Home Ragam Guangzhou, Kota Metropolitan yang Ngangenin

Guangzhou, Kota Metropolitan yang Ngangenin

14 Menit Durasi Baca
2
0
445

Sejujurnya China bukanlah destinasi impian saya, walaupun sering memandangi  indahnya Great Wall di berbagai media dan dari cerita orang yang pernah berkunjung ke negeri China.  Destinasi impian saya selain  Makkah dan Madinah yang memang tidak bisa dipungkiri sebagai  tempat yang sangat dirindukan adalah tempat-tempat dengan pemandangan bersalju, pohon yang besar dan rindang, kesejukan udara, penduduk ramah, bangunan yang  menyimpan sejarah dalam peradaban dunia.

Walaupun China adalah salah satu negara besar dengan sejarah hebatnya tapi bukanlah di urutan utama destinasi impian. Entah kenapa tidak terlalu berminat untuk diajak ke China. Padahal adik sudah berulang kali mengajak untuk bussines trip urusan kerjaan kami. Tapi selalu saya jawab, “udah kamu saja sudah cukup..”

Sampai suatu saat atas dorongan suami agar saya berangkat ke China tepatnya provinsi Guangzhou, akhirnya saya pun luluh walaupun  agak sedikit berat bepergian ke luar negeri tanpa suami dan anak-anak. Maret adalah waktu yang tepat. Karena bulan-bulan sebelumnya berdekatan dengan perayaan imlek yang bagi orang China itu sama saja dengan hari lebaran mereka, kota Guanzhou biasanya akan sepi  ditinggalkan sebagian besar warganya yang mudik ke kampung halaman masing-masing, pastinya pusat bisnispun akan tutup dalam jangka waktu yang lama.

Persiapan Menuju China

Mengurus visa China termasuk gampang, cukup memenuhi syarat yang diajukan, Visa akan selesai dalam waktu 4 sampai dengan 7 hari kerja. Syarat dan langkah pengajuannya bisa kita dapati dengan mudah lewat google. Berhubung saya orangnya tidak mau ribet maka urusan visa diserahkan ke travel agent langganan yang sudah berpengalaman mengurus visa ke China, hanya selisih 150 ribu dibanding mengurus sendiri. Mengingat Jakarta yang sangat macet , akan membuang waktu untuk bolak-balik ke kedutaan jika mengurus sendiri, jadilah ke travel agent adalah solusi terbaik.

Untuk penerbangan, sengaja kami memilih Garuda dengan pertimbangan efesiensi waktu, route perjalanan, antrian imigrasi di China yang ampun-ampunan panjangnya, Kenapa memilih Garuda, ini bukan iklan lo ya… heheh, selain penerbangan langsung, tanpa transit, jadwal penerbangannya juga di pagi hari yaitu 8.30 wib sehingga kami memperkirakan akan sampai di Guangzho siang hari sekitar pukul 13.00 wib, berarti pukul 14.00 waktu Guangzhou. Perbedaan waktu yang hanya satu jam jadi tidak terlalu masalah sebenarnya jika sampai di sana sore atau malam hari.

Tapi masalahnya adalah setelah keluar dari pesawat kita akan siap-siap kelelahan dengan panjangnya antrian imigrasi yang bisa sampai 3 jam dalam keadaan berdiri.. kebayang kaaan, gimana capeknya. Dibanding jika memilih maskapai yang harganya lebih murah tapi dengan penerbangan malam, sampai di Guangzho dini hari belum lagi antri imigrasinya, tentu akan melelahkan sekali.

Dan saya membayangkan bete yang melanda saat mencari transportasi umum ataupun taksi, keluar bandara pada dini hari dalam keadaan perut lapar dan badan lelah.  Kebayang ga kalau bawa anak-anak?. Jangan bayangkan keluar terminal kedatangan kita akan disambut restoran yang buka 24 jam dengan aneka makanan layaknya bandara Soekarno Hatta. Kalaupun ketemu restoran,  menu halal belum tentu ada.

Membawa Bekal

Membawa bekal makanan adalah salah satu solusi cerdas. Saya membawa nasi dibungkus dengan daun dilengkapi dengan lauk pauk kering seperti kering teri balado, ikan bilis goreng kering,  rendang dan bebek cabe ijo dan aneka cabe Dapua Uniang dagangan saya hehehe.  Saya bawa 6 bungkus untuk jaga-jaga mungkin saja saat sampai di China ada orang lain yang membutuhkan Dan ternyata benar.

