliki. “Satu dari tujuh orang yang akan mendapatkan naungan Allah Swt. di hari yang tidak ada naungan kecuali dari-Nya adalah seseorang yang bersedekah kemudian dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya” (HR. Bukhari).

Sedekah akan menghapus sifat negatif yakni pelit dan memuja harta. “Sedekah memadamkan dosa-dosa seperti air memadamkan api..” (HR. Tirmidzi).
Bagaimana jika seorang muslimah menghiasi dirinya dengan sifat mulia ini? Masyaa Allah, luar biasa!

Menjaga Kemaluan (Hafizhat)

Muslimah salehah akan menjaganya, kecuali untuk suaminya. Muslimah salehah pasti menjaga tubuhnya dari mata laki-laki yang bukan suaminya. Untuk itulah, dikenakannya busana muslimah syar’i yang melindungi dan menyamarkan lekuk tubuhnya. Jangan sampai sorot mata tidak halal menikmatinya.

Muslimah salehah juga menjaga pandangan matanya. Tidak digunakan untuk menikmati pandangan yang diharamkan. Katakanlah kepada wanita beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesunggunya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.(QS. An Nur : 31)

Banyak Berdzikir (Dzakirat)

Sahabat Muslimah, kebahagiaan hidup itu pusatnya di dalam hati. Bahagia berada di dalam jiwa yang tenang dan tenteram. Ketenangan hati adalah impian siapapun. Ketentraman hati dirindukan oleh jiwa manapun, pria maupun wanita sama-sama mendambakannya. “Orang-orang yang beriman dan menjadi tenang hatinya dengan berdzikir kepada Allah Swt. Ketahuilah, hanya dengan berdzikir hati menjadi tenang” (QS Ar- Ra’du : 28). Kebahagiaan mengalir dari dzikir kepada Allah Swt. Dzikir itu menenangkan dan mendamaikan hati.

Bagaimana seorang muslimah yang menjadi adz-dzakirat di sisi suaminya? Jika seorang istri menjadi tenang hatinya dengan dzikirnya kepada Allah Swt, suami juga akan merasakan ketenangan jiwa terhadap istrinya. Semuanya akan menjadi menenangkan dan menentramkan.

Muat Artikel Dari Etika Avicenna
Muat Lainnya Kajian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Jangan Hanya Berlama-lama Mengagumi Diri di Depan Cermin, Kamu Juga Perlu Tahu Empat Pelajaran yang Bisa Diambil Dari Sebuah Cermin

  Sahabat muslimah setiap hari suka pakai cermin, kan? Minimal saat memakai jilbab. S…