Home Kajian Fiqih Puasa Ramadhan (1): Rukun Puasa

Fiqih Puasa Ramadhan (1): Rukun Puasa

2 Menit Durasi Baca
0
0
94

Sobat muslimah, tak terasa bulan suci Ramadhan akan segera tiba. Kurang lebih satu bulan lagi insyaallah kita akan menyambut bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Semoga Allah SWT menakdirkan usia kita sampai di bulan Ramadhan dan dapat menjalani ibadah di bulan tersebut dengan maksimal.

Nah, untuk menyambut bulan Ramadhan, hal-hal apa saja yang perlu dipersiapkan? Selain persiapan fisik dan materi, kita juga perlu meng-upgrade ilmu tentang apa-apa saja yang berkaitan dengan bulan Ramadhan.

Untuk itu, mari kita tengok lagi ilmu apa saja yang harus diketahui untuk menjalani puasa di Ramadhan. Fiqih puasa sangat penting untuk dipelajari lagi, salah satunya tentang rukun puasa. Rukun puasa yang harus dipenuhi sebelum menjalani puasa Ramadhan ada dua, yaitu niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

  1. Niat

Niat puasa wajib berbeda dengan niat puasa sunnah. Puasa sunnah tidak harus diniatkan sejak malam, asal belum makan dan minum sejak subuh, kita bisa tetap menjalankan puasa sunnah meskipun baru meniatkannya di pagi hari. Seperti kisah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika beliau mengunjungi rumah Aisyah dan menanyakan apakah ada sesuatu untuk dimakan, Aisyah menjawab tidak ada. Maka sejak itu Nabi Saw. pun meniatkan hari itu untuk berpuasa. Sedangkan waktu itu hari sudah menjelang siang.

Berbeda dengan puasa sunnah, puasa wajib justru harus diniatkan sejak malamnya, yaitu di antara magrib hingga menjelang subuh. Agar tidak lupa, lebih baik kita berniat di malam harinya. Niat boleh dilafalkan dengan lisan atau hanya dalam hati saja.  Lafadz-nya tentu kita semua sudah hafal, bahkan anak-anak kita pun sudah mempelajari dan menghafal niat puasa wajib ini sejak kecil.

Niat puasa wajib harus dilafalkan dengan jelas dan spesifik, “Ya Allah hamba berniat untuk berpuasa wajib di bulan Ramadhan tahun ini hanya karnaMu lillahi ta’ala.”

Ada pertanyaan, “Apakah boleh berniat satu kali saja di awal Ramadhan untuk satu bulan ke depan?”

Menurut mazhab Hanafi hal itu boleh saja dilakukan, hanya saja jika di tengah-tengah ternyata kita batal puasanya, kita harus mengganti puasa sejak hari pertama yang telah dikerjakan sebelumnya. Karena niat yang dilafalkan di awal Ramadhan adalah untuk satu bulan, jadi jika batal di tengah-tengah harus menggantinya dari awal.

Jadi, untuk lebih aman lebih baik kita perbarui niat puasa setiap hari di malam bulan Ramadhan.

  1. Puasa sejatinya menahan diri dari dua syahwat, yaitu syahwat perut dan kemaluan. Jika kita melanggar salah satu atau keduanya, maka puasa kita batal dan harus mengganti puasa di bulan lainnya.

Mengenai hal-hal yang membatalkan puasa, akan dibahas di tulisan selanjutnya di website tercinta kita ini. Stay tune!

Muat Artikel Dari Nia Hanie Zen
Muat Lainnya Kajian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Mendidik Anak Berdasarkan Fitrahnya

Judul               : Ibuku Adalah Sekolah Terbaikku Penulis             : Dian Kusumaward…