Sangat bermanfaat sekali dan bahagianya bisa saling berbagi di negeri orang itu yaa salah satunya adalah berbagi makanan di saat yang tepat.  Sebungkus nasi berserta lauk pauk sangat bermanfaat untuk teman seperjalanan yang ternyata hotel tempatnya menginap jauh dari restoran apalagi yang ada menu halalnya. Senang sekali saat dijapri

 “Mbak Widya terimakasih, nasi bungkus dan ikan bilis baladonya enak sekali, sangat membantu mengganjal perut lapar saya sesampai hotel.”

Sepanjang antrian beruntung perut tidak terlalu lapar karena sudah diisi di pesawat, sehingga tidak kuatir kehausan yang bisa menyebabkan kebelet pipis, kebayang antrian panjang kemudian bingung mencari toilet dimana. Percayalah hal-hal sepele seperti ini masuk kedalam list perhatian saya.

Saat di ruang tunggu di bandara soeta, seorang bapak mendekati kami dan minta bareng sampai di Guangzhou karena beliau kuatir akan kendala bahasa dan route yang belum pahami, kebetulan adik sudah beberapa kali bolak-balik ke China jadi sedikit banyaknya memiliki gambaran perjalanan disana. Bahasa adalah salah satu kendala di negara yang sangat memegang teguh bahasa daerah dan budaya,

Jangan pernah lupa menyimpan kartu nama hotel, alamat tempat kita menginap dan tempat-tempat yang akan kita tuju, kalau bisa sekalian foto tempat, gedung atau jalanannya sehingga saat terkendala bahasa kita tinggal menyodorkan kartu nama dan foto tersebut.  Berkomunikasi dalam Bahasa China/mandarin bukan sekedar menghafal kata-katanya tapi juga intonasi pengucapannya, Mumeeeeet kalo belum biasa.

Pengalaman Menegangkan

Pengalaman, kelamaan menunggu adik yang memilih-milih barang isenglah jalan ke luar toko dan penasaran dengan jualan di lantai lainnya, keasikan window shopping, semakin jauh berjalan baru sadar ternyata escalator turun dan naik berada di sisi yang berbeda dan berputar-putar. Daaaan kelemahan saya dari dulu adalah lemot dalam memahami denah, arah dan peta lokasi yang pertama kali saya datangi, mana tas saya titip ke adik di mana hape dan kartu nama di sana semua.

Jadilah berpusing-pusing ria dengan jantung deg-degan mau nanya ke siapa dan caranyapun bingung bagaimana, Lah woong angka China saja saya tidak hapal, mau nanya lantai tiga di mana, jadi repot, berbahasa Inggris orang yang saya temui gak ada yang paham, pakai bahasa isyarat mereka bingung. Kalaupun ada yang paham bahasa Inggris, tidak semua orang China sesemangat orang Indonesia membantu orang asing yang kebingungan. Sampai saya nunjuk-nunjuk lantai sambil mengacungkan tiga jari, dengan maksud di mana lantai tiga? Mereka bengong dan saya pun bertambah galau, mana saya tidak hapal nama toko-toko di sana, layaknya di Indonesia misalnya mau nanya Gramedia mana? Lah nama tokonya  ditulis dengan bahasa Mandarin semua, haduuuh Maaak!

Bermodalkan keberanian dan istighfar disertai doa yang kenceng, akhirnya ketemu juga adik saya dan legaaaa, enggak lagi-lagi deh terpisah di negeri yang bahasanya belum dikuasai, tobaaat Maaak! Di sana saya sangat merasa bodoh  dan bertekad ingin belajar bahasa Mandarin, setidaknya dasar-dasar komunikasi, angka, cukuplah. Dan jangan pernah lepas dari HP, setidaknya dengan bantuan HP bisa minta bantuan call friend.

Kendala Bahasa Yang Bikin Repot

Di lain waktu saat kebelet ingin ke toilet, bertanyalah saya ke satpam penjaga Mall, demi melihat wajah saya yang merupakan orang asing, bertanya dengan bahasa Inggris saja petugas tersebut sudah menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali ke posisi pewenya di kursi kerjanya untuk kembali tidur. Huhuhu sedih gak sik. Pernah juga pengen beli teh tapi tidak tahu apa bahasa Mandarinnya teh, saya sampe bingung kenapa teh yang sesimpel itu orang China gak paham, sampai akhirnya ketemu foto yang ada orang minum teh, saya kasih tunjuk saya mau ini dan jawab mereka “oooooh” panjang sekali dan kami pun ketawa geli.

