Home Sosok Ummu Hani dan Lelaki yang Mencintainya

Ummu Hani dan Lelaki yang Mencintainya

2 Menit Durasi Baca
0
0
116

Fakhitah binti Abu Thalib yang lebih dikenal dengan nama Ummu Hani, merupakan saudari dari Ali bin Abu Thalib. Suatu hari datang seorang laki-laki yang meminta Abu Thalib untuk menikahkannya dengan Fakhitah, “Wahai Paman, nikahkanlah Fakhitah denganku,” pinta lelaki tersebut. Fakhitah dan lelaki tersebut sebenarnya saling menyukai, akan tetapi tidak ada yang mengetahui hal itu.

Abu Thalib menolak permintaan laki-laki tadi dan malah menikahkan Fakhitah dengan lelaki pilihannya. Abu Thalib menikahkan Fakhitah dengan Hubairah yang orang tuanya juga merupakan besan dari Abu Thalib. Laki-laki pertama yang melamar Fakhitah pun merelakan keputusan Abu Thalib. Ia ikhlas dengan takdirnya yang tidak berjodoh dengan Fakhitah, meskipun masih mencintai.

Fakhitah dan Hubairah dikaruniai beberapa orang anak, salah satunya bernama Hani. Itulah mengapa ia dikenal dengan nama Ummu Hani. Pada saat kejadian Fathu Makkah, semua orang berbondong-bondong masuk Islam, termasuk Ummu Hani. Sayangnya suami Ummu Hani tidak mau mengikuti istrinya masuk agama Islam. Maka Ummu Hani pun bercerai dengan suaminya. Pada kejadian Fathu Makkah itu, Ummu Hani mendatangi laki-laki yang melamarnya dahulu. Dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang lamarannya ditolak oleh Abu Thalib untuk menikahi Ummu Hani.

Nabi Muhammad dan Ummu Hani masih memendam rasa cinta masing-masing. Mengetahui Ummu Hani telah bercerai, Nabi Muhammad mencoba untuk kembali melamar Ummu Hani. Sayang, lagi-lagi Nabi Muhammad harus kecewa dengan penolakan yang ke dua kalinya. Alasan Ummu Hani menolak lamaran Rasulullah adalah karena ia takut jika nanti menjadi istri Nabi, ia akan mengganggu dakwah Rasul dan membuat Rasul tidak focus dalam berdakwah. Setelah mendapat penolak tersebut, Nabi Muhammad ikhlas dan mulai melupakan Ummu Hani.

Kisah cinta Nabi Muhammad dan Ummu Hani ini tidak ada yang tahu kecuali mereka berdua dan Allah subhanahu wata’ala. Karena sejatinya cinta memang tidak untuk diumbar hingga semua orang tahu. Dari kisah ini kita dapat belajar bagaimana cara mencintai dan mengelola rasa cinta, serta ikhlas menerima takdir yang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.

Jika dikaitkan dengan situasi masa kini, kebanyakan orang lebih senang mengumbar rasa cintanya, baik online maupun offline. Menuliskannya sebagai status di media sosial atau menceritakan ke semua orang yang dikenal. Tak hanya itu, orang pun bereaksi berlebihan hingga mencelakakan diri sendiri jika cintanya tertolak. Itu semua sebab kurangnya kedekatan kita kepada Allah Sang Maha Membolak-balikan hati. Maka sangat perlu sekali untuk menggantungkan cinta kita hanya pada Allah, bukan pada makhlukNya.

 

 

Muat Artikel Dari Nia Hanie Zen
Muat Lainnya Sosok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Mendidik Anak Berdasarkan Fitrahnya

Judul               : Ibuku Adalah Sekolah Terbaikku Penulis             : Dian Kusumaward…