Home Kajian Fiqih Puasa Ramadhan (2): Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

Fiqih Puasa Ramadhan (2): Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa

2 Menit Durasi Baca
0
0
70

Mungkin kita semua sudah mengetahui hal-hal apa saja yang membatalkan puasa, tapi tidak ada salahnya kita upgrade lagi ilmu seputar puasa Ramadhan yang sebentar lagi datang menyapa.

Ulama membagi perkara yang membatalkan puasa ke dalam lima hal:

  1. Makan dan minum dengan sengaja

Seperti yang kita tahu, puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan berhubungan suami istri sejak waktu subuh hingga magrib. Maka, akan batallah puasa kita apabila makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan, dan harus menggantinya nanti di bulan lain.

Lain halnya bila lupa. Misalnya, orang yang tidak pernah mengerjakan puasa sunnah, ia hanya berpuasa di bulan Ramadhan saja. Di hari pertama puasa Ramadhan, tiba-tiba siang hari setelah bangun tidur, dia makan dan minum, sedangkan ia tidak ingat jika itu adalah bulan Ramdhan dan ia sedang berpuasa. Maka, orang yang lupa seperti itu boleh melanjutkan puasanya. Adapun makanan dan minuman yang telah dikonsumsi tadi merupakan rezeki dari Allah.

Selain itu, hendaknya kita selalu hati-hati dalam menentukan waktu magrib dan sahur. Jangan sampai keliru. Pastikan betul jika waktu berbuka sudah tiba atau belum dan selalu berhati-hati waktu imsak hingga subuh. Jangan sampai karena keliru menentukan waktu magrib atau imsak, puasa kita jadi batal dan akhirnya harus mengganti di bulan lain.

  1. Muntah dengan sengaja

Sebagai contoh misalnya kita sedang masuk angin dan akan lebih lega jika dimuntahkan, kemudian kita berusaha memuntahkan dengan memijit leher atau sekitar kepala dengan maksud untuk mengeluarkan muntah, maka hal itu akan membatalkan puasa dan harus menggantinya di bulan lain. Sedangkan apabila muntah tanpa sengaja atau dengan spontan tanpa rangsangan apa pun, maka puasanya boleh dilanjutkan.

  1. Haid dan nifas
  2. Keluar air mani dengan sengaja
  3. Berhubungan suami istri di siang hari

Bagi yang melanggar larangan ini akan dikenai kafarat, yaitu berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Menurut Imam Syafii, hanya suami yang berkewajiban mengganti puasa selama dua bulan, sedangkan istri tidak. Sementara menurut Imam Hambali, Hanafi dan Maliki, suami dan istri berkewajiban berpuasa dua bulan berturut-turut tergantung dari alasan atau sebab mengapa mereka berhubungan intim di siang hari bulan Ramadhan.

Apabila setelah dicoba dengan usaha yang maksimal untuk puasa selama dua bulan berturut-turut ternyata tidak sanggup atau gagal, gantinya adalah memberi makan 60 orang miskin atau satu orang miskin selama 60 hari.

 

Jadi, marilah kita selalu berhati-hati dan patuhi apa yang Allah perintahkan dan larang, agar ibadah kita berjalan dengan lancar dan optimal. Hindari hal-hal yang membawa pada peluang membatalkan puasa.

 

Muat Artikel Dari Nia Hanie Zen
Muat Lainnya Kajian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Tebarkan Cahaya Islam Pada Dunia

Judul                           : Telling Islam to the World Penulis                      …