Saya pernah terbang hampir  36 jam  seorang diri ke Canada yang jauh di ujung Benua Amerika tanpa kuatir kendala Bahasa, bantuan penduduk yang ramah juga sangat membantu. Pernah terpisah dari rombongan haji di Mina, alhamdulillah selamat berkat bahasa Arab yang saya bisa walaupun sedikit-sedikit ditambah banyaknya jamaah haji yang dari berbagai negara yang bisa diajak komunikasi bahasa Inggris ataupun Melayu. Tapi untuk tersesat di negeri China, saya tobat, gak lagi-lagi deh. Belajar bahasa China atau Mandarin sekarang bisa  langsung mendaftar ke negeri China, banyak ditawarkan kursus pendek dari 6 bulan sampai kuliah bahasa mandarin, biaya kuliah dan hidup di negeri China lumayan terjangkau.

Kota Yang Teratur

Keluar dari Baiyun International Airport, menelusuri perjalanan menuju hotel saya dibuat takjub oleh keteraturan dan kebersihan kotanya, jauh dari bayangan saya selama ini. Dalam fikiran saya China adalah negara yang jorok, kotor dan semrawut karena penduduknya yang banyak. Tapi ternyata semua itu salah. Sistem yang sudah jalan dengan tertib di negara China membuat negara ini patut diacungi jempol.

Dan penilaian saya tentang China semenjak itu berubah. Jalan layang yang berlapis dan lebar, kanan kiri apartemen yang tinggi, bunga-bunga dan pohon menghiasi bangunan, jadi tidak terlihat terlalu gersang walaupun beton dimana-mana. Dengan penduduk sebanyak ini,  Penduduk China sampai milyaran namun China mampu menjalankan system dengan teratur. Sedikit saja pelanggaran polisi akan cepat bertindak.

Kamera pengawas yang ada dimana-mana membuat penduduknya tak bernyali untuk melanggar. Pertokoan grosir besar-besar dan megah tidak ada kaki lima layaknya di Indonesia seperti Tanah Abang di Jakarta yang bertebaran kaki lima, walau sudah diusir tetap saja menjamur lagi . Kalaupun ada itupun hanya dalam waktu sekejap akan menghilang karena tiba-tiba rombongan petugas berpakaian seragam yang sedang patroli akan mengusir dengan suara garangnya.

Jarang sekali saya melihat motor berseliweran layaknya Indonesia, Di sana tersedia ojek sepeda yang bisa disewa melalui aplikasi di gadget.  Mobil banyak tapi tidak sepadat Indonesia dan semua teratur dan rapi, taksi menjadi salah satu moda andalan, Taksi dengan armada  jadul dibanding Jakarta dengan armada terbaru. MRT, biasa disebut Metro dengan stasiunnya mudah dicapai dari manapun.

Dan sepertinya saya akan merindukan China untuk dikunjungi di lain waktu. Pusat perbelanjaan yang bikin ngiler dengan harga terjangkau rasanya pengen berlama-lama untuk shopping. Guangzhou kota nomor 3 terbesar di China, salah satu kota metropolitan dan pusat bisnis China bahkan dunia. Asal jangan menilai negara ini dari cara penduduknya memperlakukan toiletnya. Sungguh tidak manusiawi pokoknya hehehe,  jorok sekali.

Berjuang Mencari Makanan Halal

Travelling ke negara non muslim, mencari makanan halal adalah suatu perjuangan apalagi negara yang dituju adalah China yang terkenal dengan segala rupa bahan makanan tanpa batasan. Jangankan muslim, teman saya yang beragama budha dan vegetarian  juga butuh perjuangan tuk mendapatkan makanan jadilah restoran muslim menjadi salah satu pilihannya.  Beruntung saya sudah memiliki beberapa referensi restoran yang menjadi langganan adik selama bolak-balik ke Guangzhou. Sebenarnya informasi restoran halal di China juga bisa dengan mudah kita dapatkan di Google.

Salah satu restoran halal yang menjadi langganan kami adalah restoran Muslim di daerah Lanzou, berada di pinggiran pertokoan, berdekatan dengan jembatan penyeberangan membuat resto ini mudah ditemui, Lamien atau mie tarik adalah salah satu menu utamanya. Sambil menanti hidangan disajikan kita bisa menyaksikan lamien dibuat oleh chefnya dengan cara ditarik, diputar-putar. Bagi saya itu menakjubkan, butuh keahlian dan keterampilan yang tidak biasa.

Di Indonesia saya pernah melihat pembuatan Lamien/mie tarik tapi hanya di restoran-restoran di Mall dan harganya pasti mahal dan kehalalannya belum tentu terjamin. Selain itu  ada restoran Makkah,  berdekatan dengan Makkah terdapat restoran  Madinah  yang menyajikan makanan serba timur tengah yang lezat, ada musholla, yang susah sekali kita temukan di fasilitas umum China,  lokasi restoran ini berdekatan dengan pusat grosir jam.

Bagi yang kangen masakan Indonesia bisa menikmati sajian ala kampung halaman dengan menu yang lengkap dan rasa juga lumayan enak yaitu Pandan Restaurant. Menurut saya, porsi makanan yang disajikan lumayan besar, sehingga bisa dibawa pulang lumayan untuk bekal sarapan esok hari, hehehe menghemat euy. Godaan selera makan di China sangatlah besar, biasanya ada saja warung yang memajang aneka rupa masakan di etalase beraroma sedap dengan tampilan masakan yang menggoda tapi ternyata itu adalah babi panggang, waaaw!

Jaringan internet di China termasuk lancar apalagi jika kita membeli nomor lokal tentunya akan menghemat pulsa tapi jangan berharap bisa update status facebook ataupun buka google apalagi google map dengan nomor lokal. China memiliki batasan dan aturan yang ketat mengenai informasi dalam negara mereka, kita bisa menggunakan Bing alih-alih Google,  Whats app tidak terlalu familiar, WeChat yang  lebih popular dikalangan pebisnis disana.

Dengan WeChat langsung bisa terhubung dengan account bank sehingga mempermudah transaksi bisnis dari berbagai belahan dunia manapun. Tapi jangan kuatir untuk nomor Indonesia dengan operator Telkomsel facebookan dan googling bukanlah masalah walaupun harganya sangat mahal sekali.  Cukup pencet *288# pilih menu international roaming akan tersedia berbagai paket pilihan, tapi ya gituu siap-siap tagihan yang melonjak drastis.

Masjid Saad Bin Abi Waqash, Guangzho

Salahsatu yang selalu dicari saat ke negeri asing adalah Masjid. Di Indonesia di setiap kelurahan bisa dengan mudah kita menemui masjid dan itu hanya akan jadi impian jika kita berada di negeri non muslim apalagi negeri atheis seperti China. Alhamdulillah tempat penginapan kami lumayan dekat dengan Masjid Saad bin Abi Waqash, jadi sholat subuh pun diusahakan ke masjid walaupun berjalan sekitar 2 km.

Bagi pecinta sejarah, terutama yang penasaran dengan penyebaran Islam di negeri China. Nama sahabat Rosulullah, Saad bin Abi Waqash akan muncul di berbagai rujukan.

Banyak link menyajikan peran beliau dalam penyebaran agama Islam ke China mulai dari sebagai pimpinan rombongan semasa Rasulullah hidup, sekitar tahun 615 M dan kembali ke China lagi sebagai utusan setelah puluhan tahun kemudian di zaman khalifah Utsman bin Affan.

Perkembangan Islam utama bukanlah dari jalur perdagangan apalagi peperangan untuk menguasai suatu daerah tapi melalui jalur dakwah agama yang rahmatan lil alamin. Rosulullah menyebar utusan-utusan beliau ke penjuru dunia termasuk China. Kenapa harus sampai China? Dan baru saya memahaminya setelah membaca suatu artikel bahwa China merupakan pusat dunia dengan negara yang sangat luas dan penduduk yang buanyaaaaak sekali, kaya bahasa dan budaya yang komplit.

Masyaallah betapa ilmu Rosulullah melampaui batas pengetahuan manusia biasa.  Peradaban China telah berkembang jauh sebelum negara lain berkembang. Saya teringat guide kami bercerita bahwa ada jalanan beraspal yang menjadi catatan sejarah bagi China karena jalan tersebut sudah ada jauh hari sebelum negara lain memiliki teknik pembuatan aspal.

Kalaupun lebih terkenal di berbagai literatur bahwa Islam disiarkan melalui jalur perdagangan, itupun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. Contoh sederhananya adalah kapal yang semakin besar maka bisa dimanfaatkan untuk membawa barang perniagaan. Tapi tetaap tujuan utamanya adalah dakwah.

Saya merasa beruntung dapat mengunjungi Masjid Saad bin Abi Waqash di Guangzhou. Berada di komplek yang asri. Masjid ini bernuansa khas China. Komplek masjid ini terletak di pinggir jalan utama dekat stasiun kereta pusat kota Guang Zho, mudah menemukannya. Disamping masjid juga terdapat warung yang menjual barang halal. Dan setiap Jumat akan ada bazaar aneka masakan halal termasuk masakan Arab dan kadang pakaian muslim.

Di dalam kompleks yang sangat luas selain masjid, kantor pusat informasi dan pengembangan Islam juga terdapat taman nan indah, banyak ditemui maqam tokoh muslim China di sini, salah satunya dipercaya sebagai maqam Saad Bin Abi Waqash, walaupun ada riwayat lainnya bahwa beliau dimaqamkan di Madinah.

Berjalan-jalan di Guangzhou tidak lengkap rasanya jika tidak mencoba berkunjung ke Canton Tower, yang megah dan bewarna-warni di malam hari layaknya Monas. Pemandangan seluruh kota akan terlihat indah dengan kelap-kelip lampu aneka warna dari atas menara. untuk sampai  ke puncak tower dan bisa menyaksikan pemadangan Guangzho dari ketinggian tiketnyapun lumayan mahal sekitar 800 ribu jika dirupiahkan. Jembatan megah, menyeberangi sungai yang membelah kota indah menghiasi Guangzhou di malam hari dengan kemegahan cahaya lampunya.

Sayangnya waktu saya tidak cukup banyak berkeliling menikmati kota Guangzhou ala turis karena karena disambi dengan kerja. Di lain waktu saya akan mengajak keluarga untuk menikmati lebih jauh keindahan negeri tirai bambu ini termasuk berjanji untuk mengunjungi Great Wall yang telah mengisi imajinsi saya akan China.

Berada di negeri orang selalu membuat  saya merindukan tanah air. Makanan, keindahan alam, keramahtamahan penduduk, Indonesia adalah juaranya. Sejauh kaki melangkah, sejauh mata memandang negeri kita selalu yang terbaik dan dipuja sepanjang masa. Indonesia, you are paradise. Tidaklah mengherankan jika penduduk Kampong Jawa di desa Xuefeng, kota Quanzu provinsi Fujian yang dulunya adalah orang-orang China yang berasal dari Indonesia namun di masanya dikembalikan secara besar-besaran ke negeri China. Budaya dan bahasa Jawa masih lekat di desa ini, tak seorangpun akan bisa melupakan pesona Indonesia walaupun terusir dari negeri indah nan permai, Nusantara kita.

Tips dan Trik Travelling ke China

  1. Perhatikan jadwal keberangkatan, antrian di imigrasi kedatangan bandara Guangzho cukup melelahkan, sebaiknya selama di pesawat usahakan makan dan minum sehingga kuat untuk antri dalam keadaan berdiri lama.
  2. Simpan atau catat semua dokumen berhubungan dengan tempat tujuan dan orang akan kita temui. Bisa disimpan di foto atau berupa kartu dsb. Sebagai antisipasi jika tidak bisa berbahasa mandarin kita cukup memperlihatkan foto tersebut ke supir taksi.
  3. Siapkan makanan yang tahan lama untuk antisipasi sementara belum menemukan restoran halal.
  4. Nomor lokal dan paket data China termasuk murah dan mudah didapatkan.
  5. Sebelum keluar penginapan selama di China, usahakan minum dan ke toilet sepuas-puasnya karena bisa jadi tak akan kuat menerima kenyataan bahwa toilet di China sangat horor.

 

Kontributor: Widya Asman

Muat Artikel Dari Blogger Muslimah
Muat Lainnya Ragam

2 Komentar

  1. fadillatulnisa

    5 Januari 2018 at 10:39 am

    MANTAAAPH sis… (Y)

    Balas

  2. fadillatulnisa

    5 Januari 2018 at 10:41 am

    mantaaaph sis… enak dibacanya…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Lomba VLog Cheria Travel

So, buruan daftar di http://bit.ly/LombaBlogVlogKreatif ditunggu ya 😊 Assalamu’alaik…